Asal Mula Tradisi Aghi Ghayo Onam di Kampar


ARASYNEWS.COM – Tradisi Aghi Ghayo Onam atau hari raya enam atau Lebaran Enam di Kabupaten Kampar adalah tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun setiap tanggal 8 Syawal. Tradisi ini terus dilakukan masyarakat sejak dahulu dan terus dilestarikan hingga saat ini.

Tidak diketahui kapan awal mulanya tradisi ini dimulai di kabupaten Kampar. Hanya saja tradisi ini menjadi momentum silaturahmi bagi warga perantauan dengan keluarganya di kampung halaman

Dikutip dari berbagai sumber, tradisi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengembalikan nilai-nilai positif masyarakat Bangkinang sebagai panutan bagi generasi muda yaitu bersilaturrahmi.

Disamping itu, juga ada serangkaian acara seperti ziarah kubur, iring-iringan, dan makan bajambau.

Ziarah kubur dan makan bajambau menjadi kebiasaan turun-temurun dengan kesadaran sendiri. Masyarakat berbondong-bondong secara serentak setelah shalat Subuh berjamaah dan kemudian berjalan kaki berziarah sampai sebelum shalat Zuhur ke makam secara bergilir dari satu desa ke desa lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan makan bajambau setelah shalat Zuhur berjamaah di masjid-masjid.

Berbeda dari yang lain, Hari Raya Enam justru lebih meriah dilakukan oleh masyarakat Bangkinang di banding Hari Raya Idul Fitri. Karena tradisi ini merupakan hari raya paling sakral bagi warga Bangkinang dan sekitarnya.

Tradisi ini tidak sekadar berasal dari sebuah ritual keagamaan, tetapi juga mengandung unsur budaya dan sejarah yang kaya. Dikatakan bahwa tradisi Lebaran Enam ini berakar dari peristiwa penting dalam sejarah Islam, terkait dengan peristiwa yang dikenal sebagai “Hijrah.”

Hijrah sendiri merupakan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dari kota Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Peristiwa ini tidak hanya mencerminkan sebuah perpindahan fisik, tetapi juga melambangkan perubahan besar dalam kehidupan umat Islam serta semangat untuk memperjuangkan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.

Di Kabupaten Kampar, tradisi Lebaran Enam menjadi momen untuk merenungkan makna hijrah tersebut, serta sebagai wujud syukur dan penghormatan terhadap peristiwa bersejarah tersebut.

Masyarakat setempat mengisi tradisi ini dengan berbagai kegiatan yang melibatkan komunitas, termasuk berdoa bersama, berkumpul dengan keluarga, dan berbagi dengan sesama.

Ada beberapa nilai yang timbul dari tradisi ini, diantaranya menciptakan spiritualitas, menenangkan hati dan pikiran, solidaritas, kebersamaan, mempertahankan nilai-nilai keagamaan, budaya, dan kemanusiaan

Pada waktu dahulu, bahkan juga diselipkan berbagai permainan rakyat seperti panjat batang pinang, pacu goni, makan kerupuk, tarik tambang dan seterusnya. Namun kemudian ditambah dengan hiburan musik band yang mengumpulkan orang banyak. Akibatnya terjadilah pencampuran antara laki-laki dan perempuan.

Sedangkan tradisi ziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan mendoakan orang-orang terdahulu. []

You May Also Like