Penyebab Matinya Bayi Harimau Sumatera di TMBSK yang Berusia 7 Hari

ARASYNEWS.COM – Konservasi berduka atas kematian bayi harimau Sumatera yang baru berusia 7 hari. Kejadian ini sangat disayangkan dan menjadi pelajaran dan catatan penting dalam upaya konservasi satwa langka.

Balai KSDA Sumatera Barat mengaku akan terus berupaya meningkatkan manajemen perawatan satwa dan kesiapan medis guna mengantisipasi kejadian serupa di masa depan.

Sementara itu, tanggapan banyak orang diungkapkan ke media-media yang menyebutkan dan menyimpulkan atas adanya keterlambatan pihak pengelola dan tim medis untuk menangani hal ini.

Ini karena telah diketahui sebelumnya, sang induk tidak mau menyusui akibat sesuatu yang menimpanya, sehingga bayi harimau tidak mendapat nutrisi susu dari induknya.
 
Diketahui, sang induk harimau, bernama Yani, sempat menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan enggan menyusui bayinya beberapa saat pasca melahirkan.

Kemudian, kejadian terjadi lagi pada Minggu, 29 Juni 2025, Yani mulai menunjukkan perilaku stres dan kembali menolak menyusui. Hal ini karena cuaca kering dan panas yang melanda kota Bukittinggi saat itu dan memperburuk kondisi kesehatan bayi harimau yang sangat membutuhkan asupan nutrisi memadai.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Barat, Hartono, menyampaikan prihatin akan kondisi yang terjadi ini.

Dikatakannya bahwa sejak kelahiran, kondisi bayi harimau berjenis kelamin jantan tersebut memerlukan perhatian intensif dari tim dokter dan keeper.

“Awalnya sang induk tampak lelah dan belum mau menyusui. Asupan susu diterima bayi harimau diberikan pada menjelang siang di hari yang sama oleh induknya,” dikutip dari keterangan Hartono, Rabu (2/7/2025).

“Kemudian, sang induk kembali menunjukkan perilaku stres dan tidak mau menyusui bayinya pada Minggu hari, 29 Juni 2025,” terang Hartono.

“Selain itu, cuaca kering dan panas yang melanda Bukittinggi saat itu memperburuk kondisi kesehatan bayi harimau yang sangat membutuhkan asupan nutrisi memadai,” lanjut keterangannya.

Upaya medis telah dilakukan tim TMSBK Bukittinggi untuk menyelamatkan satwa dilindungi ini, termasuk memindahkan bayi harimau ke klinik guna mendapatkan perawatan intensif.

Pada awalnya, saat diberikan perawatan, sempat menunjukkan sedikit perkembangan, tetapi kondisi pernapasan bayi harimau tersebut tetap tidak stabil.

“Tim dokter dan keeper sudah berusaha maksimal. Namun, bayi harimau itu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa pagi,” disesali Hartono.

Balai KSDA Sumbar bersama tim medis TMSBK segera melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian.

“Hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya kelainan organ dalam. Dari hasil tersebut, kematian bayi harimau disimpulkan disebabkan oleh dehidrasi dan kurangnya asupan nutrisi akibat sang induk tidak menyusui secara optimal,” pungkas Kepala Balai KSDA Sumbar.

Data Bayi Harimau:
Jenis Satwa: Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
Jenis Kelamin: Jantan
Tanggal Lahir: 24 Juni 2025
Induk Betina: Yani
Induk Jantan: Bujang Mandeh
Warna: Oranye-loreng hitam
Tanggal Mati: 3 Juli 2025 (berusia 7 hari)

[]

You May Also Like