ARASYNEWS.COM – Massa gabungan dari berbagai elemen masyarakat berkumpul di depan Gedung Putih hingga Times Square, New York, sejak 28 Februari 2026 hingga kini. Mereka menyuarakan penolakan terhadap keterlibatan militer AS yang dinilai ilegal dan berbahaya dan bahkan menyebabkan pemimpin Iran Ali Khamenei, tewas.
Aksi-aksi tersebut digelar oleh koalisi sejumlah organisasi aktivis, termasuk Palestinian Youth Movement, Democratic Socialists of America, Code Pink, dan The People’s Forum. Mereka merencanakan berbagai aksi sepanjang akhir pekan di sejumlah kota besar.
Dalam laporan The Guardian, Senin (2/3/2026), aksi demontrasi semakin meluas di berbagai kota di Amerika Serikat (AS).
Aksi tersebut dipicu kemarahan publik (warga Amerika Serikat) terhadap keputusan Presiden Donald Trump yang dianggap melancarkan serangan tanpa persetujuan Kongres.
Koalisi luas organisasi masyarakat sipil dan kelompok progresif juga mengorganisir puluhan aksi di berbagai kota besar seperti Washington DC, New York, Los Angeles, hingga Chicago.
Langkah Trump ini, menurut para demonstran, sebagai pelanggaran konstitusi dan berpotensi menyeret AS ke perang panjang di Timur Tengah hingga merusak perdagangan internasional.
Aksi turun ke jalan ini menjadi respons atas eskalasi konflik yang memicu ketegangan kawasan Timur Tengah dan kekhawatiran akan perang lebih luas.
“Serangan ilegal dan tanpa provokasi Trump terhadap Iran adalah tindakan perang yang mengancam akan menyebabkan kematian dan kehancuran yang tak terbayangkan. Tetapi rakyat negara ini menolak perang tanpa akhir lainnya dan akan turun ke jalan sekarang dan menyuarakan pendapat kami,” dikutip dari BBC dalam penyampaian koalisi aksi.
Selain tekanan dari jalanan, lembaga hak sipil seperti American Civil Liberties Union bersama sejumlah anggota parlemen mendesak Kongres segera bertindak menghentikan penggunaan kekuatan militer yang dinilai inkonstitusional.
Di sejumlah kota AS, para demonstran membawa poster bertuliskan anti-perang dan menyerukan penghentian intervensi militer.
Para demonstran pun beramai-ramai mengancingkan jari tengah ke Trump di depan gedung presiden tersebut. Bahkan membuat boneka besar dan kemudian ditendang beramai-ramai.
Mereka menilai serangan tersebut berisiko memperluas konflik regional dan menempatkan warga sipil dalam bahaya.
Para aktivis juga menuntut transparansi pemerintah terkait operasi militer tersebut serta mendesak Kongres AS untuk mengambil langkah menghentikan eskalasi.
Sementara itu, aparat keamanan AS berusaha memberikan perlindungan pada Trump.
Aksi para demonstran ini menjadi simbol perlawanan terhadap perang dan pesan kuat bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan konflik baru yang dibawa Donal Trump.
Diketahui, sebelumnya, Amerika Serikat (Donal Trump) bersama Israel melakukan penyerangan ke Iran. Dan Iran pun melakukan serangan balasan di berbagai pangkalan militer milik AS di Timur Tengah, yakni di UEA, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Situasi semakin memanas setelah Teheran pada Ahad dini hari mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun), menyusul pemboman AS-Israel terhadap ibu kota Iran pada Sabtu.
Disisi lain, pasca kematian pemimpin Iran, pemerintah Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung nasional.
Dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan, kematiannya akan menjadi awal dari “kebangkitan besar melawan para tiran dunia” dan dikibarkannya bendera merah.
Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih tegang dengan potensi balasan lanjutan dari berbagai pihak. Sementara itu, aksi-aksi solidaritas dan protes diperkirakan terus berlanjut di berbagai kota Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang.
[]