Tiga bendera berkibar dengan gagah di tiga wilayah yang memiliki sejarah, identitas, dan perjuangan masing-masing. Berkibar sebagai simbol dan cerminan suara kekecewaan
ARASYNEWS.com — Menjelang puncak peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, ada tiga daerah di Indonesia yang tidak mengibarkan bendera merah putih. Malahan bendera merah putih yang telah dipasang diturunkan dan diganti. Fenomena ini terjadi di Aceh, Borneo, dan Papua.
Pengibaran bendera di daerah ini menjadi simbol kekecewaan masyarakat di daerah terhadap pemerintah saat ini dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto sebagai presiden.
Bahkan ada juga lambang Garuda Pancasila yang diinjak-injak karena sila-sila itu dianggap sudah tidak lagi mencerminkan dasar tujuannya.
Aceh Menuntut Perhatian
Di Aceh, masyarakat menyampaikan bahwa merasa belum cukup mendapat perhatian prioritas terutama setelah bencana yang melanda dan memporak-porandakan daerah Aceh.
Pemulihan pasca bencana dinilai lambat dan tidak merata. Serta juga pemerintah pusat hanya mementingkan proyek strategis nasional, seperti koperasi desa merah putih (KDMP) dan makan bergizi gratis (BGN). Sementara itu masih banyak anak-anak sekolah yang belum mendapat perlakuan layak seperti akses menuju sekolah serta sarana dan prasarana pendukung.
Akan kekecewaan ini, maka muncul wacana indentitas hingga keinginan untuk merdeka kembali.
Masyarakat Aceh pun mengibarkan bendera Bulan Bintang di Masjid Raya Baiturrahman.
Borneo Menuntut Pembangunan
Di Borneo Kalimantan, masyarakat mengibarkan bendera Borneo Raya.
“Kami kaya sumber daya, tapi pembangunan belum dirasakan”.
Masyarakat di Kalimantan merasa dianaktirikan sejak dahulu terutama dalam pembangunan yang langsung ke masyarakat. Pembangunan infrastruktur dan layanan dasar masih jauh dari harapan masyarakat di Kalimantan.
Papua Menuntut Kendali atas Kekayaan Alam
Rakyat di Papua menyebutkan: “Alam kami kaya, mengapa kami tidak punya kendali lebih besar? Kenapa pusat menguasai penuh hingga merusak?”
Masyarakat lokal dan adat menuntut diberi peran utama dalam pengelolaan sumber daya.
Selain itu juga identitas, suara rakyat, dan hak politik agar dihormati dan didengar.

Pengibaran bendera daerah di berbagai daerah di Indonesia ini disorot banyak pihak. Salah satunya dari Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi. Dikatakan bahwa fenomena pengibaran bendera yang semakin berani, apalagi saat momen Hari Kemerdekaan Indonesia.
Fenomena dimaksud yakni pengibaran bendera Bintang Bulan di Aceh, bendera Borneo Raya di Pulau Kalimantan, dan bendera Bintang Kejora di Papua.
Tokoh Nahdlatul Ulama asal Madura itu menilai, pengibaran bendera tersebut menjadi sinyal kekecewaan masyarakat kepada pemerintahannya, yakni dibawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
Padahal kata dia, pengibaran simbol-simbol bendera tersebut selama ini menjadi sesuatu yang tabu dan sensitif untuk dikibarkan di Indonesia.
“Karena kecewa, warga Aceh minggu ini mengibarkan bendera kemerdekaannya. Borneo dan Papua juga. Sejak lama simbol2 ini tabu dan sensi utk dikibarkan di NKRI,” kata Islah Bahrawai dikutip Ahad (16/8/2026).
Karena itu, dia menilai ada sesuatu yang sangat aneh jika pemerintah atau aparat pemerintah terus menyuarakan optimisme tinggi di tangan pemerintahan saat ini.
Peringatan-peringatan bendera ini terjadi dengan ricuh dan konflik masyarakat dengan aparat, salah satunya di Masjid Raya Baiturrahman. Kericuhan dengan aparat keamanan terkait pengibaran bendera oleh masyarakat pribumi.
[]
foto. Ilustrasi