ARASYNEWS.COM – Firman Allah ﷻ
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. al-Kahfi: 46)
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, ”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah bagi kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. al-Furqan : 74)
Melalui ayat tersebut, anak menjadi suatu kebanggaan kehidupan di dunia dan sangat diharapkan kehadirannya. Banyak orang tua yang menempuh beragam cara agar dapat secepatnya diberi anak atau keturunan. Orang tua akan merasa sangat bahagia apabila memiliki anak dan mampu mendidiknya menjadi anak yang saleh.
Menjadi sangat beralasan jika nabi kemudian bersabda bahwa orang tua yang kehilangan anaknya ketika mereka belum baligh akan mendapat balasan surga. Ini dapat diartikan, salah satunya, sebagai bentuk sabda nabi dalam rangka menenangkan dan menguatkan hati umatnya, yakni untuk para orang tua.
Akan tetapi, anak tersebut hanya bisa menolong orang tuanya jika mereka masih berada dalam jalan agama Islam. Jika mereka menyimpang dari jalan Islam atau berbagai peraturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka orang tua tersebut tidak akan mendapat pertolongan.

Terkait tentang yang terjadi akhir-akhir ini yang menimpa Gubenur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ditinggal putranya Eril, menjadi sorotan banyak orang. Salah satunya dari Syamsuddin Nur Makka, S.Sos.I., S.Q., M.A atau Ustadz Syam
Eril yang telah beberapa hari hilang di sungai Aare Swiss menyita perhatian. Ia tidak diketahui keberadaannya. Tapi akhirnya ditemukan kembali di dekat pintu air.
Kesedihan mendalam dirasakan oleh Ridwan Kamil dan Atali Praratya perihal musibah yang menimpa ini. Pasangan ini ditinggal pergi buah hati cintanya dan ini menjadi pukulan berat mereka selaku orang tua.
Terkait orang tua yang ditinggal mati anaknya, Ustadz Syam pun memberi pesan penting dalam ceramahnya. Ustadz Syam menyebutkan jika anak yang ditinggal mati orang tua memiliki panggilan.
“Anak ditinggal mati bapaknya disebut yatim. Anak ditinggal mati ibunya disebut piatu,” jelas Ustadz Syam.
“Anak ditinggal mati keduanya disebut anak yatim piatu,” lanjutnya.
“Istri ditinggal mati suaminya disebut janda, suami ditinggal mati istrinya disebut duda,” kata Ustadz Syam.
“Namun, pernahkah kita mendengar istilah bagi orang tua yang ditinggal mati anaknya?,” kata Ustadz Syam.
“Tidak ada sebutan bagi seorang ayah yang anaknya meninggal dunia, tidak ada sebutan baginya,” sebutnya.
Dalam hal ini, Ustadz Syam menuturkan jika tidak ada sebutan yang bisa dijadikan istilah bagi orang tua yang ditinggal anaknya. Pasalnya perasaan orang tua ditinggal pergi oleh anaknya tidak bisa digambarkan dengan hal apapun.
“Bagi seorang ibu atau bapak yang ditinggal mati anaknya tidak ada sebutan baginya, seakan-akan memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa tak ada satu katapun yang bisa menggambarkan perasaan orang tua yang ditinggal mati oleh anaknya,” jelas Ustadz Syam.
“Tidak ada satu istilah pun yang cocok menggambarkan perasaan ayah yang ditinggal mati anaknya,” jelasnya.
“Semoga Allah menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi, jika tidak di dunia, maka Allah akan menggantikannya sesuatu yang lebih indah dan abadi di surgaNya kelak,” tukas Ustadz Syam. []