Hasil Laboratorium Penyebab Matinya Anak Gajah Binaan di TNTN Riau

ARASYNEWS.COM, PELALAWAN – Kalista Lestari atau Tari yang merupakan anak gajah binaan di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ditemukan mati mendadak setelah sepuluh hari perayaan hari ulang tahunnya. Ia tergelak tak bergerak disamping induknya yang ditemukan pertama kali oleh Mahout.

Kemudian dari hasil pemeriksaan sampel di laboratorium di Bogor, akhirnya diketahui penyebab kematiannya dan disampaikan Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro.

Heru menyebutkan, anak gajah itu mati mendadak akibat serangan virus Elephant Endotheliotropic Herpesviruses (EEHV), yang dikenal sangat mematikan bagi anak dan remaja gajah.

Virus ini, kata Heru, berkembang sangat cepat dan menyerang organ hati Tari.

EEHV merupakan virus herpes yang dapat menyebabkan penyakit hemoragik parah dan seringkali fatal. Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan virus ini adalah kecepatan serangannya yang luar biasa. Gajah yang terinfeksi bisa menunjukkan gejala ringan seperti lesu atau hilangnya nafsu makan, namun kondisinya dapat memburuk drastis dalam hitungan jam.

“Balai Taman Nasional Tesso Nilo menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium terkait penyebab kematian anak gajah binaan kami, Kalistha Lestari (Tari). Berdasarkan hasil uji laboratorium yang telah dilakukan oleh tim berwenang, Tari dinyatakan positif terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV). Pada kasus Tari, virus ini menyerang organ hati,” terang Heru, dikutip Senin (15/9)

“EEHV merupakan jenis virus herpes yang khusus menyerang gajah, terutama anak gajah. Penyakit ini dikenal mematikan karena perkembangannya sangat cepat dan sulit ditangani. Penting untuk dipahami bersama, virus ini hanya menular antar gajah dan tidak ada pengaruh dari pengunjung maupun interaksi manusia,” terang Heru.

“Tim Elephants Flying Squad dan para mahout telah berupaya maksimal memberikan perawatan terbaik. Namun, takdir berkata lain. Kehilangan Tari menjadi duka besar bagi kami semua,” kata Heru.

Menurut Heru, hingga saat ini belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah penularan ataupun menghambat virus EEHV.

Dikatakannya, dari hasil pengalaman di Aceh, virus ini dari mulai timbul gejala sampai gajah mati itu, hanya butuh waktu empat jam.

Lebih lanjut, dikatakannya, untuk menghadapi ancaman EEHV, Balai TNTN tengah melakukan berbagai upaya pencegahan. Upaya utama yang dilakukan adalah menjaga sanitasi lingkungan gajah dan melakukan uji laboratorium segera jika ada gajah yang menunjukkan gejala sakit. Sampel seperti air liur dan darah akan diperiksa untuk mendeteksi virus sejak dini.

Namun, Heru mengakui adanya tantangan besar dalam upaya pencegahan ini. Berbeda dengan gajah di kebun binatang, gajah di Balai TNTN hidup dalam kondisi semi-liar di hutan.

Dan dalam menghadapi serangan virus ini, menurut Heru, adalah daya tahan tubuh gajah. Untuk meningkatkan imunitas, Balai TNTN kini memberikan suplemen tambahan seperti vitamin dan mineral.

“Gajah kita kan semi liar, jadi memang hidupnya habitatnya di hutan liar. Itu yang agak sulit kita kondisikan seperti halnya di kebun binatang. Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan infus dan nutrisi,” ungkap Heru.

“Kalau memang ada virus itu, tapi memang tergantung daya tahan tubuh. Kalau daya tahan tubuh gajah kuat bisa menghadapi serangan virus itu. Cuma kalau lemah, bisa masuk,” sebutnya.

Saat ini, tujuh ekor gajah di flying squad TNTN menjadi perhatian khusus, termasuk Domang yang masih anak-anak, serta gajah-gajah remaja seperti Imbo, Tesso, dan Harmoni. Gajah-gajah ini, yang usianya di bawah sepuluh tahun, sangat rentan terhadap virus EEHV. Kasus kematian Tari menjadi pengingat bagi semua pihak terkait akan bahaya EEHV yang terus mengintai populasi gajah Sumatera yang terancam punah.

“Kami mengucapkan terima kasih atas doa, perhatian, dan kepedulian teman-teman semua terhadap Tari. Semoga kepergian Tari menjadi pengingat pentingnya upaya bersama dalam menjaga dan melindungi satwa liar, khususnya gajah sumatra yang saat ini keberadaannya kian terancam. Mari terus bersama menjaga kelestarian hutan dan satwa di dalamnya,” pungkas Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro. []

You May Also Like