Allah Peringatkan Kepada Orang Yang Pamer dan Bahagia Di Atas Penderitaan Orang Lain

ARASYNEWS.COM – Tak bisa dipungkiri, saat ini banyak terlihat sebagian orang yang berpunya dan berkedudukan tinggi memperlihatkan diri akan keberadaan harta dan pangkatnya di hadapan orang banyak. Perilaku pamer seperti ini dapat disebutkan sebagai sombong atau angkuh.

Orang-orang seperti ini banyak yang beranggapan bahwa dirinya mendapatkan kenikmatan seperti ini adalah hasil jerih payahnya selama ini.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan ancaman-Nya dan beri peringatan kepada orang-orang yang menyakiti saudara-saudaranya yang berperilaku seperti ini dalam surat Al-Ahzab 58:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Artinya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).

Perihal ini disebutkan adalah Asy-Syamaatah, yakni kegembiraan atas adanya masalah atau cobaan yang menimpa orang lain, seperti yang dapat dicontohkan dalam situasi pandemi saat ini. Kita dilarang bersikap demikian karena itu menyakiti saudara kita dan menambah penderitaannya.

Dalam ajaran Islam, kita dilarang oleh Rasulullah untuk bersikap “asy-syamaatah” kepada orang lain, khususnya kepada sesama umat Islam.

Rasulullah juga telah menegaskan bahwa kesempurnaan Iman seseorang itu tergantung “Cintanya” terhadap saudaranya yang harus sama dengan cintanya kepada dirinya sendiri.

Rasulullah juga mewanti-wanti kita agar tidak pernah memperlihatkan sikap syamaatah terhadap masalah orang lain, karena itu bisa berbalik kepada kita sendiri. Wal Iyaadh Billah.

Rasulullah bersabda:

لا تظهر الشماتة لأخيك، فيعافيه الله ويبتليك.

Artinya: “Janganlah kau tunjukkan kegembiraan atas masalah orang lain, (kalau demikian) maka Allah akan membebaskannya dan memberikan cobaan kepadamu.”

Rasulullah juga mengingatkan agar kita tidak mudah mencaci dan/atau menyebarkan aib, kasus, maupun dosa orang lain, karena hal itu bisa berakibat sebaliknya atau kualat.

Dalam sebuah riwayat al-Baghowi, dari Muadz bin Jabal, Rasulullah bersabda:

من عير أَخَاهُ بذنب، لم يمت حَتَّى يعمله

Artinya: “Barang siapa mencaci saudaranya karena dosa (yang diperbuatnya), maka dia pasti akan mengerjakan dosa tsb sebelum mati,” Wal Iyaadh Billah.

Para ulama sangat berhati-hati untuk tidak menunjukkan as-syamaatah (perasaan senang atas musibah orang lain), bahkan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Az Zuhd, bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata:

لَوْ سَخِرْتُ مِنْ كَلْب، لَخَشِيتُ أَنْ أَكونَ كَلْبًا.

Artinya: “Andaikata aku menghina seekor anjing, pasti aku takut menjadi anjing.”

Selain itu, dari Ibnul Qoyyim juga pernah berkata dalam Madaarijus Saalikin:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَيَّرْتَ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ

Artinya: “Setiap kemaksiyatan yang kau cacat saudaramu karenanya, maka kemaksiyatan tsb akan kembali padamu.”

Dalam situasi yang dipenuhi dengan berita pengumbaran aib di mana-mana ini, alangkah baiknya jika kita berhati-hati untuk tidak ikut menyebarkan aib orang lain, atau ikut senang atas tertimpanya penderitaan saudara kita dengan kasus-kasus tertentu.

Salah satu cara yang direkomendasikan oleh Ibnul Qoyyim untuk menanggapi berita-berita seperti itu adalah dengan berucap:

ُغَفَرَ اللهُ لَنَا وَلَه

(Ghafarallahu lana wa lahu)

Artinya: “Semoga Allah mengampuni kami dan dia.”

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat menyelamatkan lisan, tulisan dan ucapan serta perbuatan kita dari tindakan menyebarkan aib-aib orang lain. []

Wallahu A’lam

You May Also Like