Gunung di Sumbar yang Terbelah Menjadi Dua dan Sudah Lama Tidak Aktif

ARASYNEWS.COM – Gunung Sago adalah sebuah Gunung yang terletak di perbatasan daerah kecamatan Lareh Sago Halaban, Luhak, Situjuh Lima Nagari, kabupaten Lima Puluh Kota dan Lintau Buo Utara, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

Tidak banyak yang mengenal gunung ini. Akan tetapi dahulu kala pernah sangat menakutkan.

Gunung Sago adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif, meskipun dulu sempat menjadi salah satu gunung aktif. Akan tetapi tidak diketahui apakah gunung ini benar-benar sudah tidak aktif atau hanya tidur sesaat.

Gunung Sago memiliki ketinggian mencapai 2.261 mdpl. Gunung ini memiliki kaldera mati yang terbuka ke arah Lintau, dan kaldera ini jelas terlihat dari Lintau.
Dari Kaldera inilah berhulu Sungai Batang Tampo yang airnya mengalir ke daerah Lintau. Dari Lintau, Gunung Sago akan terlihat seperti dua dan disambung oleh tebing kaldera yang disebut juga Sago Malintang.

Kaldera Gunung Sago

Gunung Sago di perbatasan Limapuluh Kota dan Tanah Datar, Sumatera Barat, memiliki Kaldera yang sangat luas, yakni mencapai 10 kilometer. Kaldera gunung ini termasuk kaldera mati, dan sudah ditumbuhi banyak pepohonan.

Gunung Sago sendiri juga terbilang sepi dan minim informasi seputar pendakian. Hal ini ditegaskan dengan kondisi geografis yang rapat. Puncaknya berupa dinding kaldera yang luas. Kaldera mati Gunung Sago juga diberi nama yaitu kaldera Tingga.

Dikabarkan Akan Aktif Kembali

Beberapa tahun lalu, masyarakat dikejutkan dengan fenomena alam seperti adanya gempa, hujan es, dan bahkan juga kepulan asap hitam yang ditimbulkan dari gunung. Bahkan ada juga yang mengatakan hal itu datang dari Gunung Sago.

Gunung Sago ini dikabarkan mulai menggeliat dan mengeluarkan kepulan asap hitam dengan catatan ketinggian 2.262 meter. Dan kondisi saat itulah yang membuat masyarakat disekitar meningkatkan kewaspadaan.

Mulainya peningkatan aktivitas di Gunung Sago mengingatkan kembali, bahwa masih ada beberapa gunung api di Sumbar yang masih tidur. Seperti Gunung Singgalang yang berketinggian 2.872 meter, Gunung Pasaman yang berketinggian 1.984 meter dan Gunung Talamau yang berketinggian 2.918 meter.

Tentang Gunung Sago, Kabid Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, pernah menyatakan bahwa GuĀ­nung Sago termasuk gunung yang aktif dan telah tercatat di pusat geologi Sumatera Barat.

Gunung Sago tercatat bergejolak sejak tahun 1600-an dan aktif seperti Gunung Marapi, Tandikek, Talang yang ada di Sumatera Barat.

Untuk bisa mendaki Gunung Sago, bisa manfaatkan tiga jalur. Tetapi jika ingin mendaki Gunung Sago ada hal penting yang harus diingat bahwa Gunung Sago tidaklah jauh berbeda dengan gunung-gunung lain.

Ada beberapa larangan dan panduan mendaki yang tidak boleh dilanggar oleh para pendaki dengan alasan apapun. Alasannya karena kesemuanya terkait dan berhubungan dengan kenyamanan dan keamanan selama dan saat mendaki.

Berbeda dengan gunung-gunung lain yang ada di Indonesia yang bisa didaki pada malam hari, sedangkan pihak pengelola Gunung Sago menutup jalur pendakian jam 4 sore.

Peraturan dan keputusan ini bukan tanpa alasan karena Gunung Sago merupakan habitat binatang buas seperti Harimau Sumatera dan beruang sehingga sangat berbahaya jika mendaki pada malam hari.

Jalur Sikabu Kabu
jalur ini paling sering digunakan oleh para pendaki, karena akses yang dilalui tidak sulit dan dapat juga dengan menggunakan kendaraan roda dua atau empat mencapai posko pelaporan pintu masuk pendakian, yakni pos Kayu Kolek.

Setelah berjalan dari Pos Kayu Kolek, lanjutkan perjalanan untuk menuju ke shelter Galanggang Hantu sekitar 1,5 jam perjalanan. Kemudian, lanjutkan perjalanan untuk menuju Puncak Robuang yang memiliki jarak tempuh 2 jam perjalanan.

Untuk mencapainya, kamu akan memasuki hutan-hutan yang didalamnya banyak terdapat lumut dan tidak terdapat sumber air.

Jalur Situjuah Gadang
Rute kedua yaitu dari Nagari Situjuah Gadang Kabupaten Limapuluh Kota, dari rute jalur ini, nanti di puncaknya akan di temui batu besar. Oleh karena itu puncaknya dikenal dengan”Puncak Batu”. Disekitar batu besar ini kita dapat mendirikan tenda. Rutenya lumayan panjang dengan sumber air yang agak susah.

Jalur Sibaladuang
Rute ketiga via Sibaladuang. Rutenya menengah, lebih panjang dari rute via Sikabu kabu tetapi, lebih singkat dari rute via Situjuah. Sumber air rute ini paling mudah, karena rutenya memang melewati aliran air tapi, cuma satu, sama juga dengan yang lainnya. Rute ini selanjutnya menuju Puncak Robuang jadi, nanti ada persimpangan diatas ketemu dengan rute Sikabu kabu.

[]

You May Also Like