ARASYNEWS.COM – Masjid ataupun musholla dalam pengertian umum adalah tempat ibadah umat Islam, termasuk di dalamnya sholat berjamaah dan sholat jumat, tarawih, dan lainnya.
Sementara, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) masjid diartikan sebagai ‘rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam.
Secara istilah, makna masjid dapat ditelusuri dari sabda Rasulullah ﷺ, bahwa seluruh permukaan bumi bisa dijadikan masjid dan alat bersuci.
”… seluruh permukaan bumi bisa dijadikan masjid dan alat bersuci untuk untukku. Maka siapapun di kalangan umatku yang menjumpai waktu shalat, segeralah dia shalat.” (HR. Bukhari 335 & Muslim 521)
Status masjid berimplikasi terhadap beberapa hukum Islam lainnya. Misalnya, tentang i’tikaf, sholat tahiyatul masjid, larangan berdiam diri di masjid karena hadas besar, dan lain sebagainya.
Melansir laman konsultasisyariah, di dalam Al-Qur’an, masjid disebutkan lebih kurang 28 kali. Masjid diartikan tempat sujud. Sedangkan istilah musholla merupakan nama tempat sholat yang diambil dari kata kerja shalla yang artinya, sholat atau berdoa.
Secara makna berbeda. Yang satu tempat bersujud, yang satu lagi sholat atau berbeda. Dalam sholat, tentu aktivitas tadi merupakan satu kesatuan.
Masjid dan musholla memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi ada beberapa perbedaan antara keduanya:
Masjid
- berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyebaran syiar Islam
- tempat menyelesaikan masalah umat
- pusat pemberdayaan masyarakat
- tempat sujud bagi semua manusia untuk mempertahankan kesadaran eksistensi kemanusiaannya
Musholla
- berfungsi sebagai sarana pembinaan agama
- sarana menumbuhkan karakter, mental, dan kepribadian siswa
- sarana bantu pendidikan non formal
- sarana menjalin ukhuwah Islamiyyah
Perbedaan lain antara masjid dan musholla adalah ukurannya. Masjid dirancang untuk menampung lebih banyak jemaah, sehingga ukurannya lebih besar daripada musholla.
Dalam pembahasan kali ini, masjid atau musholla dipergunakan oleh orang-orang kafir atau non-muslim.
Berbeda pendapat kebolehan masuk non-Muslim ke dalam masjid. Perbedaan pendapat ulama perihal ini berangkat dari perbedaan pemahaman mereka atas Surat At-Taubah ayat 28
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا
Artinya, “Wahai orang yang beriman, sungguh orang musyrik itu najis. Janganlah mereka memasuki masjidil haram setelah tahun ini,” (At-Taubah ayat 28).
Dari ayat ini, lahir pelbagai pandangan ulama perihal masuknya non-Muslim ke dalam tanah haram, masjidil haram, dan masjid selain masjidil haram, dengan atau tanpa izin umat Islam, dan dengan atau tanpa keperluan.
Ada berbagai pandangan dalam pemanfaatan masjid ini yang dipergunakan oleh orang kafir.
Mazhab Hanafi
Orang kafir boleh masuk ke dalam masjid, termasuk masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid An-Nabawi di Madinah, tanpa syarat.
Madzhab Hanafi mengikuti pandangan Abu Hanifah yang membolehkan orang kafir, orang musyrik, atau non-Muslim untuk masuk ke dalam masjid termasuk ke dalam masjidil haram.
Berikut ini pemahaman Abu Hanifah terkait Surat At-Taubah ayat 28:
أجاز أبو حنيفة للكافر دخول المساجد كلها، حتى المسجد الحرام من غير إذن، ولو لغير حاجة. ومعنى آية {فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا} [التوبة:28/9] عنده: ألا يحجوا، ولا يعتمروا عراة بعد حج عامهم هذا، عام تسع من الهجرة، حين أمر الصديق، ونادى علي بهذه السورة، وقال: «ألا لا يحج بعد عامنا هذا مشرك، ولا يطوف عريان». وقد دخل أبو سفيان مسجد المدينة لتجديد عقد صلح الحديبية، بعدما نقضته قريش، وكذلك دخل إليه وفد ثقيف، وربط ثمامة بن اثال في المسجد النبوي حينما أسر
Artinya, “Abu Hanifah membolehkan orang kafir masuk masjid mana saja, termasuk masjidil haram tanpa izin dan tanpa keperluan sekalipun. Sedangkan pengertian ayat, ‘Jangan mereka memasuki masjidil haram setelah tahun ini,’ (At-Taubah ayat 28) menurut Abu Hanifah, adalah larangan untuk berhaji dan umrah dengan telanjang setelah tahun ini, yaitu tahun 9 H ketika ia memerintahkan Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Ali menyeru dengan surat ini, ‘Setelah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik melaksanakan haji dan tidak boleh ada lagi orang telanjang berthawaf,’ (HR Bukhari dan Muslim). Abu Sufyan sendiri pernah memasuki masjid Madinah untuk memerbaharui kontrak perdamaian Hudaibiyah setelah dilanggar oleh Quraisy. Demikian juga rombongan tamu dari Bani Tsaqif pernah memasuki masjid Madinah. Tsamamah bin Atsal ketika dalam kondisi tawanan diikat di masjid nabawi,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 582).
Sementara Madzhab Maliki membolehkan non-Muslim untuk memasuki tanah haram kecuali masjidil haram dengan izin umat Islam dan dengan aman. Tetapi Madzhab Malik mengharamkan non-Muslim untuk masuk ke dalam masjid manapun kecuali ada uzur tertentu.
Sedangkan Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali mengharamkan sama sekali non-Muslim untuk masuk ke dalam masjidil haram meskipun untuk kemaslahatan tertentu. Hanya saja non-Muslim–menurut mereka–boleh memasuki masjid lain untuk sebuah hajat tertentu dengan izin umat Islam sebagaimana keterangan berikut ini:
وقال الشافعية والحنابلة: يمنع غير المسلم، ولو لمصلحة من دخول حرم مكة، لقوله تعالى: {يا أيها الذين آمنوا إنما المشركون نجس، فلا يقربوا المسجد الحرام بعد عامهم هذا} [التوبة:28/9] وقد ورد في الأثر: « الحرم كله مسجد». ويجوز عندهم للكافر لحاجة دخول المساجد الأخرى غير المسجد الحرام، بإذن المسلمين؛ لأن نص الآية في المسجد الحرام، والأصل في الأشياء الإباحة، ولم يرد في الشرع ما يخالف هذا الأصل، ولأن النبي صلّى الله عليه وسلم قدم عليه وفد أهل الطائف، فأنزلهم في المسجد قبل إسلامهم. وقال سعيد بن المسيب: قد كان أبو سفيان يدخل مسجد المدينة، وهو على شركه. وقدم عمير بن وهب، فدخل المسجد، والنبي صلّى الله عليه وسلم فيه ليفتك به، فرزقه الله الإسلام
Artinya, “Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali berpendapat bahwa non-Muslim sekalipun untuk sebuah kemaslahatan dilarang untuk memasuki tanah haram Mekah berdasarkan firman Allah, ‘Wahai orang yang beriman, sungguh orang musyrik itu najis. Janganlah mereka memasuki masjidil haram setelah tahun ini,’ (At-Taubah ayat 28). Di dalam atsar disebutkan, ‘Tanah haram seluruhnya adalah masjid.’ Menurut ulama dari dua madzhab ini, orang kafir boleh masuk masjid dengan izin umat Islam karena suatu keperluan kecuali masjidil haram. Pasalnya, teks ayat tersebut hanya menyinggung masjidil haram. Hal ini juga sesuai kaidah bahwa pada asalnya segala sesuatu adalah boleh. Di dalam syariat sendiri tidak ada dalil yang mengalahi hukum asal ini. Rasulullah SAW sendiri–ketika didatangi oleh rombongan kunjungan dari Thaif–menempatkan tamunya di masjid tersebut sebelum mereka memeluk Islam. Sa‘id Ibnul Musayyab mengatakan, Abu Sufyan pernah memasuki masjid Madinah ketika masih menjadi seorang musyrik. Ketika Rasulullah sedang berada di dalam masjid, ‘Umair bin Wahb pernah datang lalu memasukinya untuk membunuh Rasul. Tetapi Allah menganugerahkan Islam kepadanya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 583).
Mazhab Asy-Syafi’iyah menjelaskan bahwa orang kafir dzimmi yang mendapat izin dari umat Islam untuk masuk ke dalam masjid diperbolehkan, kecuali masjid Al-Haram di Mekkah.
Sementara itu, dikutip dari keterangan Ustadz Adi Hidayat, mengatakan bahwa masjid atau musholla yang dibangun oleh orang kafir sebaiknya tidak dimakmurkan. Jika memungkinkan, kepemilikan masjid tersebut bisa diambil alih oleh umat Muslim dan dikelola.
Selain itu, dari hadist Rasulullah ﷺ yang menyetujui sahabatnya mengikat Tsumamah bin Utsal di masjid selama tiga hari dijadikan dalil bahwa orang kafir boleh masuk masjid.
Keterangan-keterangan ini, kita dapat mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat perihal masuknya non-Muslim ke masjid selain masjidil haram. Ulama memiliki cara pandang yang khas atas Surat At-Taubah ayat 28 dan sejumlah riwayat hadits sehingga melahirkan perbedaan pendapat perihal ini.
Adapun terkait masuknya remaja non-Muslim ke dalam sebuah area di dalam masjid untuk merapatkan agenda tertentu, masalah ini perlu merujuk pada tradisi dan kesepakatan sosial setempat atau setidaknya izin pengurus masjid dengan catatan pengurus masjid mengerti perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Tetapi yang perlu diketahui bahwa masuk ke masjid atau musholla ini, harus mengikuti aturan dan adab yang diberlakukan, salah satunya diharuskan melepas alas kaki karena merupakan salah satu tempat yang suci.
Selain itu, masuk ke masjid atau musholla, sebaiknya dengan mengucapkan salam. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu membaca doa saat hendak memasuki dan meninggalkan masjid. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Doa-doa tersebut diharapkan dapat membantu kita meraih rahmat dan fadilah dari Allah SWT.
Do’a Masuk Masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Allahummaftahlii abwaaba rahmatika.
Artinya: “Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.”
Dan yang paling penting adalah menjauhkan dari hal-hal yang najis dan haram saat di dalam masjid atau musholla. []