Dari Pabrik PLTU Menjadi Gudang Senjata, Hingga Berubah Menjadi Masjid

ARASYNEWS.COM – Masjid Agung Nurul Islam atau juga dikenal sebagai Masjid Agung Sawahlunto adalah salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto. Lokasinya berada di pusat kota Sawahlunto.

Bangunan utama masjid ini berukuran 60×60 meter dan memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Bangunan ini sarat dengan gaya arsitektur Belanda.

Di bawah bangunan masjid ini terdapat lubang perlindungan yang dulunya tempat merakit senjata dan menyimpan granat tangan dan mortir.

Awal bangunan ini pada masa penjajahan Belanda merupakan bangunan pusat pembangkit listrik bertenaga uap. Bangunan itu dibangun pada tahun 1894.

ruang basement di bagian bawah terdapat lorong-lorong dan pilar-pilar bata dan semen coran yang berlapis bentuknya menyerupai labirin. Pernah dijadikan lubang perlindungan. Pilar-pilar basement itu juga menjadi pondasi bangunan masjid yang dulunya sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir.

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik, pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894. Namun, mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia Belanda membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.

Bangunan PLTU dan gudang senjata di Kubang Sirakuak ini sudah sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto.

Selama revolusi Indonesia sebelum akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952, sementara bangunan cerobong asap setinggi lebih dari 75 meter kemudian dijadikan sebagai menara masjid dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.

Bangunan masjid ini cukup unik. Bentuknya tidak seperti masjid-masjid lain yang ditemukan daerah Sumatera Barat. []

You May Also Like