Danau Koto Kari, Cerita dan Pesan yang Tersimpan

ARASYNEWS.COM – Kabupaten Kuantan Singingi ada banyak tempat wisata yang memiliki sejarah dan kaya akan cerita rakyat. Salah satunya adalah tentang legenda “Buaya Danau Kari”.

Danau Koto Kari atau Danau Buaya Kari, tepatnya berada di Koto Kari, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Berjarak hanya 4 kilometer dari pusat kota Teluk Kuantan atau hanya 10 menit dengan menggunakan kendaraan jalur darat.

Cerita “Buaya Danau Kari” bukan hanya sekadar cerita, tetapi juga cerminan budaya dan sejarah turun temurun di tengah-tengah masyarakat Kuantan Singingi, tepatnya di desa Bandar Alai Kari

Cerita rakyat seperti “Buaya Danau Kari” mengisahkan tentang interaksi antara manusia dan buaya yang mendiami Danau Kari, serta nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat setempat.

Ada beberapa cerita yang beredar tentang awal mula Danau Kari yang ada di Kuansing ini.

Menurut cerita, asal usul Danau Buaya Kari bermula saat Datuk Kotumangguang dan cucunya pergi ke tepi danau.

Dahulunya, danau itu hanya berupa kolam kecil, namun dengan perubahan yang ada, lalu menjadi sebuah danau yang cukup luas. Di tepi danau ditumbuhi pohon-pohon karet. Di situ pun hidup beberapa ekor koka dan cigak (monyet) yang jinak.

Saat Datuk Kotumangguang dan cucunya tiba di sekitar danau, koka dan cigak berteriak bersahut-sahutan, menyambut kedatangan mereka.

Singkat cerita, Datuk Kotumangguang memakan buah dari pohon yang ada di tepi danau dan kemudian langsung kesakitan dan tergeletak tak sadarkan diri. Lalu sang cucu menutupnya menggunakan perahu lalu turun hujan yang lebat disertai petir, lalu tiba-tiba perahu yang menutupi dang kakek berubah menjadi seekor buaya yang sangat besar dan langsung masuk ke dalam danau.

Diketahui, hal itu dilakukan karena memakan sesuatu yang bukan hak milik tanpa permisi atau meminta izin.

Cerita lainnya, danau ini sudah ada sejak dahulu kala dan berdiam seekor buaya putih raksasa bernama Gano yang dipercaya sebagai penjaga alam dan danau.

Konon, Gano bukanlah buaya biasa. Ia bisa berkomunikasi dengan manusia dan akan muncul jika danau terancam bahaya atau jika norma dan adat istiadat yang dilanggar.

Cerita yang lainnya, menyebutkan keberadaan buaya di danau ini karena adanya pelanggaran dan menentang pesan orang tua. Ada sepasang muda mudi yang sedang dimabuk asmara namun hubungan mereka tidak disetujui oleh kedua orang tuanya. Tetapi pasangan ini sudah terlanjur saling mencintai sehingga mereka tidak mau berpisah. Mereka sering memadu kasih di tepi sebuah danau yang bernama Danau Kari.

Pada suatu hari ketika sang pemuda dan pemudi sedang asyik memadu kasih di tepi danau, hujan dan suara petir terdengar sambung menyambung. Mereka lalu berteduh di bawah pohon dan di bawah sebuah perahu yang dibalikkan dan mereka saling berjanji bahwa dari pada dipisahkan lebih baik mereka menjadi sepasang buaya di danau ini. Seketika itulah petir yang sangat besar menyambar, dan tanpa disadari, mereka berubah menjadi sepasang buaya.

Hal ini terjadi karena kekerasan hati dan menentang orang tua untuk saling berjanji sehidup semati. Berhubungan dengan yang bukan selevel, karena si pemuda hanya anak pemotong karet, sedangkan si pemudi adalah anak Datuk yang berkuasa di daerah itu.

Pesannya saat itu, apabila seorang anak datuk menikah dengan orang biasa muka akan menjadi budak keluarga.

[]

You May Also Like