ARASYNEWS.COM – Allah SWT menyebutkan tentang gunung yang dituliskan dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal ini menjadi peringatan kepada umat tentang kebesaran-Nya dan sesuatu yang pasti akan terjadi.
Dalam Al-Qur’an, gunung disebutkan dalam beberapa ayat. Gunung sebagai pasak bumi yang menstabilkan bumi, ini terdapat dalam surah QS. An-Nahl: 15 dan QS. An-Naba’: 6-7.
Kemudian, sebagai tempat berlindung yang disebutkan dalam QS. An-Nahl: 81. Serta sebagai tanda kebesaran Allah, dalam QS. Ar-Ra’d: 3, dengan kekuatannya yang luar biasa dalam QS. Al-A’raf: 143.
Kata “gunung” juga muncul dalam konteks akhir zaman, di mana gunung akan menjadi seperti bulu yang berterbangan, dalam QS. Al-Ma’arij: 9. Dan juga disebutkan dalam QS lainnya.
Dari sekian banyak gunung yang ada di bumi, ada satu yang memiliki sejarah dalam perkembangan agama Islam, yakni gunung Hira, di mana Nabi Muhammad SAW. menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui malaikat Jibril.
Peristiwa ini menandai awal kenabian Muhammad dan merupakan momen penting dalam sejarah Islam.
Dalam Al-Qur’an, gunung disebutkan sebagai satu di antara tanda kekuasaan Allah SWT yang menakjubkan. Dan gunung dalam Islam bukan hanya fenomena alam yang indah, tetapi juga sarat dengan makna spiritual, simbol keteguhan iman, tempat peristiwa bersejarah, dan pengingat akan kebesaran-Nya.
Berikut beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang gunung
وَّ سُيِّرَتِ الۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا
Artinya: “Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’: 20)
وَتَرَى الۡجِبَالَ تَحۡسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِىَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِؕ صُنۡعَ اللّٰهِ الَّذِىۡۤ اَتۡقَنَ كُلَّ شَىۡءٍؕ اِنَّهٗ خَبِيۡرٌۢ بِمَا تَفۡعَلُوۡنَ
Artinya: “Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml: 88)
وَاِذۡ نَـتَقۡنَا الۡجَـبَلَ فَوۡقَهُمۡ كَاَنَّهٗ ظُلَّةٌ وَّظَنُّوۡۤا اَنَّهٗ وَاقِعٌ ۢ بِهِمۡ ۚ خُذُوۡا مَاۤ اٰتَيۡنٰكُمۡ بِقُوَّةٍ وَّاذۡكُرُوۡا مَا فِيۡهِ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami firmankan kepada mereka), Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 171)
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ٢١
Artinya: “Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21)
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا . وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’: 6-7)
وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا
Artinya: “Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?” (QS. Mursalat: 27)
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ . وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ .
Artinya: “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” (QS. Al Gasyiyah: 17-19)
وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya: “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 15)
فَفَهَّمْنَٰهَا سُلَيْمَٰنَ ۚ وَكُلًّا ءَاتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَٱلطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَٰعِلِينَ
Artinya: “Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.” (QS. Al-Anbiya: 79)
Bencana dari Gunung dan erupsi
Bagi seorang muslim yang beriman, seharusnya berbagai kondisi dan fenomena alam akan membuat kita sadar dan tunduk akan kekuasaan Allah.
Erupsi gunung yang terjadi ini sebagai peringatan dan penanda yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman.
Untuk itu, mari kita telaah ayat-ayat dalam Al-Quran yang membahas tentang Gunung dan Erupsi. Terutama tentang fenomena alam yang kini tengah terjadi pada saudara-saudara di sekitar Gunung.

Doa ketika terjadi erupsi gunung
Dalam ajaran Islam, orang yang berada dalam situasi bahaya tidak hanya diminta untuk menyelamatkan diri, tetapi juga berdoa dan kembali ke jalan Allah. Hal ini dilakukan sebagai wujud kepasrahan seseorang kepada Allah yang mampu mengendalikan seluruh bahaya
Saat terjadi erupsi gunung, sebagai umat yang beriman, dapat memanjatkan beberapa doa, seperti doa memohon perlindungan dari bencana seperti reruntuhan, tergelincir,
- Doa memohon perlindungan dari bencana gunung meletus
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدْمِ وأعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وأعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ وَالحَرَقِ وَالهَرَمِ وَأعُوذُ بِكَ أن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطانُ عِنْدَ المَوْتِ وأعُوذُ بِكَ أنْ أمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِراً وأعُوذُ بِكَ أن أمُوتَ لَديغاً
Allâhumma innî a‘ûdzubika minal hadmi wa a‘ûdzubika minat taraddî wa a‘ûdzubika minal gharaqi wal haraqi wal harami wa a‘ûdzubika an yatakhabbathanîsy syaithânu ‘indal maut wa ‘aûdzubika an amûta fî sabîlika mudbiran wa a‘ûdzubika an amûta ladîghan.
Artinya: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari reruntuhan (longsor), dan aku berlindung pada-Mu dari tergelincir, dan aku berlindung pada-Mu dari tenggelam (banjir), terbakar, dan tak berdaya. Dan aku berlindung pada-Mu apabila syetan menjerumuskan padaku ketika akan mati, dan aku berlindung pada-Mu apabila mati dalam keadaan berbalik arah dari jalan-Mu (murtad), dan aku berlindung pada-Mu apabila mati karena disengat.” (HR Abu Daud)
- Doa agar terhindar dari bahaya gunung meletus
بِسْمِ اللَّهِ الَّذي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا في السَّماءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيم
Bismillâhil ladzî lâ yadlurru ma‘asmihi syaiun fil ardli wa lâ fis samâ-I wa huwas samî‘ul alîm.
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya sesuatu di bumi dan di langit tak dapat memberikan mudarat (bahaya). Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Pengetahui.”
- Doa saat tertimpa musibah gunung meletus
إنّاَ للهِ وإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أجِرْنِي فِي مُصِيبَتي وأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْها
Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘un. Allâhumma ajirnî fî mushîbatî wa akhlif lî khairan minhâ.
Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.”
- Doa selamat dari bencana gunung meletus
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.
Allahumma innii a-‘uudzubika min jahdil balaa-i, wa darakisy syaqaa-i, wa suu-il qadhaa-i, wa syamaatatil a’daa-i.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala (bencana), hinanya kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh.” (HR Bukhari dan Muslim).
Wallahu alam Bish sawab
[]