ARASYNEWS.com — Gunung yang berada di perairan selat Sunda, yakni Anak Gunung Krakatau masih memberi ancaman yang hingga saat sekarang ini, baik bagi masyarakat di sekitar, di Pulau Jawa dan Sumatera, bahkan Indonesia. Pengamatan masih terus dilakukan untuk mengantisipasi dini dampak yang ditimbulkan, mulai dari erupsi, abu vulkanik gempa, dan bahkan letusan.
Melihat kilas balik tentang Krakatau pada tahun 1883, saat itu tepatnya pada 27 Agustus 1883, selat Sunda berubah memerah dan berdebu. Hawa panas terasa bagi masyarakat. Getaran gempa pun dirasakan.
Semua itu berasal dari Gunung Krakatau yang meledak dengan kekuatan yang begitu dahsyat. Letusan dan getarannya mengguncang wilayah luas dan terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya.

Langit seketika tertutup dan menghitam. Abu dan material vulkanik membumbung tinggi hingga ke atmosfer. Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Selat Sunda panik, ditambah lagi tanah berguncang dan air laut mulai menunjukkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, Tsunami.
Gelombang raksasa menerjang pesisir Jawa dan Sumatera. Permukiman, kapal, dan apa pun yang berada di jalurnya tersapu dalam hitungan menit.
Bukan hanya itu saja, ledakan-ledakan besar dan suara menggelegar terdengar keras. Sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan hancur ke dalam laut, meninggalkan kaldera besar di tengah Selat Sunda.
Suasana siang itu berubah gelap seperti malam hari akibat langit tertutup abu vulkanik.
Dalam catatan sejarah, sekitar lebih dari 36.000 orang tewas, sebagian besar akibat tersapu tsunami, gempa yang meruntuhkan bangunan, yang itu semua dipicu oleh letusan.

Setelah itu, disebutkan Krakatau mati. Akan tetapi ternyata tidak. Tidak seperti gunung-gunung api lainnya di Sumatera dan Jawa. Krakatau tidak benar-benar mati. Puluhan tahun kemudian, dari kawasan kaldera itu muncul sebuah gunung baru. Yang dikenal dengan nama Anak Krakatau.
Gunung yang terlihat ini berdiri di tengah Selat Sunda. Muncul dari permukaan air. Warisan sekaligus ancaman bagi manusia.
Diketahui, jauh sebelum adanya gunung Krakatau yang kini sudah mati, sekitar 500-an sebelum tahun 1883, gunung Krakatau purba juga pernah meletus dahsyat. Dan abu vulkaniknya juga menutupi hampir sebagian dari Bumi.
[]