Keunikan Air Tiga Rasa di Sumatera Barat

ARASYNEWS.COM – Dunia menyimpan hal-hal yang aneh dan menimbulkan tanda tanya, salah satunya air dengan rasa yang berbeda. Air ini dikenal dengan nama Aia Tigo Raso, begitulah warga menyebutnya. Disebut demikian karena dalam satu kolam tercampur tiga rasa yaitu rasa manis, asam dan pahit.

Dan hasil dari penelitian disimpulkan bahwa air ini memiliki khasiat yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit dan diyakini juga bisa menyembuhkan penyakit lainnya.

Aia tigo raso (air tiga rasa) terletak di Kabupaten Agam Sumatera Barat, di Jorong Muko-muko, Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya. Lokasinya dekat kawasan danau Maninjau, Kelok 44, Ambun Pagi, Lawang, Pantai Tiku. Bisa dibilang, ini merupakan objek wisata yang paling unik yang ada di Kabupaten Agam.

Salah satu hal yang membuat Aia Tigo Raso menarik adalah variasi rasa yang membuat indera perasa kita bereaksi. Setelah mencicipi, pengunjung akan merasakan tiga sensasi rasa yang berbeda.

Sensasi pertama yang akan dirasakan adalah sedikit rasa manis, memberikan nuansa segar yang membuat pengunjung ingin mencobanya lebih banyak. Selanjutnya, air akan memberikan rasa sepat yang diiringi dengan sedikit pahit, menambah kompleksitas pengalaman untuk mencicipinya. Terakhir, sensasi rasa asam memberikan sentuhan akhir yang menyegarkan, menjadikan pengalaman ini semakin menarik.

Aia Tigo Raso memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi para pelancong, terutama bagi mereka yang ingin merasakan keunikan alam. Pengunjung dapat menikmati suasana yang tenang sambil menjelajahi sensasi rasa yang berbeda dari air kolam tersebut.

Asal mula

Dibalik keberadaan “Air Tiga Rasa” tersebut, tidak sedikit orang yang ingin tahu akan asal-usul terjadinya air yang disebut fenomenal itu.

Adapun tempat keberadaan air ini berada di lahan Tandoriah, pemilik tanah air tigo raso. Berukuran 1×2 meter persegi.

Diceritakan dahulunya pada tahun 70-an di jorong muko-muko terdapat warga Nias yang merantau kesana, termasuk dilingkungan tempat tinggalnya.

Suatu hari, salah seorang warga Nias mengatakan kepada Tandoriah sang pemilik tanah, bahwa terdapat setumpuk gelembungan air yang bersumber dari tanah terdapat dibelakang rumahnya dengan mengeluarkan asap dengan suhu panas.

“Buk, kok air ini terlihat aneh, sepanjang yang saya ketahui belum ada segumpalan air dengan suhu panas seperti ini,” kata seorang warga Nias tersebut yang tidak diketahui namanya. Tandoriah kemudian menjawab, ” Iya, mungkin itu karena suhu cuaca makanya begitu, “ungkapnya dengan nada tenang, seakan tidak percaya.

Dikatakan Tandoriah, malam harinya dia mendapatkan mimpi ditemui oleh orang berkuda putih dan seekor harimau putih yang katanya didalam mimpi itu, bahwa mereka adalah penjaga air tersebut.

“Jangan sekali-sekali untuk mengotori bahkan merusak air ini, jagalah selalu, karena, suatu saat air ini akan memberikan barokah terhadap umat manusia, “ungkap Tandoriah dengan semangatnya mengejakan perkataan orang berkuda putih dalam mimpinya tersebut.

Namun, selang beberapa hari kemudian isu tersebut merebak hingga kepelosok Maninjau dan Lubuk Basung. Suatu hari, ada seorang warga dari Sigiran mendapat penyakit kudis yang sulit untuk disembuhkan, dengan merebaknya isu tersebut, dia kemudian berkunjung ke rumah Tandoriah untuk mengusapkan air tersebut ke penyakit yang dideritanya.

Berselang beberapa hari kemudian, penyakit yang dideritanya sembuh total dan tidak kembali lagi. Begitupun warga Medan yang pernah menderita kebutaan, dan dengan kuasa-Nya dapat melihat lagi.

Tandoriah semakin bertanya-tanya, kenapa tiap orang berobat sembuh dan ironisnya kesembuhan orang tersebut berkaitan dengan mimpi yang dialaminya.

Suatu ketika, dia ingin mencoba merasakan rasa dari dikandung air tersebut. Dengan rasa keberanian, dia mencobanya dengan meminumnya beberapa kali cekukan, ternyata tandoriah merasakan air yang selama ini dapat menyembuhkan penyakit orang, memiliki tiga rasa, yakni manis, asin, dan pahit. Dengan begitu, dia dan bersama masyarakat memberi nama “Aia Tigi Raso”.

Dengan keanehan itu, beberapa orang yang berada dilingkungan itu, memberitahukan kepada Pemerintah setempat, untuk merawat dan memberikan sarana seperti pagar untuk menghindar terjadinya pencemaran terhadap air tersebut.

Diungkapkannya juga, sejak pertama kali viral, banyak pengunjung yang datang baik untuk sekedar mencoba atau juga meneliti.

Tempat ini telah dijadikan objek wisata dan dibangun pagar disekelilingnya oleh bantuan pemerintah.

Meskipun terlihat biasa pada pandangan pertama, kolam ini menyimpan keistimewaan yang patut untuk dieksplorasi.

Kolam ini mungkin tidak terlalu besar, tetapi daya tariknya terletak pada sensasi unik yang ditawarkan oleh air dari beberapa sumber mata air yang mengalir ke dalamnya.

Tempat ini diharapkan dapat lebih diperbaharui dan dilestarikan untuk menjaga air dan keindahan alam di kawasan ini.

[]

Sc. Humas Setda Agam

You May Also Like