ARASYNEWS.COM – Belakangan muncul peristiwa aneh di muara Sungai Guntung, yang dulunya merupakan habitat Buaya Riska. Ribuan ikan mati di lokasi tersebut. Dikatakan banyak orang adalah karena telah dilakukan relokasi buaya Riska oleh tim BKSDA Kaltim beberapa pekan lalu.
Sungai Guntung ini berada di Bontang, Kalimantan Timur. Sebelumnya tempat habitat buaya Riska dan persahabatannya dengan Pak Ambo.
Kini, BKSDA Kaltim merelokasi Buaya Riska ke penangkaran buaya di Teritip, Balikpapan, karena dinilai membahayakan manusia. Hal ini juga atas usulan masyarakat. Relokasi dilakukan pada Selasa (2/10/2023) dini hari lalu.
Dan ini yang membuat Pak Ambo yang bersahabat dengan Buaya Riska tidak lagi ke Muara Sungai Guntung Bontang tersebut.
Namun, setelah beberapa lama Pak Ambo akhirnya kembali mengunjungi habitat Buaya Riska, ia pun mengaku kaget melihat ribuan ikan mati di lokasi tersebut. Penampakan foto dan video fenomena ribuan ikan mati di Muara Sungai Guntung Bontang tersebut viral di media sosial.
Tampak dalam unggahan videonya di YouTube fitriyani RISKA, ikan-ikan mati telah menjadi bangkai.
Temuan selain ikan-ikan yang mati, yakni ular yang mengambang menjadi bangkai di muara sungai tersebut.
Dikutip dari media setempat, tidak diketahui apa penyebab ikan mati di Muara Sungai Guntung Bontang tersebut.
“Selama saya ada di Muara kemarin belum pernah terjadi seperti ini, baru kali ini, selama Buaya Riska gak ada gak pernah saya ke Muara. Jadi ikan banyak mati cuma kita gak tahu matinya karena apa,” kata Pak Ambo melalui YouTube fitriyani RISKA, dikutip pada Ahad (15/10/2023).
Ya, sejak Buaya Riska dipindahkan, Pak Ambo tak lagi berkunjung ke Muara Sungai Guntung tersebut.
“Ini apa yang saya katakan saya hampir 5 tahun mengabdi di Muara ini keluar masuk untuk menjaga Muara sambil menjaga Riska, jadi sekarang saya gak ke sini sudah ya ini sudah jadinya,” kata Pak Ambo.
Pak Ambo pun sembari menunjukkan ikan-ikan yang mati dan mengambang di atas sungai tersebut.
“Sampai kejar-kejar orang ngeracun ngebom kejar, sekarang terbukti sudah, kondisi Muara kasihan, makanya buaya-buaya itu semua naik ke atas ini sudah matian semua. Jadi jangan salahkan buaya, ini rumahnya dia orang, dari dulu saya bilang begini begini tapi gak ada yang percaya ya udah ini sudah buktinya,” kata pak Ambo.
Ia berharap pemerintah secepatnya bisa menyelidiki apa penyebab ikan-ikan mati di habitat Buaya Riska.
“Ini ulah siapa kira-kira? Jadi kumohon pemerintah setempat tolong selidiki apa penyebabnya ikan mati-mati, ini bukan ratusan, ribuan. Dari pemukiman warga sampai ke sini Muara bahkan keluar sampai ke laut sana,” ucap Pak Ambo.
Sebelumnya, kedekatan Buaya Riska dengan Pak Ambo mencuri banyak perhatian dari dalam dan luar negeri. Persahabatan ini sudah terjalin 26 tahun dan berpisah setelah buaya Riska dievakuasi.
Buaya Riska merupakan hewan liar yang telah dipelihara Pak Ambo sejak tahun 1998. Saat itu, Pak Ambo sedang berada diperairan tak jauh dari Guntung dan melihat seekor buaya datang ke arahnya.
Pak Ambo tidak lari atau mengusirnya, tetapi mengambil ikan tangkapannya dan diberikan ke buaya tersebut.
“Setelah saya kasih makan, dia kemudian pergi. Awalnya kira cuman buaya biasa,” kata Pak Ambo.
Diawal bertemu, pajang ukuran Buaya Riska masih sekitar satu meter. Berselang beberapa bulan kemudian, buaya itu kembali bertemu Pak Ambo dengan gerak-gerik seolah meminta makanan.
Pak Ambo pun mulai rutin memberikan makan Buaya Riska tiap kali menampakkan diri di muara sungai dan kemudian buaya juga mengikutinya ke rumah Pak Ambo di tepi sungai.
Bahkan sebelumnya hampir setiap hari Buaya Riska mendatangi mendatangi rumah Pak Ambo di Sungai Guntung.
“Saya sempat pulang kampung 2 tahun. Tapi pas balik ternyata Riska tetap kembali ke rumah minta makan,” ungkap Pak Ambo.
Pak Ambo mengaku telah merawat Buaya Riska selama 25 tahun. Pak Ambo memberikan nama Riska karena mengetahui buaya tersebut betina dan juga diambil dari tulisan yang ada pada perahu milik Pak Ambo yang kerap dipakai di sungai.
“Ada nama di perahu saya tulisannya Riska. Jadi saya kasi nama Riska karena buaya juga perempuan,” ungkapnya.
Setelah 25 tahun kebersamaan, panjang buaya Riska kini nyaris 5 meter. Dan selama kebersamaannya, buaya Riska tidak pernah menyerang pak Ambo. Dan bahkan juga saat bermain bersama turun ke sungai bermain air bersama.
Kini, hubungan Pak Ambo dan Buaya Riska terhalang oleh jarak usai buayanya dipindahkan ke Penangkaran Buaya Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur oleh BKSDA Kaltim. []