Sholat Istisqa Minta Hujan dan Tata Caranya

ARASYNEWS.COM –

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 44)

Hujan dan air merupakan sumber kehidupan dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi manisia, dan tiada keraguan di dalamnya. Keberadaan agar makhluk di bumi bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tapi, menolak hujan bukan berarti menolak rezeki dari Allah.

Membaca menolak doa disaat hujan deras biasanya dilakukan karena hujan yang turun mendatangkan musibah seperti tanah longsor dan banjir. Sehingga doa agar hujan berhenti menjadi satu hal yang penting untuk diketahui.

Disisi lain, hujan terkadang tidak turun dalam kurun waktu yang lama, sehingga m, kondisi lingkungan menjadi kering, persediaan air untuk kebutuhan sehari-hari semakin menipis, dan risiko kekeringan yang mengancam keselamatan makhluk hidup akan meningkat.

Ini merupakan kondisi sulit yang sering terjadi dalam waktu tertentu, termasuk di Indonesia saat musim kemarau panjang melanda. Namun, terdapat amalan yang bisa dilakukan untuk memohon turunnya hujan dari Allah, yaitu shalat istisqa. Dengan shalat istisqa, Anda bisa memohon rahmat hujan dan memohon perlindungan Allah dari risiko kekeringan dan kemarau panjang.

  1. Doa meminta turun hujan yang diajarkan Rasulullah

Doa minta turun hujan atau doa istisqa merupakan doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Kala itu, Rasulullah tengah menghadapi kekeringan dan meminta pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menurunkan hujan.

Sebelum membaca doa istisqa, Rasulullah terlebih dahulu membaca doa kurab yang merupakan doa saat berada dalam kesusahan. Hal ini tercantum dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ العَظِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ

Lā ilāha illallāhul ‘azhīmul halīmu, lā ilāha illallāhu rabbul ‘arsyil ‘azhīmi, lā ilāha illallāhu rabus samāwāti wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil karīmi.

Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah yang agung dan santun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Arasy yang megah. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan Arasy yang mulia.”

Sedangkan untuk doa saat kemarau panjang untuk memohon turun hujan adalah sebagai berikut:

Yā hayyu, ya qayyūmu, bi rahmatika astaghītsu.

Artinya, “Wahai Zat yang maha hidup dan maha tegak, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan,”

  1. Bacaan dan arti doa minta turun hujan

Doa istisqa untuk meminta hujan adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī‘an (lan riwayat murī‘an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman.

Artinya: “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi.”

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ

Allāhummasqināl ghaitsa, wa lā taj‘alnā minal qānithīn.

Artinya: “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan .”

اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْبَهَائِمِ وَالْخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ

Allāhumma inna bil ‘ibādi wal bilādi wal bahā’imi wal khalqi minal balā’i wal juhdi wad dhanki mā lā nasykū illā ilaika.

Artinya: “Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu .”

اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Allahmma aghitsnaa, allahumma aghitsnaa, allahumma aghitsnaa.

Artinya: “Ya Allah! Berilah kami hujan. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah! Hujanilah kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

Allahummasqi ‘ibaadaka wabahaa imaka, wansyur rahmataka, wa ahyi baladakalmayyita.

Artinya: “Ya Allah! Berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu, hewan ternak, berilah rahmat-Mu dengan merata, dan suburkan bumi-Mu yang tandus.” (HR. Abu Daud)

Tata cara pelaksanaan sholat.

Dilansir dari berbagai tausiyah, berikut kami merangkum niat shalat istisqa beserta tata cara dan doanya yang bisa dipraktikkan.

Sama seperti amalan shalat lainnya, shalat istisqa diawali dengan membaca bacaan niat terlebih dahulu. Membaca niat shalat, termasuk dalam shalat sunah, merupakan hal wajib yang harus dilakukan.

Dengan membaca niat, Anda bisa menyampaikan maksud pelaksanaan ibadah dengan jelas. Membaca niat shalat juga menunjukkan sikap baik saat hendak menghadap dan memohon kepada Allah. Berikut lafal niat shalat istisqa yang perlu dibaca:

Ushallī sunnatal istisqā’i rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”

Setelah membaca niat, terdapat beberapa tata cara shalat istisqa yang perlu diperhatikan. Mulai dari membaca takbir pada setiap rakaatnya, melaksanakan khutbah, hingga membaca doa. Berikut tata cara shalat istisqa yang perlu diperhatikan:

  • Membaca lafal niat shalat istisqa.
  • Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  • Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  • Melaksanakan khutbah sebanyak dua kali atau sekali sebelum (atau setelah) shalat. Namun lebih diutamakan pelaksanaan khutbah setelah shalat.
  • Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
  • Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
  • Perbanyak doa dalam khutbah kedua.

Setelah mengetahui niat dan tata cara shalat istisqa, berikutnya terdapat doa-doa khusus yang dapat dibaca setelah selesai menunaikan shalat istisqa. Pembacaan doa istisqa untuk meminta turunnya hujan dianjurkan sebanyak mungkin saat musim kemarau atau paceklik. Dalam hal ini, ada baiknya mengawali doa istisqa dengan doa kurab, yaitu doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian doa istisqa bisa dilanjutkan dengan sejumlah rangkaian doa yang diriwayatkan Imam As-Syafi’i, Abu Dawud, dan parawi lainnya, yaitu sebagai berikut:

Allāhummasqinā ghaitsan mughītsan hanī’an marī‘an (lan riwayat murī‘an) ghadaqan mujallalan thabaqan sahhan dā’iman.

Artinya, “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi.”

Allāhummasqināl ghaitsa, wa lā taj‘alnā minal qānithīn.

Artinya, “Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan .”

Allāhumma inna bil ‘ibādi wal bilādi wal bahā’imi wal khalqi minal balā’i wal juhdi wad dhanki mā lā nasykū illā ilaika.

Artinya, “Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu .”

Allāhumma anbit lanaz zar‘a, wa adirra lanad dhar‘a, wasqinā min barakātis samā’i, wa anbit lanā min barakātil ardhi.

Artinya, “Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu.”

Allāhummarfa‘ ‘annal jahda wal jū‘a wal ‘urā, waksyif ‘annal balā’a mā lā yaksyifuhū ghairuka.

Artinya, “Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu.”

Allāhumma innā nastaghfiruka, innaka kunta ghaffārā, fa arsilis samā’a ‘alainā midrārā.

Artinya, “Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.”

[]

You May Also Like