ARASYNEWS.COM – Hingga saat ini banyak statemen yang menyebutkan api yang membakar wilayah hutan dan lahan akibat kekeringan yang terjadi atau dalam masa musim kemarau jangka panjang.
Selain itu, dampak kebakaran hutan dan lahan yang timbul ini adalah secara buatan akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab dalam aktivitas membuka lahan dengan cara dibakar karena dianggap lebih cepat dan murah.
Hal lainnya yang menyebabkan terjadinya kebakaran akibat keteledoran manusia yang membuang sisa rokok yang masih menyala ke tempat yang rawan.
Sementara itu, untuk dibeberapa daerah, seperti di Riau, penyebaran kebakaran disebutkan banyak lahan gambut kering yang sangat rentan terbakar.
Kondisi itu menyebabkan api bisa menjalar dengan mudah diatas permukaan tanah, di dalam tanah pada lahan gambut, dan bahkan juga melalui udara akibat hembusan angin.
Kondisi kekeringan pada lahan dan rusaknya sistem drainase membuat lahan menjadi kekurangan air atau lebih kering. Ditambah lagi akibat adanya kanal-kanal yang sengaja dibuat sebagai anggapan untuk memudahkan mendapat sumber air untuk dilakukannya pemadaman jika terjadi kebakaran.
Penampakan seperti ini banyak terjadi di lahan-lahan perusahaan swasta.
Tetapi, jika dikaji lebih dalam, penyebab kebakaran ternyata bukan hanya melalui ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab. Ada kalanya hal itu terjadi secara alami.
Tentang api bisa ditimbulkan akibat panas yang dihasilkan dari gesekan benda dapat ditemukan dan dilakukan dalam berbagai hal di dunia ini, dan pengetahuan ini telah diajarkan dalam pelajaran di sekolah-sekolah.
Penjelasan ilmiah yang detail tentang ini yakni ketika dua benda digesekkan secara cepat, energi kinetik diubah menjadi energi panas. Jika intensitas gesekan cukup tinggi dan ada bahan yang mudah terbakar, panas ini dapat memicu pembakaran.
Kebakaran membutuhkan tiga unsur: bahan bakar (mudah terbakar), panas, dan oksigen. Gesekan menyediakan unsur panas, sementara bahan bakar dan oksigen sudah ada di lingkungan.
Sebagai contoh, gesekan pada batang kayu dengan kayu lainnya dapat menyebabkan panas dan terpercik api. Kemudian ditambah lagi adanya hembusan angin yang mengantar api ke dedaunan atau ranting kayu yang kering sehingga menimbulkan kebakaran.
Dan contoh gesekan kayu ini biasa dilakukan segelintir orang saat melakukan camping untuk membuat api unggun tanpa menggunakan alat pemecik api.
Contoh lainnya pada manusia purba yang menggunakan gesekan dua bilah kayu untuk membuat api. Gesekan berulang-ulang menghasilkan panas yang cukup untuk menyalakan api jika ada bahan bakar kering di sekitarnya.
Hal alami lainnya, panas bisa timbul akibat pencahayaan sinar matahari yang mengenai benda-benda yang rentan terbakar, seperti dicontohkan plastik atau kaca atau kaleng yang memantulkan dan menembus, kemudian mengenai benda-benda lain yang rentan terbakar, sehingga menyebabkan api dan kebakaran.
Hal alami ini tidak banyak diketahui oleh orang-orang. Dan pemerintah bersama instansi terkait lainnya hanya mengimbau dan akan memberikan sanksi tegas agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Jika dilihat dan ditelusuri pada wilayah-wilayah yang terbakar, asal mula api timbul pada kawasan yang bukan merupakan milik orang atau masyarakat, contohnya pada tebing atau hutan atau belukar yang tidak dilalui orang.
Disisi lain, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) menyatakan bahwa kebakaran akibat gesekan antar ranting kayu atau petir tidak mungkin terjadi adalah tidak sepenuhnya benar. Meskipun gesekan antar ranting kayu atau petir memang jarang menjadi penyebab utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla), namun tetap bisa menjadi pemicu terjadinya kebakaran jika kondisi lingkungan mendukung. BRIN menyatakan sebagian besar karhutla yang terjadi hanya disebabkan oleh aktivitas manusia.
Teori Segitiga Api
Teori segitiga api menjelaskan bahwa api terbentuk karena adanya tiga unsur yang saling berinteraksi, yaitu bahan bakar, panas, dan oksigen.
Jika salah satu dari ketiga unsur ini tidak ada, api tidak akan bisa menyala atau akan padam dengan sendirinya.
Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai ketiga unsur tersebut:
- Bahan Bakar: adalah zat yang dapat terbakar, seperti kayu, kertas, bensin, gas, dll.
- Panas: adalah energi yang diperlukan untuk mencapai suhu penyalaan bahan bakar, bisa berasal dari api, percikan api, atau sumber panas lainnya.
- Oksigen: adalah gas yang terdapat di udara dan diperlukan untuk mendukung terjadinya reaksi pembakaran.
Tambahan lainnya yang dapat memicu api adalah angin. Angin mendukung dapat membesarkan api.
Sementara itu, dalam pemadaman kebakaran, teori segitiga api ini menjadi dasar. Untuk memadamkan api, salah satu atau lebih dari ketiga unsur tersebut harus dihilangkan.
Misalnya, dengan mendinginkan bahan bakar, memutus pasokan oksigen (dengan menyelimuti api), atau menghilangkan bahan bakar.
[]