Ketua MUI Protes Ditutupnya Masjid dan Mushalla: Yang Dilarang Itu Berkerumun

ARASYNEWS.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) merasa keberatan dengan aturan ditutupnya rumah ibadah selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat

“Rumah ibadah memiliki fungsi yang sangat penting untuk masyarakat di masa darurat pademi Covid-19 sekarang ini,” kata Ketua MUI, Cholil Nafis, dalam keterangan yang dikutip pada Senin (5/7/2021).

Menurutnya, kegiatan yang ada di masjid atau musala berbeda dengan kerumunan di tempat-tempat umum yang tujuannya untuk kebaikan.

“Yang dilarang itu berkerumun (dalam arti secara umum),” ujar Cholil Nafis dalam akun Twitternya, Sabtu, 3 Juli 2021.

Ia menyarankan pemerintah untuk mengkaji ulang penutupan rumah ibadah, khususnya masjid atau musala. Karena menurutnya, di tempat itulah bisa dibuat posko bantuan sosial maupun ekonomi.

“Perlu juga masjid dan mushalla jadi pusat penanganan mental umat melalui edukasi dan penjelasan ulama, serta jadi sentra ekonomi dengan pemanfaatan infaq dan sedekah amal umat,” tuturnya.

Aturan mengenai penutupan rumah ibadah termaktub di dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) 15/2021 tentang tentang PPKM Darurat Covid-19 di Wilayah Jawa dan Bali. Beleid tersebut merupakan aturan pelaksanaan PPKM Darurat Jawa-Bali yang berlangsung 3-20 Juli 2021. []

You May Also Like