ARASYNEWS.COM – Pasca bencana banjir dan longsor yang melanda pulau Sumatera sejak akhir bulan November, membuat kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan bagi masyarakat. Bencana yang merenggut hampir seribu orang ini dan ratusan orang yang hilang belum ditemukan membuat orang-orang takut dan lebih waspada.
Longsoran tanah dan tumbangnya pohon-pohon serta sesuatu yang lainnya bisa saja akan terjadi karena labilnya kontur tanah akibat terus diguyur hujan.

Baru-baru ini, kejadian yang aneh terjadi di Jorong Gantiang, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, kabupaten Tanah Datar provinsi Sumatera Barat. Penampakan ini membuat warga khawatir.
Fenomena unik, aneh dan jarang ditemukan di Tanah Datar Sumatera Barat terlihat pada aliran salah satu anak sungai di wilayah mereka. Kejadian itu pertama kali disadari warga pada Jum’at (5/12).
Anak sungai yang tidak besar itu pada bagian hulu terlihat normal dan cukup deras. Namun pada bagian bawahnya, aliran tersebut mendadak kering, seolah terputus di tengah jalur anak sungai.
Adapun anak sungai itu dipenuhi dengan bebatuan besar dan kecil. Aliran air menghilang ke dalam perut bumi dibalik beberapa batu besar.
Dugaan warga, air menghilang masuk ke rongga baru atau celah di dasar aliran anak sungai.

“Air dari hulu deras, tapi di bawahnya kering. Seakan-akan air itu hilang ke dalam tanah. Kami tidak tahu alirannya sekarang mengarah ke mana,” ujar salah seorang warga dalam rekaman video yang diunggah ke media sosial.
Tentunya, hal ini menimbulkan kekhawatiran akan pertanda kemungkinan yang akan terjadi. Masyarakat berharap fenomena ini bukan merupakan pertanda buruk bagi lingkungan sekitar, terutama mengingat kondisi di kawasan Tanah Datar yang rawan longsor dan pergerakan tanah.
Keterangan ahli geologi
Dalam keterangan dari salah seorang ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, dugaan sementara aliran air anak sungai yang terputus dan masuk ke tanah, berkemungkinan daerah itu merupakan kawasan bukit kapur.
“Nah, kalau ada sungai yang airnya hilang, ya itu biasanya terjadi pada daerah-daerah kawasan bukit kapur. Kawasan bukit kapur itu kan mudah mengalami pelarutan,” dikutip dari keterangan Ade Edward.
Ade menjelaskan fenomena air sungai yang tiba-tiba putus atau masuk ke dalam tanah di luar aliran biasanya dikenal sebagai peristiwa hilangnya aliran sungai.
Dalam banyak kasus, terang Ade, hal ini terkait dengan pembentukan lubang runtuhan (sinkhole). Ini gejala geologis yang umum terjadi di daerah dengan karakteristik tertentu.
Ade mengatakan, pada umumnya di kawasan bukit kapur terdapat rongga, sehingga aliran sungai yang terputus masuk ke dalam yang kemudian membentuk sungai bawah tanah. Dan itu memang karakter daerah perbukitan yang banyak kapur.
Meskipun demikian, ia mengatakan butuh kaji cepat di lokasi tersebut untuk memastikan fenomena alam itu. Sebab, dikhawatirkan kondisi itu bisa membahayakan masyarakat terutama jika ada pemukiman di bawah aliran sungai.
Munculnya fenomena seperti ini pasca bencana hidrometeorologi karena adanya peningkatan curah hujan dan menyebabkan pergerakan tanah.

Daerah lainnya di Sumatera Barat
Untuk diketahui, proses alami yang terjadi tentang muncul dan menghilangnya air hingga membentuk danau dapat terlihat di Agam, yakni tepatnya di danau Tarusan Kamang. Air danau menghilang dan muncul tiba-tiba hingga penuh kembali.
Pada musim tertentu, padang rumput yang luas di daerah tersebut terkadang bisa penuh dengan air dan membentuk danau yang luas dan juga terdapat pulau ditengahnya. Dan pada musim lainnya tidak terlihat air menggenangi.
Fenomena ini bukan hal yang baru, telah ada ratusan tahun lalu dan hingga kini. Air tersebut meresap dan menghilang ditelan bumi masuk ke dalam rongga-rongga bebatuan dibawah bukit. Dan kemudian juga dapat menggenangi kembali.
Dan bahkan juga populasi hewan air yang ada di danau tersebut yang juga ikut dalam proses alami ini.
Menurut ilmiah
Istilah untuk air yang masuk ke dalam tanah dan menghilang adalah infiltrasi atau perkolasi.
Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan tanah ke dalam tanah. Ini adalah langkah awal dalam siklus air di mana air hujan atau air irigasi meresap ke dalam pori-pori tanah.
Perkolasi mengacu pada pergerakan air yang lebih dalam melalui lapisan-lapisan tanah dan batuan yang jenuh, biasanya bergerak menuju muka air tanah (groundwater table).
Singkatnya, infiltrasi adalah pintu masuk air ke dalam tanah, sedangkan perkolasi adalah pergerakan air di dalam tanah ke lapisan yang lebih dalam.
Secara umum, ini dikenal dengan siklus hidrologi. Dan secara umum, proses meresapnya air ini merupakan bagian penting dari proses hidrologi atau daur ulang air di muka bumi ini.
Proses ini kerap dikaitkan dengan manajemen daerah aliran sungai (DAS) untuk beberapa wilayah, terutama dalam menentukan daerah mana yang sebaiknya untuk dijadikan sebagai daerah resapan atau daerah terbangun.
Aliran air ini dapat bergerak menuju ke dalam tanah karena adanya aksi kapiler yang memiliki gerakan secara vertikal atau horizontal di bawah permukaan tanah hingga akhirnya air tersebut berhasil memasuki kembali sistem air permukaan.
Sementara itu, dengan adanya pengaruh dari gaya gravitasi, maka air tentu saja akan masuk ke dalam tanah melalui pori-pori tanahnya. Lanjutan proses dari infiltrasi ini adalah perkolasi.
[]