Kebun Binatang Kasang Kulim Kedatangan Satwa Buaya Hasil Tangkapan Warga di Pasaman Karena Telah Memangsa Manusia

ARASYNEWS.COM – Kebun binatang Kasang Kulim di kota Pekanbaru kedatangan satwa dari kabupaten Pasaman Barat provinsi Sumatera Barat.

Satwa buaya ini ditangkap warga beberapa pekan lalu di Mandiangin Pasaman Barat. Buaya muara (Crocodylus porosus) berukuran besar itu ditangkap karena menggemparkan warga dan dikatakan telah memangsa manusia.

Buaya itu ditangkap warga dan dievakuasi hingga akhirnya dikirim ke Pekanbaru oleh pihak BKSDA Sumbar untuk dilakukan pengecekan dan perawatan.

Meskipun begitu, dalam proses penangkapan, tidak ada luka pada buaya muara tersebut.

Sebelumnya, seekor buaya berukuran lima meter di sungai Batang Mandiangin Nagari Katiagan kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) berhasil ditangkap setelah menyerang tiga orang dan menewaskan dua warga setempat.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Ardi Andono penyerangan buaya terhadap warga itu terjadi pada Januari lalu. Dan sebanyak dua orang tewas dan satu orang luka-luka akibat serangan buaya tersebut.

Pihaknya belum bisa memastikan keadaan kesehatan dari buaya yang diamankan langsung oleh warga tersebut.

“Untuk keadaan kesehatannya belum dicek secara keseluruhan dan saat ini buaya akan kita bawa dulu untuk dilakukan pengecekan,” katanya.

Ia mengatakan buaya tersebut belum akan dilepas di daerah Pasaman Barat, karena mendapat penolakan dari warga sekitar.

“Proses penangkapan buaya berukuran lima meter dengan diameter perut kurang lebih 70 cm itu dilakukan secara mandiri oleh warga Pasaman Barat,” jelasnya.

Ardi menuturkan warga juga menangkap buaya lainnya berukuran 1,5 meter di tempat yang sama dalam dua hari terakhir. Selain di Pasaman Barat, penangkapan buaya secara mandiri oleh warga juga terjadi di Padang Pariaman dan di Tigo Nagari, Pasaman.

“Total ada empat buaya yang ditangkap warga di Sumbar,” kata Ardi.

Kemudian, ia menyampaikan seluruh buaya sudah dievakuasi di tempat transit satwa. Pihaknya berterima kasih kepada warga yang telah memberi fasilitas mengangkut buaya.

Ia berharap konflik buaya dan manusia di Sumbar dapat mereda. Ia pun mendorong warga menyiapkan habitat untuk dijadikan penangkaran semi alami sebagai daya tarik wisata.

“Perlu dipertimbangkan adanya pakan dan pengelolaan yang baik terkait dengan penangkaran tersebut,” jelasnya.

Menurut Ardi, perilaku penyerangan buaya tersebut terjadi akibat fase siklus hidup buaya yang tengah memasuki musim kawin dan bertelur pada Januari hingga Maret.

Buaya yang akan kawin dan bertelur cenderung mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya. Terutama induk buaya, akan bersiaga di sarang telurnya.

“Induk buaya ketika menjaga telurnya akan sangat agresif dan sensitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia,” jelasnya.

Untuk mencegah konflik manusia dan buaya, Ardi mengimbau masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan jika menggunakan perahu di sungai dan tidak beraktivitas di wilayah yang potensial sebagai sarang buaya. []

You May Also Like