Bjorka Buka Kasus Kematian Munir di Orde Baru, 18 Tahun Terpendam

ARASYNEWS.COM – Hacker Bjorka yang mengklaim diri sebagai aktor di belakang layar peretasan informasi rahasia di Kemenkominfo dan Kemensetneg kembali menebar teror. Juga mendeklarasikan diri mendukung demonstran menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Sebagai bentuk dukungannya, hacker Bjorka mengumumkan akan membongkar data di aplikasi MyPertamina.

“Pesan terbaru dari BJORKA: Untuk dukung perjuangan rakyat Indonesia demo kenaikan harga BBM, saya akan publish database MyPertamina secepatnya,” tulis akun Opposite090192 pada Sabtu (10/9/2022) yang dia terjemahkan dari cuitan akun Bjorka.

Di samping itu, ia juga mengatakan pemimpin teknologi jangan seorang politisi atau tentara. Bjorka mengungkap betapa mudahnya membobol data yang dikelola pemerintah Indonesia.

Bjorka sempat curhat di Twitter, mengungkap alasan mengganggu Indonesia adalah cara baru untuk demonstrasi.

Dalam beberapa cuitannya, Bjorka mengungkapkan motifnya mengacak-acak data pemerintah. Dia melakukan aksi ini untuk seorang kawan asal Indonesia yang tinggal di Warsawa, Polandia. Sang teman disebut merupakan korban kebijakan RI di masa lalu, tepatnya masa Orde Baru pasca 1965. Jadi, jangan repot-repot mencari orangnya lewat Kemlu, kata dia.

Seperti diketahui, Munir merupakan aktivis HAM yang tewas dibunuh dengan diracun dalam penerbangan menuju Belanda, 7 September 2004 silam.

Kata Bjorka, orang ini mengurus dirinya sejak dia lahir. Sosok ini ingin pulang membangun Indonesia dengan teknologi. Meskipun, dia juga melihat hal yang menyedihkan untuk menjadi seorang seperti BJ Habibie. Sampai akhir hayatnya tahun lalu, sosok ini tidak bisa pulang ke Indonesia.

Bjorka mengatakan langkah dia mengganggu Indonesia adalah cara dia mewujudkan mimpi almarhum. Almarhum ingin Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Dalam artikel berjudul “Who Killed Munir?”, Bjorka menyebut nama Muchdi Purwoprandjono sebagai dalang pembunuhan Munir serta percakapan antara Pollycarpus dan Budi Santoso.

Bjorka merinci data diri dari Muchdi PR. Mulai dari nomor ponsel, alamat rumah, hingga nomor vaksin Covid-19 yang pernah diikuti yang bersangkutan.

Hal itu ia lakukan terkait ada hubungannya dengan kasus kematian Munir Said Thalib.

“Saya akan memberi tahu anda sebuah nama jika anda bertanya siapa sosok dibalik kematian Munir. Dia adalah Muchidi Purwopranjono yang saat ini duduk sebagai ketua umum partai berkarya,” tulis Bjorka

Bjorka mengurai bagaimana Muchidi menjadi dalang atas kematian Munir. Menurut peretas yang dikatakan berasal dari Polandia ini, Muchidi yang saat itu menjabat sebagai kepala deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) tahun 2003 merasa gerah dan gerakan Munir sebagai aktivis hak asasi manusia.

Kala itu, Munir terus bersuara atas penculikan 13 aktivis tahun 1997-1998 yang diyakini dilakukan oleh tim Mawar, yakni tim satuan khusus dalam tubuh kopassus yang diketuai Muchidi. Alhasil posisi Muchidi sebagai Danjen Kopassus dipersoalkan.

Keberadaan Muchidi dalam sengkarut kasus Munir memang bukan hal baru. Muchdi bahkan sudah diseret oleh aparat penegak hukum ke Meja Hijau pada tahun 2008.

Sayangnya, Muchidi diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Putusan ini bertolak belakang dengan tuntutan jaksa yang menghendaki mantan Deputi V Badan Intelijen Negara itu divonis 15 tahun penjara atas kasus tersebut.

Majelis hakim yang dipimpin Suharto menyatakan terdakwa tak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir. Hakim menilai Muchdi tak memiliki motif untuk membunuh Munir.

Bahkan, percakapan telepon antara Pollycarpus Budihari Priyanto dan Muchdi yang telah terungkap di persidangan tidak bisa menjadi bukti.

Perjalanan kasus kematian Munir sebenarnya telah menyeret beberapa terdakwa, termasuk Muchdi Purwoprandjono. Namun, majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonisnya bebas.

Sebelum kasus pembunuhan Munir, Muchdi menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD dan Deputi V bidang penggalangan Badan Intelijen Negara (BIN).

Pada Kamis (21/8/2008), Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) mulai mengadili terdakwa Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Purwopranjono.

Persidangan dimulai pukul 10.00 di Ruang Garuda PN Jaksel, yang dimulai dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum.

Peran Muchdi PR dalam pembunuhan Munir, menurut dakwaan jaksa, adalah menyuruh melakukan pembunuhan terhadap Munir.
Pasal yang dikenakan terhadap Muchdi adalah Pasal 340 juncto 55 ayat 1 kesatu UU KUHP dengan ancaman maksimal hukuman seumur hidup.

Menurut dakwaan Jaksa, motif Muchdi menyuruh Pollycarpus membunuh Munir karena dendam terhadap Munir yang menyelidiki penculikan aktivis pada tahun 1997-1998 oleh Tim Mawar Kopassus.

Aktivitas Munir itu berujung pada pembebastugasan Muchdi dari jabatannya sebagai Komandan Jenderal Kopassus. Namun, Muchdi membantah ia dibebastugaskan akibat peristiwa penculikan oleh Tim Mawar.

18 tahun terpendam, Kasus Kematian Munir Diungkap

Hacker Bjorka mengklaim bahwa dia berhasil meretas sejumlah data rahasia, mulai dari surat rahasia Presiden hingga Badan Intelijen Negara (BIN).

Setelah sebelumnya mengklaim telah membocorkan data SIM Card, kini sebanyak 679.180 surat dan dokumen rahasia Presiden RI telah dibocorkan hacker Bjorka. Bahkan kini, hacker Bjorka mengklaim telah membongkar sosok dalang di balik pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.

Bjorka bahkan mengklaim orang tersebut adalah Muchdi Purwopranjono dan dia kembali melakukan doxing.

Delapan belas tahun berlalu sejak 7 September 2004, ketika Munir menjadi korban pembunuhan di dalam pesawat, hingga kini kasus tersebut masih belum menemukan titik terang. Kasus pria yang semasa hidupnya menjadi pejuang HAM di Indonesia itu bahkan hampir terlupakan.

Mengutip dari Tribunnews wiki, Munir Said Thalib adalah pria Malang yang lahir pada 8 Desember 1965. Ayahnya meninggal ketika dia duduk di bangku kelas 6 SD, sehingga Munir membantu kakaknya, Muhfid Said Thalib, berjualan sepatu dan sandal di Pasar Batu, Malang, Jawa Timur.

Setelah menyelesaikan SMA, dia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, dan menjadi seorang aktivis semasa kuliah.

Pengalamannya saat kuliah inilah yang mendorongnya menjadi pembela Hak Asasi Manusia (HAM), dan ini pulalah yang membawanya pada akhir hidupnya.

Berikut ini beberapa fakta mengenai pembunuhan Munir.

  1. Dibunuh dalam perjalanan belajar

Munir meninggal di dalam pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-974. Tepat pada tanggal 7 September 2004, di usianya yang ke-39.

Munir meninggal dalam perjalanan menuju Amsterdam, Belanda, setelah sebelumnya pesawat transit di Bandara Changi, Singapura. Tujuan perjalanannya adalah melanjutkan studinya di Universitas Utrecht. Munir kemudian dimakamkan pada 12 September 2004 di TPU Sisir, Batu, Malang, Jawa Timur.

  1. Munir diracun

Mengutip dari Kompas.com, hasil autopsi terhadap jenazah Munir menunjukkan adanya racun arsenik dalam jasadnya dengan dosis yang sangat fatal.

Dalam persidangan yang digelar kemudian, disebutkan bahwa kemungkinan Munir diracun dalam penerbangan Jakarta-Singapura, saat transit, karena dia merasakan sakit pada perutnya usai transit. Munir akhirnya tewas dua jam sebelum pesawat mendarat di Amsterdam.

  1. Pihak yang terjerat hukum

Ada tiga orang yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Munir. Disebutkan Pollycarpus Budihari Priyanto, yang pada saat kejadian menjadi pilot pesawat dituduh sebagai pelaku pembunuhan, dengan tuduhan telah memasukkan racun arsenik pada tubuh Munir. Dia divonis penjara 14 tahun, namun dibebaskan pada 28 November 2014 lalu.

Lalu, mantan Dirut Garuda Indonesia Indra Setiawan, dihukum 1 tahun penjara karena didakwa telah menempatkan Pollycarpus dalam penerbangan itu.

  1. Terlibatnya BIN

Selama persidangan kasus itu, terungkap fakta adanya keterlibatan BIN, maka Deputi V BIN Mayjen Purn Muchi Purwoprandoyo, didakwa terlibat dalam kasus pembunuhan Munir tersebut. Dia didakwa telah menempatkan Pollycarpus, tetapi dia tidak dihukum, karena dakwaannya itu tidak dapat dibuktikan.

  1. Adanya kejanggalan

Banyak ditemukan kejanggalan dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir ini. Antara lain, Pollycarpus ternyata pada saat itu menjadi pilot sementara dia sedang masa cuti, tetapi Indra Setiawan memberikan surat tugas kepadanya.

Munir menerima telepon dari seseorang bernama Pollycarpus, tiga hari sebelum pemberangkatannya, yang memastikan bahwa Munir akan naik penerbangan GA 974.

Indra Setiawan mengaku mendapat perintah dari BIN, namun dia membantah terlibat dalam konspirasi pembunuhan aktivis HAM tersebut.

Dalam persidangan kemudian terungkap adanya rekaman telepon antara Muchdi dengan Pollycarpus, tetapi rekaman itu tidak pernah dibawa ke pengadilan.

Sempat dibentuk tim pencari fakta kasus pembunuhan Munir untuk mencari kebenaran dari kasus ini pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tetapi hingga akhir masa pemerintahan SBY, bahkan hingga sekarang, hasil investigasi tersebut tidak pernah ditunjukkan pada publik.

Pada 10 Oktober 2016, Komisi Informasi Pusat pun membuat keputusan agar pemerintahan Presiden Joko Widodo ini mengumumkan hasil investigasi, meski hingga dibawa ke Mahkamah Agung pada tahun 2017, masih tetap terkesan ditutup-tutupi.

Jadilah, hingga kini otak dari pembunuhan Munir masih juga belum diketahui.

[]

You May Also Like