ARASYNEWS.COM –
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS An Nahl: 125).
Ayat ini mengajarkan cara umat Muslim untuk menegur orang lain yang melakukan kesalahan dalam kehidupannya atas apa yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Cara menegur tersebut bisa dilakukan dengan sikap, lisan atau ucapan, dan doa.
Akan tetapi, sejak zaman dahulu hingga saat ini, masih banyak orang-orang yang merasa benar dan tidak ingin ditegur atas apa yang mereka lakukan. Terkadang teguran itu bahkan membuat perselisihan dan perkelahian hingga ke hukum pencemaran nama baik, meminta ganti rugi dengan sejumlah nilai uang, dan bahkan hukum lainnya.
Akibat kesalahan strategi ini, makanya perlu tahapan dan cara yang terbaik agar teguran yang disampaikan dapat diterima dan berguna bagi yang ditegur. Dan alangkah baiknya, yang bukan bagiannya jangan dilakukan, dan dapat dilakukan melalui instansi yang berwenang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka tegurlah dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, maka tegurlah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka tegurlah dengan hati. Namun, ini adalah keimanan terlemah.”
Salah strategi dalam menegur hanya akan mengakibatkan kebencian yang mendalam hingga melibatkan orang lain untuk turut membenci dan memusuhi.
Dirangkum dalam beberapa hadits, ada tiga cara untuk menegur umat Muslim lainnya dan bahkan umat lain. Yang pertama dengan tidak merendahkan ego orang yang ditegur. Karena, secara psikologis, bila ego seseorang direndahkan, dia justru membuat pertahanan diri untuk menyelamatkan egonya dari gangguan pihak lain.
Kemudian yang kedua, adalah dengan mencari cari waktu dan tempat yang tepat. Salah waktu juga membuat teguran dipahami sebaliknya. Niat untuk meluruskan kesalahan pun tidak akan tercapai.
Dan yang ketiga adalah dengan memahami posisi ataupun keadaan sosial orang yang ditegur. Tujuannya agar apa yang disampaikan tidak dianggap sebagai ancaman bagi orang yang ditegur.
Diriwayatkan dalam kisah Al Hasan dan Al Husein mencontohkan etika menegur yang baik. Dua cucu Rasulullah ini mendapati seseorang tidak berwudhu dengan baik dan yang disunnahkan. Mereka kemudian menghampiri orang itu dan berkata, “Pak, saudaraku ini mengaku wudhunya lebih baik daripada wudhuku, padahal aku merasa wudhuku sudah seperti yang dilakukan Rasulullah. Sekarang, tolong beri penilaian mana yang paling baik, wudhuku atau wudhunya”. Kemudian mereka bersama-sama berwudhu seperti wudhu yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selesai berwudhu, keduanya menanyakan ihwal wudhunya kepada lelaki itu. Merasa salah dalam berwudhu, lelaki itu pun berkata, “Demi Allah, saya sudah tidak berwudhu seperti yang dilakukan Anda berdua.”
Tidak hanya untuk umat seagama, tapi Islam juga mengajarkan etika cara menegur umat agama lain, meskipun sekeji apapun kesalahan yang dilakukannya.
Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam memberi petunjuk tentang perintah Allah kepada Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Nuh, dan Nabi-nabi lainnya dalam berkata dan bersikap untuk menegur kaum kafir.
Salah satu contoh adalah dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Harun Allah berfirman:
ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ
فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
قَالَا رَبَّنَآ إِنَّنَا نَخَافُ أَن يَفْرُطَ عَلَيْنَآ أَوْ أَن يَطْغَىٰ
Artinya:
“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku”. (QS Thaha: 42)
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”. (QS Thaha: 43).
“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS Thaha: 44).
Dari surah ini, diterangkan, ketika menegur orang yang berbuat salah, tentu kita berharap orang yang kita tegur mau mengubah sikapnya sesuai saran kita. Namun, kita sering mengabaikan hal-hal kecil yang penting saat menegur.
Tak ayal, bukan kebaikan yang kita dapatkan, justru sikap permusuhan yang malah muncul. Niat baik tidak selalu berbuah baik. Cara tepatlah yang akan mengantarkan niat baik itu ke tempat yang seharusnya dan memohon agar Allah memberikan mereka petunjuk ke jalan yang benar dan diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. []