ARASYNEWS.com — Sejumlah kelompok aktivis 1998 kembali bersuara setelah melihat kondisi yang terjadi di negara republik Indonesia saat ini. Bahkan juga melayangkan ultimatum politik kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pada Jum’at (30/10/2026), Aktivis gerak 1998 ini mengeluarkan
Maklumat Matraman di Jakarta. Para aktivis mendesak pemerintah saat ini agar menjalankan agenda reformasi serta mengevaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Dan jika tidak, maka terancam didesak mundur atau dipercepat pemilunya jika gagal memenuhi tuntutan para aktivis.
Para aktivis disebut-sebut juga berencana akan turun ke lapangan yang diagendakan pada 10 November 2026 yang bertepatan dengan peringatan hari pahlawan.
Adapun aktivis 98 yang tergabung diantaranya: IKA 98, GERAK 98, 98 Garis Lucu. Mereka yang hadir sejumlah tokoh aktivis 98 dan perwakilan mahasiswa hadir sebagai pembicara, di antaranya Mixilmina Munir, Edysa Girsang, Bambang Sri Pujo, Aceng Ahmad Nasir, Dendy SE dari GMNI Jakarta, serta M. Rizky Pratama, Ketua BEM KM Institut STIAMI, dan dimoderatori oleh aktivis 98 Garis Lucu, Ignatius Indro.
Pertemuan dan pembahasan ini dilaksanakan di Restoran Handayani Prima, Jakarta. Diskusi bertajuk “Pemuda Kritisi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”.
Forum yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi gerakan masyarakat sipil terhadap perjalanan reformasi dan arah pemerintahan setelah dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Dalam maklumat tersebut, para aktivis mendesak pemerintah segera menjalankan agenda-agenda Reformasi 1998. Mereka menyatakan akan mendorong percepatan Pemilu atau mendesak Presiden dan Wakil Presiden mundur apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Maklumat Matraman dibacakan oleh Edysa Girsang dalam penutupan Forum Diskusi 98 Menggugat bertajuk “Pemuda Kritisi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta, Jum’at (30/10/2026).
Aktivis Gerak 98, Mixilmina Munir, mengingatkan bahwa perjuangan memperbaiki bangsa tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada elite politik.
“Jangan sampai perjuangan untuk memperbaiki bangsa ini justru kita serahkan kepada elite politik. Perubahan Indonesia harus tetap menjadi perjuangan rakyat, bukan hanya menjadi urusan mereka yang sedang memegang kekuasaan,” kata Mixilmina Munir.
“Semangat Reformasi 1998 harus terus dijaga dan tidak berhenti hanya karena terjadi pergantian pemerintahan.
Sementara itu, Bambang Sri Pujo menilai masyarakat perlu membangun kekuatannya sendiri untuk mendorong perubahan dan tidak terus bergantung pada pemerintah.
“Masyarakat sekarang sudah tidak bisa berharap kepada pemerintah untuk memperbaiki bangsa ini. Karena itu, rakyat harus mulai membangun kekuatannya sendiri dan tidak boleh terus-menerus menunggu perubahan datang dari atas,” ujar Bambang.
Sementara itu, Aceng Ahmad Nasir berharap gerakan mahasiswa saat ini dapat berkembang menjadi kekuatan perubahan yang lebih terorganisasi.
“Saya berharap gerakan mahasiswa yang dilakukan saat ini terus berkembang. Jangan berhenti hanya pada demonstrasi atau aksi-aksi sesaat, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan revolusioner yang mampu mendorong perubahan bangsa,” kata Aceng Ahmad Nasir.
Peserta dalam forum juga membahas sejumlah persoalan, mulai dari prioritas APBN, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP), pendidikan, demokrasi, kebebasan sipil, krisis ekologi, dan pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga pada penangkapan aktivis pro demokrasi yang marak terjadi dalam 2 tahun ini dan larangan bersuara.
Para aktivis menilai keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya anggaran maupun banyaknya program pemerintah. Menurut mereka, pembangunan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mendorong pemerataan kesejahteraan, serta menjunjung transparansi dan perlindungan demokrasi.
Melalui Forum 98 Menggugat, para aktivis menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara dalam menjaga arah perjalanan bangsa.
Semangat Sumpah Pemuda 1928 dan Reformasi 1998 terus menjadi semangat bagi generasi muda untuk memperjuangkan Indonesia yang adil, demokratis, dan berdaulat.
Maklumat Matraman
Dalam maklumat matraman yang dicetuskan, pemerintah harus menjalankan agenda-agenda reformasi. Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, para aktivis akan mendesakkan percepatan Pemilu atau meminta Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya.
Semangat Reformasi 1998 harus terus hidup dan tidak boleh berhenti hanya karena telah terjadi pergantian pemerintahan.
Gerakan mahasiswa yang dilakukan saat ini harus terus menggema. Jangan berhenti hanya pada demonstrasi atau aksi-aksi sesaat, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan revolusioner yang mampu mendorong perubahan bangsa.
Mahasiswa harus kembali mengambil peran historis sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berani mengoreksi jalannya kekuasaan.
Penetapan maklumat Matraman ini sekaligus menjadi peringatan bahwa perjuangan Reformasi 1998 belum selesai dan masyarakat sipil tidak boleh membiarkan agenda perubahan bangsa berhenti di tengah jalan.
Juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk penolakan terhadap Indonesia, melainkan bagian dari tanggung jawab warga negara untuk menjaga arah perjalanan bangsa.
[]
doc-sc: strategiid