Beberapa Lokasi Bekas Tambang yang Ditinggalkan, Kini Jadi Destinasi Wisata

ARASYNEWS.COM – Ada banyak destinasi wisata alam yang bisa dikunjungi di provinsi Sumatera Barat. Beberapa diantaranya merupakan peninggalan pada zaman dahulu.

Destinasi wisata ini merupakan peninggalan tambang yang dahulunya pernah digali pada zaman penjajahan. Tapi beberapa diantaranya tidak lagi dipakai dan ditinggalkan begitu saja.

Tempat-tempat ini menyisakan goa, cekungan, dan bangunan kuno.

Tapi kini tempat-tempat yang ditinggalkan itu dimanfaatkan sebagai objek wisata setelah mendapat sedikit pemugaran.

Tempat itu pun kemudian menjadi daya untuk berswafoto, dan diunggah ke berbagai media sosial hingga viral dan ramai dikunjungi para wisatawan.

  1. Gunung Harun, Salido, Kabupaten Pesisir Selatan

Tempat ini merupakan tambang emas bekas peninggalan VOC di Desa Salido Ketek, Nagari Tambang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Tempat ini dikenal dengan nama Tambang Salido atau Tambang Gunung Arum.

Temuan kandungan emas pada tahun 1669. Dan pada tahun 1928, Tambang Salido ditutup yang disebabkan oleh keborosan dan terjadinya kekacauan administrasi.

Dulunya, orang dari berbagai bangsa sampai ke puncaknya untuk mendapatkan emas. Dan hingga kini masih saja ada orang yang mencari keberuntungan untuk mendapatkannya.

Hingga kini, bekas kegiatan-kegiatan penambangan masih terlihat di Desa Salido Ketek dan menjadi salah tujuan wisata para pengunjung.

Hanya saja untuk menjajal tempat ini perlu diperhatikan keselamatan dan keamanan diri. Jangan asal panjat saja karena bagaimanapun tempat ini bekas tambang.

  1. Tambang Batu Bara Ombilin di Sawahlunto.

Tambang ini dimiliki oleh PT Bukit Asam Tbk., ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 6 Juli 2019. Merupakan situs tambang batubara tertua di Asia Tenggara. Berada di Lembang pegunungan Bukit Barisan. Tambang ini merupakan satu-satunya tambang batu bara bawah tanah di Indonesia.

  1. Lubang Mbah Soero, Sawahlunto

Lobang ini berada di kota Sawahlunto yang merupakan kota bekas tambang batubara terbesar di pulau Sumatera.

Ada beberapa lobang bekas tambang yang bisa dikunjungi di wilayah ini yang salah satunya yang terkenal dan direkomendasikan adalah lobang tambang Mbah Soero.

Lokasi wisata satu ini merupakan wisata edukasi, untuk memasuki lubang tambang Mbah Suro kita membayar sekitar Rp. 7.000 dan kita akan di berikan perlengkapan safety untuk memasuki lubang tambang beserta pemandu yang akan menjelaskan sejarah dan fungsi lubang tambang mbah suro dahulu.

Lubang Mbah Suro merupakan destinasi wisata edukasi di Sumbar dan sudah dikelola oleh Pemko Sawahlunto.

  1. Danau Biru, Sawahlunto

Danau Biru berlokasi di daerah Parambahan, dekat Kota Sawahlunto. Lokasi ini terbuka dan berada dalam lingkungan proyek tambang batubara.

Danau Biru ini merupakan cekungan yang terbentuk dari bekas galian tambang batubara. Dikenal juga dengan nama Danau Kandi.

Untuk menuju kesana kita harus menyiapkan kendaraan yang bisa melewati rute jalan seperti ini, karena setelah melewati Kebun Binatang Kandi. Untuk mencapai lokasi ini berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat kota Sawahlunto.

Danau Biru bukan lokasi wisata yang di kelola pemerintah. Tapi untuk mencapai tepian air danau perlu ekstra hati-hati, karena akses jalannya masih belum diaspal dan berkerikil.

  1. Danau Hijau, Kabupaten Sijunjung

Danau Hijau terletak di ujung Nagari Bukit Bual, kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Lokasi danau hijau ini cukup jauh dari pusat, kita-kira sekitar 15 menit dari Tanjung Ampalu, dan 45 menit dari Muaro Sijunjung.

Seperti namanya, danau ini terlihat berwarna hijau. Awalnya danau ini hanya sekadar genangan air di tengah bukit akibat galian bekas tambang.

  1. Goa Kelelawar Padayo di Indarung, Padang

Goa ini sebenarnya bukan bekas galian tambang, tetapi berdekatan dengan bekas tambang. Goa Kelelawar Padayo terletak di Bukit Padayo, Kelurahan Indarung, Padang.

Goa yang berada di kawasan perbukitan Indarung ini telah dipersiapkan menjadi destinasi wisata baru di Kota Padang, “New Tourism Attraction” sejak tahun 2024.

Untuk sampai ke titik Goa itu, pengunjung harus memasuki pintu atau gerbang utama PT Semen Padang.
Kemudian harus menyusuri jalan utama PT Semen Padang menuju Bukit Padayo, Kelurahan Indarung sekitar tiga kilometer.

Lokasi goa ini berada pada ketinggian sekitar 100 mdpl. Dan pemandangan bentangan kota Padang dan laut serta pulau-pulau terlihat jelas dari tempat ini.

Untuk sampai ke mulut Goa, pengunjung harus berjalan kaki menempuh turunan Bukit Padayo ke arah timur sekitar 400 meter. Akses jalan yang ditempuh adalah jalan setapak yang hanya berpijakan pada tanah bukit dan rerumputan.

Pengunjung juga akan disapa dengan dua anak air kecil yang sangat jernih.

Pada mulut goa, terlihat batuan bergerigi dan berpola bergantungan seperti tirai.

Goa ini dilengkapi bebatuan dengan kisaran luasan 500 meter persegi.

Karst yang ada goa diperkirakan berusia sekitar 365 juta tahun.

Tidak jauh dari pintu masuk, di atas langit-langit Goa dengan ketinggian sekitar empat meter, bergelantungan makhluk nokturnal, kelelawar.

Stalaktit dan stalagmit yang menjadi rumah bagi berbagai spesies, termasuk kelelawar yang wajib dilindungi untuk konservasi

Sejumlah ornamen khas goa yakni stalagmit dan stalaktit terbentuk seperti tetesan lilin yang mencuat dan tersebar di beberapa sudut goa dengan beraneka macam, berkilau dan dengan bentuk yang indah.

  1. Taman Ekowisata berbasis air, Padang Pariaman

Lahan ini tengah di proses menjadi taman ekowisata berbasis air. Sebelumnya kegiatan tambang galian C dimulai pada tahun 2014 dan kemudian terhenti karena dianggap merusak lingkungan.

Tempat ini berada di Nagari Balah Hilia, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman,

Kawasan tambang galian C itu, disulap jadi kawasan yang indah dan dipersiapkan jadi Lahan Akses Terbuka atau Taman Ekowisata Berbasis Air.

Dengan adanya taman ekowisata ini, dapat dilakukan upaya pemulihan lahan, sehingga kedepannya bisa menjadi lahan yang produktif.

Luas lahan ini diperkirakan 16 hektar, sebagian berada di Nagari Balah Hilia, sementara sebagian lagi berada di Nagari Lubuk Alung.

Padahal sebelum dilakukan penambangan, kawasan ini adalah lahan persawahan, perkebunan, kolam ikan budidaya masyarakat

Itulah beberapa tempat wisata yang diantaranya adalah bekas tambang yang telah berubah menjadi tempat yang indah dan menjadi destinasi wisata.

[]

You May Also Like