ARASYNEWS.COM, TANAH DATAR – Datang berkunjung ke Istana Pagaruyung di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar tentu para travelers akan melihat sebuah bukit yang tepatnya berada di belakang istana ini. Bukit ini dikenal dengan nama Bukit Batu Patah.
Bukit Batu Patah ini dikenal juga dengan nama Gunung Bungsu. Hal ini lantaran berada di kawasan Gunung Bungsu yang merupakan daerah yang berbatasan dengan Nagari Pagaruyung dengan Jorong Kubang Landai yang masuk dalam kawasan Kenagarian Saruaso di Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.
Untuk mencapai bukit ini, ada jalan yang dapat ditempuh. Selain menggunakan roda empat, roda dua, juga dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan menaiki ribuan anak tangga.
Dari atas bukit atau yang dikenal dengan Gunung Bungsu ini, para travelers dapat memandangi betapa kokohnya istana Pagaruyung dari belakang, serta juga pemandangan bentangan sawah dan perbukitan.
Udaranya yang sangat sejuk dan juga hijaunya suasana bukit dan pepohonan yang tumbuh disini sangat cocok untuk dijadikan sebagai sebuah tempat bersantai bagi travelers dan juga bersama keluarga.

Selain itu, di tempat ini juga terdapat tiga buah sumur yang memiliki air sangat jernih di dalamnya.
Dan bukan hanya itu saja, di kawasan ini juga terdapat goa yang dulunya dipergunakan masyarakat setempat untuk mendapat obat pengusir hama tikus atau yang dinamai dengan ‘pawa’.
Disini juga terdapat sebuah spot yang letaknya agak tinggi dari tempat di sekitarnya yang biasa disebut dengan Batu Tungga. Apabila anda sedang berdiri di atas Batu Tungga yang ini, maka sebuah pemandangan alam yang sangat lengkap dan indah langsung terbentang di depan hadapan mata anda. Lanscape yang berupa Istana Basa Pagaruyung dan juga daerah yang berada di sekitarnya tentunya menjadi sesuatu yang cukup menarik untuk anda nikmati.
Menurut cerita masyarakat, di bukit ini dulunya terdapat sebuah Rumah Gadang yang biasa disebut dengan ‘rumah bukik’. Rumah Gadang tersebut akhirnya dipindahkan ke daerah Pagaruyung yang tepatnya di kawasan Jorong Balai Janggo dan sayangnya sekarang Rumah Gadang tersebut sudah tidak ada lagi terlihat.

Dalam cerita masyarakat, dulunya di kawasan ini berdiri sebuah kerajaan yang dikenal dengan kerajaan Bukit Batu Patah.
Kerajaan ini sudah ada di Minangkabau sebelum berdirinya Kerajaan Pagaruyung dan merupakan kelanjutan dari Kerajaan Pasumayan Koto Batu yang terletak di kabupaten Tanah Datar sekarang.
Kerajaan Bukit Batu Patah didirikan oleh Sutan Nun Alam yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Yang Dipertuan Kerajaan Bungo Setangkai, Datuk Bandaro Putiah.
Pada masa kerajaan Bukit Batu Patah dibentuklah Rajo Nan Duo Selo dan Basa Ampek Balai. Rajo Nan Duo Selo tersebut adalah Rajo Alam yang berkedudukan di Bukit Batu Patah dan Rajo Adat yang berkedudukan di Bungo Satangkai. Sedangkan Basa Ampek Balai adalah Bandaro yang berkedudukan di Sungai Tarab, Makhudum di Sumanik, Indomo di Sarauso, dan Tuan Gadang di Batipuh.
Kedudukan Sutan Nun Alam sebagai raja kemudian digantikan oleh Run Pitualo. Selanjutnya diganti lagi oleh Maharajo Indo. Semasa pemerintahannya pusat kerajaan Bukit Batu Patah dipindahkannya ke kaki Bukit Batu Patah atau di sekitar Nagari Pagaruyung sekarang. Pada masa pemerintahannya pula, agama Islam sudah masuk ke wilayah Minangkabau bagian Timur.
Maharajo Indo kemudian digantikan oleh Yang Dipertuan Sati. Semasa pemerintahannya Rajo Nan Duo Selo dilengkapi dengan Rajo Ibadat menjadi Rajo Nan Tigo Selo.
Saat ini, selain sebagai destinasi wisata, kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai perkemahan. Lokasinya yang luas tentu bisa untuk dimanfaatkan untuk melakukan agenda berbagai kegiatan seperti kegiatan pelatihan, kepramukaan, serta berbagai kegiatan lainnya. Biasanya, banyak anggota dari berbagai institusi pendidikan dan swasta mengadakan camping di lokasi ini.
Selain menikmati alam, disini tentunya para travelers juga bisa mengenal Budaya Minangkabau secara lebih luas dengan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. []