Batu Menyerupai Manusia yang Bersimpuh dan Memegang Pisau di TMBSK Bukittinggi

ARASYNEWS.COM – Jika Anda berkunjung ke Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMBSK) atau Kebun Binatang di Bukittinggi, akan menjumpai sebuah batu yang berukuran 50 centimeter.

Batu ini terdapat dalam sebuah kaca yang berada di museum Rumah Adat Baanjuang di kawasan TMBSK.

Ada banyak peninggalan di museum ini, akan tetapi ada satu yang menarik, yakni sebuah batu yang berwarna keabu-abuan.

Batu ini terlihat seperti manusia kecil yang bersimpuh. Ia seperti menggenggam sebilah pisau.

Batu ini disebut-sebut sebagai pengganti dari sebuah mumi di zaman kolonial. Batu ini dinamakan Kati Muno.

Awalnya, tak ada yang mengetahui tentang batu ini, tapi telah lama tersimpan di dalam museum.

Petugas yang berada di museum menjelaskan, awalnya ada pengunjung yang datang dan menanyakan keberadaan batu Kati Muno, sekira tahun 2004. Mereka adalah pasutri yang mengaku dari Sungai Tanang kabupaten Agam.

Mereka menceritakan tentang kisah batu tersebut, yang pada suatu masa hiduplah seorang pria bernama Kati. Pria ini sakti karena punya ilmu hitam, tapi Muno (bodoh) sehingga disebut Kati Muno.

Suatu ketika, Kati Muno sakit dan meninggal di rumahnya. Karena kesaktiannya, mayatnya dianggap bertuah.

Pemerintah Kolonial Belanda, tentunya atas seizin keluarga Kati, memutuskan membalsem mayatnya agar dijadikan mumi. Dan kemudian membawa pergi mayat Kati dari rumahnya. Tetapi tidak diketahui entah dibawa kemana.

Tak lama kemudian, secara tiba-tiba, muncul sebuah batu setinggi 50 centimeter yang tak diketahui asal-usulnya di rumahnya itu.

Setelah sekian lama bersemayam di rumah, mendadak batu itu lenyap dan tak ada yang mengetahui penyebabnya. Akhirnya, kisah batu pengganti mumi itu pun hilang ditelan masa.

Sekian sekian lama waktu berlalu, suatu ketika, di Bukittinggi dibangunlah kolam di depan Museum Rumah Gadang Baanjuang TMSBK.

Pekerja yang menggali kolam itu menemukan sebongkah batu aneh seperti relief manusia yang bersimpuh seperti menggenggam pisau.

Karena bentuknya aneh, otoritas setempat menyimpan batu dalam museum dan dibiarkan dipajang di sana tanpa diketahui ihwalnya.

Pengunjung itu telah lama mencari batu tersebut dan kemudian berpesan agar batu tersebut dijaga.

Batu ini, konon katanya bisa mendatangkan hujan. Jika batu ini ditandu dan dimandikan di sungai, lalu diletakkan di tempatnya semula, lantas hujan akan turun.

Terlepas benar atau tidaknya kisah batu Kati Muno, tentu batu ini merupakan suatu kearifan yang mesti dijaga. []

You May Also Like