Puluhan Anak Belajar di Bawah Pohon Sawit Karena Tanah Sekolah Disita
ARASYNEWS.COM – Viral di berbagai media, penampakan video puluhan anak belajar ditemani guru di bawah pohon sawit. Ini terjadi pada hari pertama sekolah di desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Ada sebanyak 58 siswa Sekolah Dasar yang terpaksa mendapatkan hal itu lantaran pihak sekolah tidak dapat izin menerima murid baru untuk tahun ajaran 2025. Mereka adalah murid baru di sekolah.
Sementara itu, murid lama sekitar 455 siswa masih tetap bisa belajar.
Dalam keterangan Abdul Aziz, juru bicara warga di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Riau, sekolah itu adalah sekolah SD 20 di Dusun Taro Jaya.
SD 20 tersebut dikategorikan sebagai “kelas jauh” dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga, yang merupakan sekolah induk. Tapi, sekolah induk itu lokasinya terlalu jauh dari dusun warga.
“Anak-anak dalam video itu adalah siswa baru sekolah dasar, jumlahnya ada 58 orang. Hari pertama mereka masuk sekolah. Tapi, ya terpaksa belajar di tanah di dalam kebun sawit seperti yang terlihat dalam video viral itu,” kata Aziz.
“Jarak tempuh ke sekolah utama itu sekitar 2 jam. Jadi tidak mungkin kalau orangtua harus mengantar ke sana,” kata Aziz.
Disebutkan juga, satgas PKH (penertiban kawasan hutan) telah menyita lahan yang digarap warga di TNTN yang di dalamnya terdapat disun Taro Jaya.

Beberapa waktu lalu, pemerintah melalui Satgas PKH meminta warga melakukan relokasi mandiri, namun masih banyak yang menolak dan masih bertahan dengan alasan lahan itu dibeli secara sah.
Diketahui, SD 20 merupakan kelas jauh dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga. SD itu baru saja berstatus negeri pada September 2024. Namun sejak penyitaan lahan, orangtua diminta mendaftarkan anak ke SD induk yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan.
Maka dari itu, warga berinisiatif membangun tenda sederhana dari terpal plastik di luar kawasan TNTN agar anak-anak tetap bisa belajar. Dan tenaga pengajar yakni seorang guru diminta untuk membantu memberikan pengajaran secara sukarela.
Melihat kondisi ini, tidak sedikit orang tua yang terharu dan menangis menyaksikan anak-anak mereka belajar dalam kondisi darurat di alam terbuka.
“Tidak ada solusi, masyarakat disuruh mencari solusi sendiri, enggak mengerti lagi lah,” tukas Aziz.
Pemerintah, diharapkan memberikan solusi agar anak-anak mendapat tempat yang layak untuk mendapatkan pelajaran.
Adapun untuk hari kedua, kata Aziz, warga berupaya memindahkan kegiatan belajar ke sebuah mushalla yang berada di luar kawasan TNTN.
[]