Makhluk yang Kerap Menghuni Bangunan Kosong atau Ditinggal Dalam Waktu Lama

ARASYNEWS.COM – Dalam kepercayaan masyarakat Indonesia dan pandangan spiritual tertentu, bangunan seperti rumah atau kantor yang kosong, kotor, dan jarang digunakan cenderung menjadi tempat tinggal makhluk halus atau jin.

Ada beberapa jenis entitas yang sering dikaitkan dengan tempat kosong:

-Jin dan Setan: Menurut keyakinan, jin, khususnya jin kafir atau setan, menyukai tempat-tempat yang lembap, kotor, gelap, dan tidak pernah dibacakan ayat suci atau doa. Rumah kosong dianggap sebagai “rumah” bagi mereka.

-Jin Dasim: Salah satu jenis jin yang diyakini suka menimbulkan konflik di rumah, menetap di rumah yang jarang berpenghuni, atau menimbulkan rasa takut yang tiba-tiba di ruangan kosong.

-Sosok Lokal (Genderuwo/Kuntilanak): Seringkali, urban legend menyebutkan tempat kosong, terutama gedung tua atau perkantoran lama, dihuni oleh sosok seperti kuntilanak (sering dikaitkan dengan tempat gelap) atau genderuwo (tempat lembap/pojok ruangan).

-Energi Negatif atau Makhluk Pengganggu: Rumah yang ditinggalkan lama dipercaya menarik energi negatif atau entitas halus yang sering mengeluarkan suara-suara aneh, seperti suara menyapu atau langkah kaki.

Mengapa Mereka Menghuni Tempat Kosong?

-Tidak Ada Pemilik: Jin dan setan dianggap lebih menyukai tempat yang tidak dihuni oleh manusia agar tidak terganggu.

-Kotor dan Tidak Terawat: Tempat yang kotor dan jarang dibersihkan adalah lingkungan yang disukai oleh makhluk halus.

-Tempat Gelap dan Lembap: Sudut-sudut ruangan yang gelap dan lembap sering dijadikan tempat menetap.

Cara Mencegah/Mengatasi:
Dalam pandangan Islam, dianjurkan untuk sering-sering mendirikan shalat, membaca Al-Quran, dan menjaga kebersihan rumah agar tidak menjadi tempat tinggal jin.

Rumah yang Ditinggal Kosong dalam Waktu Lama akan Dihuni Jin

Rumah merupakan tempat tuduh untuk para manusia. Tetapi, ada beberapa mitos mengenai rumah yang beredar. Salah satunya adalah meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang lama akan diganti penghuninya oleh bangsa jin.
Lantas, apakah hal itu benar?

Seperti yang kita ketahui, jin bisa tinggal di mana saja yang dia inginkan. Tetapi perlu diketahui, mereka juga memiliki kriteria khusus yang dapat menjadi acuan untuk menentukan tempat tinggalnya. Jin sendiri mempunyai energi yang berbeda dan juga durasi umur yang berbeda di Bumi.

Dalam riwayatnya, jin dikaitkan lebih tua dari manusia, sehingga sifat dari senioritas mereka pun melekat dan enggan tunduk pada manusia sebagai makhluk berakal. Karena itu, jin akan hindari kontak dengan manusia dan akan mencari bangunan atau rumah tua yang terbengkalai untuk dijadikan rumahnya.

Dengan kata lainnya, dia akan mengakuisisi rumah kosong itu menjadi rumahnya dan para manusia akan sulit mengusirnya. Ini dikarenakan masalah ego yang dimiliki oleh jin karena merasa lebih senior

Dalam Islam, juga diajarkan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk lain yang tidak tampak oleh penglihatan manusia, yaitu golongan jin dan setan.

Secara etimologis, kata “jin” berasal dari bahasa Arab janna atau ijtinan yang berarti “tersembunyi” atau “tidak terlihat.” Berbeda dengan manusia, yang diciptakan dari tanah, jin diciptakan dari unsur api (naar) dan memiliki kemampuan melihat manusia, sementara manusia tidak dapat melihat mereka.

Makhluk jin digambarkan sebagai makhluk yang mampu berubah bentuk, menjelma dalam ukuran besar maupun kecil, dan sebagian dari mereka memiliki ciri seperti tanduk, ekor, bahkan kemampuan untuk terbang. Jin juga berkembang biak layaknya manusia.

Alasan Jin Suka Menetap di Bangunan Kosong

Dalam buku Sejarah Agama Manusia, jin disebut menyukai tempat-tempat yang kotor, lembap, dan tidak terawat, serta lokasi-lokasi yang sepi dari aktivitas manusia, seperti kuburan, bangunan rumah kosong, gua, gunung, laut, padang pasir, pepohonan besar, hingga batu-batu besar.

Bangsa jin lebih memilih tinggal di tempat yang tidak dihuni manusia, seperti padang pasir, hutan, rumah kosong dan lain sebagainya.

Berdasarkan gambaran tersebut, para ulama kemudian menjelaskan bahwa rumah yang dibiarkan kosong dalam waktu lama memiliki karakteristik yang mirip dengan tempat-tempat yang memang disukai jin, yaitu sepi, tidak terawat, dan minim aktivitas manusia. Karena itu, rumah kosong menjadi salah satu lokasi yang cenderung dihuni oleh mereka.

Syaikh Wahid Abdussalam Bali menceritakan bahwa beliau pernah bertanya kepada jin muslim, “Apakah kamu tinggal di dalam toilet?” Jin itu menjawab, “Tidak.” Syaikh Wahid kemudian bertanya lagi, “Padahal dalam hadits disebutkan bahwa bangsa jin tinggal di toilet dan tempat-tempat kotor.” Jin tersebut menjawab, “Benar, tetapi itu khusus jin kafir. Mereka menyukai tempat yang najis dan kotor.” Syaikh Wahid lalu menambahkan pengamatannya bahwa jin-jin kafir memang sangat tidak menyukai bau harum, terutama wewangian seperti kesturi, sementara jin-jin muslim justru menyukainya sebagaimana manusia beriman.

Keterangan ini memperkuat hadits sebelumnya bahwa bangsa jin, terutama jin kafir, memang menyukai tempat-tempat yang kotor, baik secara lahir maupun maknawi. Secara lahir, jin menyukai tempat yang najis, kumuh, dan tidak terurus. Secara maknawi, mereka menyenangi lokasi-lokasi maksiat.

Dari sini dapat dipahami mengapa rumah atau ruangan yang dibiarkan kosong, jarang dimasuki, dan tidak terawat sering kali menjadi tempat favorit bagi jin. Tempat seperti itu lambat laun menjadi kotor, lembap, gelap, dan tidak tersentuh aktivitas manusia, sehingga semakin sesuai dengan sifat dan kesukaan mereka.

Meski rumah kosong lebih berpotensi menjadi tempat favorit bangsa jin karena jarang tersentuh manusia dan cenderung kotor, bukan berarti rumah yang dihuni pun aman sepenuhnya dari keberadaan atau gangguan mereka.

Dalam kondisi tertentu, rumah yang ditempati manusia juga bisa menjadi tempat masuknya jin, tergantung faktor-faktor yang memudahkan mereka untuk hadir atau bertahan di dalamnya.

Syaikh Usamah bin Yasin menjelaskan dalam buku Halal-Haram Ruqyah: Tuntunan Syariah Mengatasi Sihir, Gangguan Jin dan Berbagai Penyakit Rohani dan Jasmani karya Musdar Bustamam Tambusai, bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab munculnya gangguan jin di dalam rumah. Yang salah satu penyebabnya adalah sihir. Dalam banyak kasus, gangguan tersebut terjadi karena adanya praktik guna-guna atau tindakan sejenisnya. Tukang sihir biasanya mengutus jin untuk mengganggu penghuni rumah sesuai permintaan pihak tertentu.

Bentuk gangguannya pun bisa beragam, mulai dari mengusik kondisi fisik dan mental hingga mengganggu keadaan rumah itu sendiri, seperti memicu kebakaran atau kerusakan lain. Meski demikian, membuktikan adanya sihir secara pasti bukanlah hal yang mudah.

Penyebab lainnya adalah ketidaksengajaan penghuni rumah yang tanpa sadar menyakiti jin yang kebetulan berada di tempat tersebut. Misalnya, menyiram air panas ke sudut gelap rumah atau ke kamar mandi di mana jin mungkin sedang berada. Atau juga ada benda-benda yang disukai mendatangkan jin seperti patung dan lukisan.

Secara prinsip, pemilik rumah memang bebas melakukan atau meletakkan apa pun di dalam rumahnya. Namun bila keberadaan atau aktivitas tersebut secara tidak sengaja menyakiti jin yang sedang berada di dalamnya, ia bisa marah dan membalas dengan mengganggu. Karena itu, menjaga suasana rumah dan isi rumah agar tetap bersih secara lahir dan batin menjadi sangat penting.

Untuk mencegah hal tersebut, rumah perlu dijadikan tempat yang tidak nyaman bagi jin, terutama jin yang jahat, misalnya dengan menghadirkan amalan-amalan yang membuat mereka enggan tinggal.

Rumah yang rutin dibacakan Al-Qur’an, dipenuhi dzikir, dan dihiasi kegiatan kebaikan biasanya lebih terlindungi dari gangguan semacam ini. Sebaliknya, rumah yang jarang diisi ibadah atau jauh dari dzikir akan lebih mudah ditempati dan diganggu oleh jin.

Dan yang juga penting dilakukan pemilik rumah adalah ketika memasuki rumah, hendaknya membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَوْلَجِ وَخَيْرَ الْمَخْرَجِ بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tempat masuk yang terbaik dan tempat keluar yang terbaik. Dengan Nama Allah kami masuk dan dengan Nama Allah kami keluar, dan pada Allah Tuhan kamilah kami bertawakal.” (HR. Abu Daud).

Dengan memahami hal ini semoga membantu kita menjaga rumah agar tetap aktif, bersih, dan tidak dibiarkan terbengkalai.

Aktivitas manusia di dalamnya menjadi bentuk penjagaan alami dari gangguan makhluk gaib.

[]

sc. Detik dan Liputan6

You May Also Like