ARASYNEWS.COM –
مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ ۖوَيَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
Artinya: Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan. (QS. Al-A’raf : 186)
Di Indonesia, sering kali bermunculan aliran sesat dan menyimpang. Aliran ini kerap meresahkan dan bahkan banyak pengikutnya. Aliran-aliran ini bahkan mengaku mendapatkan wahyu dari Allah, mengaku nabi, mengaku Isa al masih, mengaku mampu berkomunikasi dengan malaikat Jibril, bahkan menyimpang dalam praktek ibadahnya.
Aliran-aliran tersebut berani menciptakan aturan dan tata cara tersendiri, yang secara jelas menyimpang dari aturan Islam yang sebenarnya.
Hal-hal tersebut sesungguhnya sudah masuk pada masalah qath’i dan pasti, yang apabila orang berpendapat lain, dapat dianggap murtad dan kufur, seperti halnya mengaku menjadi nabi dan rasul.
Padahal Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul yang terakhir, sebagaimana yang diungkapkan dalam QS Al-Ahzab: 40.
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا
Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-ahzab : 40)
Munculnya berbagai aliran sesat tersebut mungkin salah satu makna dari pernyataan Rasulullah ﷺ, “kelak umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk ke dalam neraka, kecuali satu kelompok, yaitu mereka yang mengikuti sunahku dan sunah-sunah sahabatku. Kelompok yang akan selamat itu adalah mereka yang antara lain meyakini keenam rukun iman dan kelima rukun Islam yang bersifat pasti dan tetap, yang syahadatnya terdiri dari dua kalimah syahadat, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullah (aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).”
Lantas, siapakah orang-orang yang tersesat tersebut?
Al-Qur’an menyebutkan orang-orang yang tersesat jauh dalam surat Ibrahim ayat 3.
Mereka adalah orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat dan menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah SWT.
ۨالَّذِيْنَ يَسْتَحِبُّوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا عَلَى الْاٰخِرَةِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَيَبْغُوْنَهَا عِوَجًا ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ
“(yaitu) orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada (kehidupan) akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan (jalan yang) bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.” (QS Ibrahim : 3)
Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang lebih menyukai kehidupan duniawi daripada kehidupan ukhrawi, menghalangi orang lain dari jalan Allah SWT, dan menginginkan agar orang-orang menjauhi jalan lurus yang diberikan Allah kepada manusia, mereka itu sesat sejauh-jauhnya.
Al-Qur’an mengingatkan berbagai urusan duniawi tidak boleh melalaikan kita dari mempersiapkan diri bagi kehidupan ukhrawi. Akan tetapi, kehidupan duniawi itu juga tidak boleh diabaikan sama sekali, sebagaimana firman Allah SWT ini.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.” (QS Al Qasas : 77)
Orang-orang kafir tidak hanya mengingkari Al-Qur’an, tetapi juga menghalang-halangi orang lain untuk mengikuti jalan yang benar itu. Dan bahkan yang mirisnya lagi adalah umat Muslim yang menjelekkan umat Muslim lainnya yang mengajak ke jalan yang diridhoi Allah.
Mereka menghalangi manusia mengenal ajaran Islam dan menjadikannya pedoman hidup. Dengan demikian, mereka adalah orang-orang yang sesat dan berusaha menyesatkan orang lain, sehingga kejahatan mereka berlipat ganda.
Mereka juga berusaha dengan berbagai tipu daya agar jalan lurus yang ditunjukkan Allah SWT itu menjadi bengkok. Mereka menukar ayat-ayat Allah SWT dengan apa yang sesuai dengan kehendak hawa nafsu dan maksud jahat mereka.
Kata ‘sesat’ dalam Al-Qur’an
Untuk kata ‘sesat’ , di dalam Al-Qur’an berasal dari akar kata “Dhalalah”. Kata Dhalalah dengan segala bentuk katanya di dalam Al-Qu’an disebutkan kurang-lebih 193 kali. Bermacam-macam sifat dan prilaku manusia oleh Al-Qur’an dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat, antara lain:
- Orang-orang kafir dalam segala bentuknya, harbi atau dzimmi.
- Orang-orang musyrik dalam segala tingkatannya.
- Orang-orang munafik dalam segala bentuknya.
- Orang-orang zalim dalam tingkatan dan bentuknya, terhadap orang lain atau dirinya sendiri.
- Orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat, dalam segala tingkatannya.
- Orang-orang yang suka hidup mewah dan berlebihan.
- Orang-orang yang tidak peduli terhadap kebenaran.
- Sifat-sifat dan prilaku lain yang tidak disukai oleh Allah SWT
Orang yang berlebihan dan peragu, Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ جَآءَكُمْ يُوسُفُ مِن قَبْلُ بِٱلْبَيِّنَٰتِ فَمَا زِلْتُمْ فِى شَكٍّ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَن يَبْعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعْدِهِۦ رَسُولًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُّرْتَابٌ
Artinya: Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (QS. al-mumin : 34)
“Demikian Allah menyesatkan orang-orang yang berlebihan dan ragu-ragu.” (Al-Mu’min: 34)
Tentang mereka yang tidak peduli terhadap kebenaran:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf: 179).
Tentang orang-orang yang zalim, Allah SWT berfirman:
يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ
Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim: 27)
وَقَدْ أَضَلُّوا۟ كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَٰلًا
Artinya: Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. (QS. Nuh: 24)
Tentang orang-orang zalim yang paling bahaya
“Tunjuki kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan juga (jalan) mereka yang sesat.” Al-Fatihah: 6-7).
[]