ARASYNEWS.com — Untuk diketahui bersama, setiap dua kali dalam setahun, matahari berada tepat di atas Ka’bah, sehingga bayangan benda di permukaan Bumi dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat secara akurat tanpa petunjuk arah kompas maupun aplikasi.
Fenomena astronomi ini dikenal sebagai kulminasi agung Ka’bah.
Peristiwa terjadi ketika Matahari melintas tepat di atas kota Makkah saat bergerak menuju dan kembali dari titik balik utara.
Karena posisi Matahari sejajar dengan Ka’bah, maka seluruh bayangan benda tegak di wilayah yang masih mendapat sinar Matahari akan mengarah berlawanan dengan arah Ka’bah.
Momen inilah yang bisa dimanfaatkan dimanfaatkan untuk meluruskan arah kiblat untuk wilayah Indonesia.
Dikutip dari astronomi, pada 27 Mei 2026, atau pada 10 Dzulhijjah 1447H, arah kiblat yang akurat dapat ditentukan menggunakan fenomena Rashdul Qiblah (Matahari tepat di atas Ka’bah) pada pukul 16.18 WIB. Pada waktu ini, bayangan dari benda tegak lurus yang terkena sinar matahari akan mengarah tepat ke arah Ka’bah
Untuk diketahui, kulminasi agung Ka’bah terjadi pada 27 atau 28 Mei pukul 16.18 WIB / 17.18 WITA
Cara Menentukan Arah Kiblat
-Pastikan tanggal dan jam sesuai.
-Gunakan jam yang akurat, misalnya melalui jam bmkg
-Siapkan benda tegak lurus seperti tongkat panjang atau bandul, seperti penggaris panjang atau tongkat. Dan pastikan benda tersebut bisa berdiri tegak lurus
-Cari Lokasi: Pilih area terbuka atau lantai yang benar-benar datar dan rata.
-Posisikan benda atau letakkan tongkat/penggaris berdiri tegak lurus di permukaan datar tersebut.
-Amati arah bayangan tepat saat kulminasi berlangsung. Tandai bayangan, tepat pada pukul 16.18 WIB, amati bayangan yang dihasilkan.
-Tarik Garis: Tarik garis lurus dari ujung bayangan ke arah dasar tongkat. Garis lurus tersebut adalah arah kiblat Anda.
-Arah menuju Matahari adalah arah Ka’bah.
Fenomena ini memiliki toleransi waktu beberapa hari (26 hingga 28 Mei) pada jam yang sama. Anda juga bisa memanfaatkan situs seperti Qibla Finder atau Google Maps untuk pengecekan alternatif melalui ponsel.
Metode ini menggunakan prinsip astronomi posisi Matahari. Saat Matahari tepat di atas Ka’bah, garis arah sinar Matahari secara geometris terhubung langsung dengan Ka’bah sehingga bayangan benda menjadi referensi alami arah kiblat.
Sebagai catatan, Wilayah Indonesia bagian timur (WIT) umumnya tidak dapat menggunakan metode ini karena Matahari sudah terbenam saat kulminasi berlangsung.
Sebagai alternatif dapat digunakan metode antipode Ka’bah. Fenomena ini menunjukkan bahwa astronomi sejak dahulu berperan penting dalam penentuan arah kiblat, waktu salat, hingga penanggalan Islam.
[]