ARASYNEWS.COM – Sejak Jum’at, 25 Februari 2022, gempa masih terus terasa di wilayah Pasaman dan Pasaman Barat. Hanya saja gempa yang terasa tercatat dalam BMKG Sumbar, tidak sebesar yang terjadi dan menghancurkan banyak bangunan dan rumah di Pasaman dan Pasaman Barat.
Gempa ini membuat terparah di Nagari Kajai dan Talu di Pasaman Barat. Selain itu juga di Nagari Malampah, kecamatan Tigo Nagari di Kabupaten Pasaman.
Tercatat dalam BMKG, gempa yang terasa hingga hari ini, Ahad (27/2/2022) malam sudah tercatat sebanyak 124 kali susulan.
Titik-titik pusat gempa ini berada tidak jauh dari Gunung Talamau Pasaman Barat. Atau berjarak sekitar 8 kilometer.
Dalam keterangannya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Dwikorita Karnawati mengatakan belum ada tanda-tanda erupsi atau letusan Gunung Talamau hingga saat ini sehingga warga tidak perlu panik.
“Waspada boleh tapi jangan panik. Yang perlu dikhawatirkan adalah bahaya longsor,” katanya di Simpang Empat, Ahad (27/2).
Ia mengatakan erupsi itu terjadi ada prosesnya dan tanda-tandanya yang terus dimonitor. Jika ada erupsi maka akan ada informasinya dan radius berapa melalui aplikasi pemantauan yang dilakukan.
“Hingga saat ini belum ada tanda-tanda dan informasi mengenai adanya erupsi Gunung Talamau,” ujarnya.
Untuk itu, katanya masyarakat yang berdomisili di sekitar kaki Gunung Talamau jangan terlalu panik namun tetap waspada saja.
“Mengenai ada air sungai yang kering dan berlumpur kemungkinan ada aliran sungai yang tersumbat akibat longsor di kaki Gunung Talamau,” katanya.
Dikatakannya juga, longsoran atau pergerakan tanah yang terjadi pasca gempa kemarin juga tidak terlihat lagi tanda-tanda akan terjadi.
Selain itu, pihak Balai Sungai, BPBD Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang perlu melakukan penyisiran untuk membersihkan tumpukan material di sungai yang ada.
Ia menjelaskan gempa yang terjadi di Kabupaten Pasaman Barat bersumber dari daratan.
Hanya saja yang ditakuti adalah terjadinya patahan Sumatera yang melintas di Pasaman Barat, seperti segmen Sianok dan segmen Angkola.
“Pusatnya dangkal kalau gempa di darat ini. Namun risikonya cukup tinggi, sehingga banyak rumah masyarakat yang roboh, apalagi bangunan rumah masyarakat tidak sesuai dengan daerah rawan gempa,” katanya.
Ia melanjutkan, pihaknya akan melakukan survei lebih lanjut terkait dengan dampak gempa. Sesuai dengan kajian keilmuan BMKG, karena ilmu manusia.
“Memang gempa susulan 124 kali terjadi di Pasaman Barat. Namun, kekuatannya semakin melemah. Dari 124 kali itu yang kuat atau terasa hanya 6 kali. Begitu juga dengan potensi patahan di bebatuan semakin melemah, artinya kondisi semakin stabil,” pungkasnya. []