Termasuk Penyakit Hati, Rasulullah SAW Berpesan Untuk Mereka yang Gila dan Haus Jabatan

ARASYNEWS.COM – Surat Yusuf dalam Al-Qur’an:

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَٰوَدتُّنَّ يُوسُفَ عَن نَّفْسِهِۦ ۚ قُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِن سُوٓءٍ ۚ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْـَٰٔنَ حَصْحَصَ ٱلْحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفْسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Artinya: “Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya”. Berkata isteri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Yusuf:51)

ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّى لَمْ أَخُنْهُ بِٱلْغَيْبِ وَأَنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى كَيْدَ ٱلْخَآئِنِينَ

Artinya: (Yusuf berkata): “Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS Yusuf: 52)

۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53)

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ ٱئْتُونِى بِهِۦٓ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِى ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُۥ قَالَ إِنَّكَ ٱلْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ

Artinya: “Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami”. (QS. Yusuf: 54)

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Artinya: Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf: 55)

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِى ٱلْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَآءُ ۚ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَن نَّشَآءُ ۖ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 56)

HR Bukhari dari Abu Hurairah RA, menyebutkan adalah wajar apabila seseorang atau sekelompok orang ingin mendapatkan harta, jabatan, ataupun kedudukan, selama hal tersebut didapatkan dengan cara-cara elegan, fair, dan berlandaskan kepada etika dan moral, serta sesuai dengan keahlian dan profesinya. Apalagi jika orang tersebut bisa dipercaya keamanahannya.

وعن أَبي هُريرة أنَّ رسولَ اللَّه ﷺ قَالَ: إنَّكم ستحرِصون عَلَى الإمارةِ، وستَكُونُ نَدَامَةً يَوْم القِيامَةِ رواهُ البخاري

Artinya: ”Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mendapatkan jabatan, padahal kelak di akhirat akan menjadi sebuah penyesalan ….” (HR Bukhari dari Abu Hurairah RA)

Ini sebagaimana yang terjadi pada Nabi Yusuf AS, ketika beliau melihat kesengsaraan rakyat Mesir saat terjadi kesuburan pada tanah mereka. Beliau saat itu merasakan ini terjadinya salah urus dari pejabat negara yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.

Kemudian, beliau meminta dijadikan sebagai pejabat yang mengurus urusan kesejahteraan masyarakat. Hal ini seperti dinyatakan dalam Alquran (Yusuf 55),
”Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanah) lagi berpengetahuan’.”

Amanah yang ditunjukkan Nabi Yusuf AS dan para pembantunya telah menyebabkan rakyat Mesir sejahtera, walaupun menghadapi musim kemarau yang panjang. Bahkan, dengan keberhasilannya itu, Nabi Yusuf mampu membawa Mesir sejahtera dan meningkat dibanding wilayah-wilayah sekitar lainnya.

Banyak rakyat dari negara-negara lain yang datang menghadap untuk mendapatkan bantuan logistik bagi kelanjutan hidup dan kehidupannya.

Inilah tipe pemimpin atau pejabat yang menjadikan jabatan sebagai amanah, sehingga bekerja secara optimal dan penuh dengan kejujuran dan keikhlasan.

Berbeda halnya dengan orang atau kelompok orang yang menjadikan jabatan dan kedudukan sebagai tujuan hidup. Mereka akan cenderung menghalalkan segala macam cara untuk meraihnya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menjual umat atau mengatasnamakan umat, hanya karena kebetulan yang bersangkutan memimpin sebuah organisasi politik keumatan. Mereka akan terus mengejar jabatan, tanpa ada perasaan malu dan sungkan sedikit pun.

Pejabat yang semacam ini, jika pun meraih jabatan, biasanya akan mempergunakannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, dan sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyejahterakan umat.

Pejabat inilah yang diingatkan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dalam haditsnya tersebut di atas, bahwa kelak mereka di akhirat akan mendapatkan penyesalan yang luar biasa. Dan, dalam kehidupan sekarang pun, pejabat-pejabat yang semacam ini sama selama tidak punya izzah (harga diri).

Tersirat dari kisah Nabi Yusuf AS, yang diceritakannya dalam Al-Qur’an, jabatan dan kepemimpinan adalah amanah, titipan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan.

Kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab melayani rakyat dan bukan menyiksa rakyat, terutama untuk negara Indonesia.

Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dan bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang.

Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat kelak, bukan kekayaan dan kemewahan di dunia. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali mengingatkan terhadap seseorang yang sangat ingin menjadi pemimpin.

قال الغزالي: حب الرياسة والجاه من أمراض القلوب وهو من أضر غوائل النفس وبواطن مكائدها يبتلى به العلماء والعباد.

Sifat sangat ingin jadi pemimpin dan memiliki jabatan itu termasuk penyakit hati. Sifat ini termasuk nafsu yang paling buruk dan tipuan terselubung yang mana ulama dan para ahli ibadah itu seringkali diuji dengannya.

Kata Imam al-Ghazali, nafsu cinta jabatan ini merupakan nafsu terselubung. Memang kelihatannya mereka tidak berbuat suatu kemaksiatan yang secara jelas melanggar aturan Allah. Namun, persaan ingin dipuji, disanjung, dan dihormati itu termasuk penyakit orang-orang munafik. Mereka merasa dirinya hebat, dan termasuk orang yang dekat dengan Allah, tapi ternyata Allah menilai sebaliknya.

Oleh karena itu, Imam al-Ghazali menyarankan biarlah Allah sendiri yang mempromosikanmu di hadapan makhluk-makhluknya tanpa perlu susah payah. Kesusahpayahnmu mengejar jabatan karena ingin dianggap oleh orang lain itulah yang bagi orang-orang saleh dianggap sebuah dosa yang samar. Hanya orang yang waspada sajalah yang memahami hal tersebut. Namun demikian, bukan berarti kita tidak boleh menjadi pemimpin, sebagaimana imam al-Ghazali berpesan.

قال الغزالي: فيه أن الإمارة والخلافة من أفضل العبادات إذا كانتا مع العدل والإخلاص ولم يزل المتقون يحترزون منها ويهربون من تقلدها لما فيها من عظيم الخطر إذ تتحرك به الصفات الباطنة ويغلب على النفس حب الجاه والاستيلاء ونفاذ الأمر وهو أعظم ملاذ الدنيا

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa kepemerintahan dan kepemimpinan itu termasuk ibadah yang paling utama jika dilaksanakan secara adil dan ikhlas. Tapi orang-orang bertakwa menghindar dan lari dari keduanya, karena lebih berat bahayanya. Sebab itu, bisa jadi hati tergerak dan cenderung pada cinta jabatan, rasa ingin menguasai, dan dipermudah. Semuanya itu termasuk kelezatan dunia yang paling besar.

[]

Sumber. Bincang Syariah Imam al-Ghazali.

You May Also Like