ARASYNEWS.COM, KUNTU, KAMPAR – Viralnya video singkat berdurasi 29 derik yang memperlihatkan tiga orang bocah Sekolah Dasar (SD) menaiki keranjang sawit untuk menyeberangi sungai di wilayah Desa Kuntu Darussalam Kecamatan Kampar Kiri mengundang rasa prihatin yang mendalam bagi Bupati Catur Sugeng Susanto.
Ia menjadi sedih, dalam video singkat tersebut, pengguna akun memberikan keterangan, bahwa kondisi itu harus dialami oleh tiga bocah tersebut dan para siswa lain yang hendak menuntut ilmu.
Berbagai komentar dari netizen bahkan menghukum pemerintah tidak mempedulikan fasilitas pendidikan di wilayah Kabupaten Kampar.
Mendengar informasi adanya kondisi siswa yang harus menaiki keranjang sawit untuk menyeberangi sungai demi mendapatkan pendidikan di daerahnya, Bupati Kabupaten Kampar, Catur Sugeng Susanto, langsung turun ke lokasi untuk melihat kondisi ril rakyatnya tersebut.
Catur merasa, tidak mungkin kondisi seperti yang digambarkan oleh para netizen dan media itu terjadi di wilayahnya, karena di masa kepemimpinannya, persoalan pendidikan dan kesehatan merupakan persoalan prioritas yang diperhatikannya.
Saat dijumpai di lokasi tempat viralnya aksi 3 pelajar SD 011 Desa Kuntu Darussalam Kecamatan Kampar Kiri (Derni Zebua, Marfin, dan Jenira) tersebut, Bupati Kabupaten Kampar, Catur Sugeng Susanto kepada wartawan mengatakan, bahwa dirinya terkejut dengan adanya berita yang sempat viral tersebut.
“Saya baru mengetahui berita itu tadi malam, makanya setelah subuh tadi saya langsung ke sini bersama OPD terkait, untuk melihat kondisi ril yang ada di lapangan,” ungkap Catur Sugeng, Jum’at (11/6) kepada wartawan.
“Saat mendengar informasi tersebut, saya yakin berita itu tidak seperti gambaran yang diviralkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Maka dari itu, kita langsung turun ke lapangan,” kata Catur Sugeng.
“Setelah kita lihat kondisi ril, diketahui bahwa anak-anak tersebut merupakan siswa SD 011 Kuntu Darussalam. Keranjang yang mereka jadikan tempat bersenggayut tersebut bukanlah fasiltas untuk mereka menyeberang sungai ketika hendak pergi sekokah setiap harinya, tetapi keranjang yang dilengkapi dengan katrol dan tali sling tersebut adalah sarana yang dimanfaatkan pengusaha perkebunan untuk melansir hasil panen buah sawitnya,” kata Bupati Catur Sugeng.

Di lokasi, Bupati Kampar didampingi Kepala Bappeda Kampar, Ir. Azwan, M.Si Kadis PUPR Kampar, Afdal, ST.MT, Ninik mamak, kades Kuntu Darussalam dan Kades kuntu Turoba, serta turut diundang tiga pelajar SD 011 Desa Kuntu Darussalam bersama orang tua dan guru yang membimbingnya setiap hari.
Catur Sugeng juga langsung meninjau jembatan Sungai Sinantan yang dibangun oleh Pemerintah Kabupatan Kampar untuk masyarakat Kuntu.
Sementara itu, pemangku adat dan Kholipah Kenegerian Kuntu, Harizal kepada wartawan mengatakan, bahwa lokasi tempat tiga pelajar viral tersebut bukanlah lokasi pemukiman warga masyarakat. Lokasi tersebut adalah pondok penjaga dan pekerja perkebunan pengusaha dari Medan.
Tiga bocah itu adalah anak pekerja kebun. Pekerja kebun itu juga merupakan pekerja yang tidak tetap. Mereka hanya bekerja kadang kala sekitar 3 bulan atau lebih. Adakalanya pengusahanya yang memberhentikan atau pekerja itu berhenti sendiri.
Dikatakan Harizal, pekerja itu bukanlah masyarakat asli tempatan Kuntu Turoba atau Kuntu Darussalam.
Sementara itu, Kades Kuntu Turoba, Asril kepada wartawan mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten Kampar sudah membangun fasilitas jalan dan jembatan untuk sarana transportasi masyarakat.
Hal yang sama juga disampaikan Kades Kuntu Darussalam, Maldanis. Ia mengatakan di sekitar juga ada jembatan Sungai Sinantan. Jembatan ini telah dibangun Pemda Kampar pada tahun 2010. Dan setiap harinya dimanfaatkan oleh masyarakat.
Menanggapi berita bocah yang viral tersebut, Maldanis mengatakan, memang jika para pelajar tersebut melewati jembatan yang dibangun oleh Pemerintah ini ke sekolah, maka jaraknya memang agak jauh daripada bocah tersebut melewati jalan pintas yang biasa mereka lewat. []