ARASYNEWS.COM – Kabupaten Kuantan Singingi yang berada dalam wilayah provinsi Riau memiliki sejumlah peninggalan bersejarah dan budaya yang menarik. Beberapa di antaranya adalah istana Koto Rajo, Masjid Jamik Koto Tinggi Pangean, Situs Padang Candi, rumah Godang, dan lainnya
Selain itu, terdapat juga makam-makam bersejarah, seperti makam Datuk Keramat Syech Al-Azhar, makam Imam Saleh, makam para Pendekar Bertuah di Kuansing yakni makam Muhammad Yatim, Muhammad Domin, dan Muhammad Yahamin, dan makan-makan tua lainnya.
Bahkan juga ada legenda Batang Paing yang merupakan tradisi lisan di Kuantan Singingi.
Legenda Batang Paing dikenal sebagai cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat secara turun-temurun yang menggambarkan nilai-nilai budaya dan sejarah daerah.
Cerita rakyat ini berasal dari masyarakat Desa Bandar Alai Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi. Cerita ini berkaitan erat dengan tradisi Pacu Jalur, yakni sebuah perlombaan mendayung perahu panjang yang menjadi ikon budaya Kuansing. Dan diabadikan sebagai nama jalur dari Kuantan Tengah.
Legenda ini bahkan beredar di masyarakat yang bertempat tinggal di sepanjang sungai Batang Kuantan di wilayah Kabupaten Kuansing.
Sementara itu, perlombaan pacu jalur ini diketahui telah ada dan hadir sejak ratusan tahun lalu yang dulunya jalur (sampan) digunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil pertanian dan bumi.
Tradisi ini berkembang menjadi ajang perlombaan dan hiburan, bahkan pada masa dahulu pernah digunakan untuk merayakan hari jadi Ratu Wilhelmina pada masa penjajahan Belanda. Jalur-jalur yang digunakan sering dihias dengan ukiran khas.
Dan saat ini, Pacu Jalur telah mendunia dan menjadi daya tarik wisata, bahkan pernah viral dengan gerakan “aura farming” yang dilakukan di ujung depan jalur.

Legenda Batang Paing
Legenda Batang Paing adalah legenda yang hidup di tengah masyarakat Desa Bandar Alai Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.
Legenda ini erat kaitannya dengan penunggu wilayah hutan, yakni harimau atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘datuk belang harimau’.
Ada beberapa pantangan dan larangan yang dipercaya tidak dilakukan sejak zaman dahulu hingga sekarang ini. Diantaranya adalah tidak melempari buah durian yang sudah matang di pohon, mengambil buah-buahan hanya yang sudah matang, tidak lupa membagi-bagikan hasil buruan di hutan dengan warga, tidak melakukan yang melebihi batas, meminta izin dan berdoa saat akan memasuki suatu tempat atau daerah, menghentikan aktivitas saat azan terdengar, dan lainnya.
Jika ada yang melanggar adat-adat serta norma yang berlaku ditengah-tengah masyarakat, maka Datuk Belang akan muncul memberikan tanda berupa jejak kaki ataupun suara auman.
sc. Kemendikdasmen
[]