ARASYNEWS.COM – Bencana kabut asap sudah dikisahkan dalam Al-Qur’an, dan disebut dengan “Dukhan”.
Salah satu ayat yang menyebutkan terdapat dalam surah Ad-Dukhan (44) ayat 10-12.
فَٱرْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ
fartaqib yauma tatis-samāu bidukhānim mubīn
Artinya. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, (10)
يَغْشَى ٱلنَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ
Arab-Latin: yagsyan-nās, hāżā ‘ażābun alīm
Artinya. yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (11)
رَّبَّنَا ٱكْشِفْ عَنَّا ٱلْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ
rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu`minụn
Artinya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”. (12)
Ayat dalam surah ini sering dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman atau kiamat. Ayat-ayat ini menyebutkan tentang hari ketika langit akan mendatangkan “kabut asap yang jelas” yang meliputi manusia. Kabut ini digambarkan sebagai azab yang pedih.
Dukhan bisa dimaksudkan dengan beberapa hal, baik itu kekeringan, banjir, dan bencana alam lainnya.
Sementara itu, eberapa ulama menafsirkan dukhan sebagai bencana alam seperti kabut asap tebal yang disebabkan oleh peristiwa alam yang dahsyat, seperti meteorit yang jatuh atau perang nuklir.
Dukhan juga sering dikaitkan dengan tanda-tanda akhir zaman atau kiamat. Kabut asap ini dianggap sebagai salah satu peristiwa besar yang akan terjadi sebelum hari kiamat.
Dalam masa Rasulullah SAW, bencana kabut atau asap bahkan menyebabkan kelaparan yang menimpa kaum Quraisy
Kala itu kaum Quraisy menentang Rasul, mereka tidak mau beriman, sombong dan mengingkari kebenaran sehingga Nabi Muhammad berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk jalan bagi mereka. Dan Allah menimpakan kepada mereka kemarau seperti yang menimpa bangsa Mesir pada zaman Nabi Yusuf.
Allah juga menurunkan kepada mereka bencana kelaparan yang dahsyat sehingga mereka saat itu akhirnya memakan bangkai dan tulang, serta diturunkan pula kabut asap di antara langit dan bumi.
Seperti tertuang dalam Ad-Dukhan ayat 10 dan 11 yang berbunyi, “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata (10). Yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih (11).
Kaum yang ingkar itu akan tetap berada dalam kondisi seperti ini sampai mereka bertobat dan meminta kepada Rasul agar Beliau berdoa kepada Allah untuk menghilangkan azab itu dari mereka.
Lalu Rasul pun berdoa agar Allah menghilangkan azab itu. Kemudian diturunkan firman Allah,
إِنَّا كَاشِفُوا۟ ٱلْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَآئِدُونَ
innā kāsyiful-‘ażābi qalīlan innakum ‘ā`idụn
Artinya. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).” (QS. Ad-Dukhan: 15)
Melalui ayat tersebut diberitahukan, jika Allah akan menghilangkan bencana tersebut mereka akan kembali ingkar.
Dan Allah akan menghukum mereka dengan azab yang lebih besar, sebagaimana yang tertuang pada ayat selanjutnya, yakni Ad-Dukhan: 16.
يَوْمَ نَبْطِشُ ٱلْبَطْشَةَ ٱلْكُبْرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ
yauma nabṭisyul-baṭsyatal-kubrā, innā muntaqimụn
Artinya. (Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan. (QS. Ad-Dukhan: 16)
[]