Pemeriksaan Satwa Liar Dilindungi di Hutan Riau

ARASYNEWS.com — Baru-baru ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau turun ke lapangan demi memastikan satwa liar dilindungi yang ada di wilayah Riau. Tim didampingi tim dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) karena lokasinya berada di dalam kawasan perusahaan, yakni di hutan tanaman industri Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Salah satu satwa yang diperiksa adalah seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) betina.

Perhatian ini karena usianya yang diperkirakan telah menginjak 60 tahun.

Beberapa langkah pemeriksaan medis dilakukan. Karena sebelumnya, kondisi gajah ini sempat kritis akibat dehidrasi, gangguan pencernaan akut, hingga mengalami prolapsus ani (pencernaan keluar dari anus). Tubuhnya saat itu kurus.

Pemeriksaan didampingi drh. Rini Deswita, tim medis BBKSDA Riau.

Dalam keterangannya yang dikutip, Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menyebutkan dari hasil pemeriksaan menyeluruh, berat badan sang gajah kini diperkirakan telah melesat mencapai 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 cm dan tinggi badan 230 cm.

Dikatakan Kepala Balai, meski kondisinya sudah mulai membaik, tapi bisa saja tantangan biologis alami datang akibat faktor usia.

“Hasil pemeriksaan mendeteksi adanya anismus, yaitu melemahnya fungsi otot anus,” ungkap kepala balai, Senin (6/7).

Kondisi ini membuat feses kerap menggantung dan memicu aroma tidak sedap dari tubuhnya. Dan aroma kurang sedap inilah yang belakangan sempat memicu kekhawatiran warga sekitar kebun yang menyangka sang gajah sedang sakit parah.

Ia juga menyebutkan, tantangan lainnya terletak pada fungsi kunyah. Gigi-gigi gajah tua ini telah mengalami keausan parah (aus), membuat proses pencernaan pakan berserat tinggi tidak lagi sempurna. Sehingga akibatnya, gajah ini sering menghasilkan feses yang kasar dan sesekali mengalami diare.

Sementara itu, saran dari tim medis untuk mengatasinya, gajah ini secara alami beradaptasi dengan mencari sumber pakan yang lebih empuk dan lunak di sekitar kebun masyarakat, seperti ubi kayu, batang pisang, rumput segar, hingga tanaman sawit muda.

“Tim medis juga memberikan terapi suportif berupa obat-obatan penguat dan cairan infus untuk menjaga kestabilan fisiologisnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dikatakannya, aksi penyelamatan dan pengecekan berkala akan terus dilakukan dalam menjaga rantai konservasi berbasis kesejahteraan satwa.

Tak lupa, kepala balai mengimbau dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kelestarian habitat gajah, menghentikan segala bentuk perburuan liar, dan memanfaatkan layanan call center resmi jika menemukan satwa yang membutuhkan pertolongan medis darurat di lapangan.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like