Keberadaan Surau Gadang Menjadi Saksi Penyiaran Agama Islam di Agam

ARASYNEWS.COM – Di dekat danau Maninjau, Jorong Mudiak, Nagari Duo Koto, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam berdiri sebuah masjid kayu berarsitektur Minangkabau. Masjid ini sebagai penanda perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Bangunan ini dikenal dengan nama Surau Gadang dan diperkirakan dibangun sejak abad ke 16, yakni sekitar tahun 1840 Masehi.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, tapi masjid ini belum masuk dalam daftar cagar budaya sehingga keberadaannya kurang terekspos sebagai saksi perkembangan Islam di Sumatera Barat.

Semua bangunan terbuat dan berlantai kayu andalas, Sedangkan atap masjid sebelumnya dibuat dari ijuk namun telah diganti dengan atap seng tapi dengan tampilan yang sama menjulang tinggi dan bertingkat-tingkat.

Bangunan masjid tersebut sangat dirawat masyarakat setempat, karena sangat langka masih ada surau tua dengan tonggak besar yang berupa kayu macu yang utuh, serta ada delapan tonggak pendampingnya.

Di halaman surau tuo ini ada kolam ikan yang sumber airnya memiliki mata air yang jernih digunakan untuk tempat berwudhu dan pemandian warga.

Menurut salah sorang tokoh masyarakat Surau Gadang dibangun sekitar tahun 1840 oleh Syekh Abdullah. Kemudian dilanjutkan muridnya Haji Hasanuddin. Kedua ulama tersebutlah yang menyiarkan Islam di Koto Baru, Jorong Mudiak, Nagari Duo Koto tersebut.

Dalam keterangannya, kayu surau diambil dari hutan daerah Taban, 2 km dari Surau Gadang.

Konon menurut orang tua-tua dulu, untuk mendirikan tonggak macu yang besar dan tinggi sekitar 10 meter itu dilakukan zikir sebelumnya.

Masih dalam cerita masyarakat, pada zaman pergolakan dulu, ada tentara yang memanfaatkan surau ini sebagai tempat persembunyian. Namun karena sempat berbuat tidak sesuai ajaran Islam, tiba-tiba ular besar datang dari atas tonggak macu, sehingga seluruh tentara tersebut langsung berhamburan keluar surau

Dulunya, syiar Islam didomimasii Tarikat Syatariah dan Tarikat Naqsabandiyah. Islam semakin berkembang sejak Syekh Burhanuddin kembali menyiarkan Islam, setelah belajar banyak dari guru besarnya di Aceh, Syekh Abdur Rauf As-Singkili.

Sejak itu, penyiaran Islam di Ranah Minang terus berkembang pesat. Hal tersebut juga berkembang pesat di Selingkar Danau Maninjau berpusat di Nagari Sungai Batang dulunya. Berkembang sampai ke Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Salah satu bukti kuat perkembangannya adalah berdirinya Surau Gadang ini. []

You May Also Like