ARASYNEWS.COM – Dalam memeriahkan hari raya Idul Fitri, diberbagai daerah menyelenggarakan kegiatan kebersamaan. Selain itu acara yang dibuat juga dalam menyambut para perantau yang pulang mudik ke daerah asal.
Salah satunya adalah di Nagari Malintang, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Tradisi yang dibuat masyarakat adalah Alek Bakajang.
Alek Bakajang bertujuan untuk mengenang atau mengingat asal usul nenek moyang masyarakat Nagari Gunung Malintang, yang mana nenek moyang masyarakat Gunung Malintang telah berjasa membangun Nagari mereka.
Selain sebagai hiburan, juga bertujuan untuk pemersatu, kebersamaan dan ajang silaturrahmi. Dan dalam tradisi ini melibatkan niniak mamak, pemuda, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.
Diketahui, pada zaman dahulu, tradisi ini tradisi ini hanya hiburan setelah panen. Tapi seiring waktu, tradisi ini menjadi budaya dan tradisi yang memiliki nilai estetika dan seni. Kajang dimodernisasi menjadi kapal pesiar.
Dalam pelaksanaannya, Kajang (sampan yang dihias) dilombakan antar Jorong. Selain itu, juga ada perlombaan panjat pinang, pacu sampan.
Tradisi kebanggaan masyarakat Gunuang Malintang Kecamatan Pangkalan yang dinamakan Bakajang ini pernah meraih juara 1 kategori Atraksi Budaya Terbaik Nasional Anugerah Pariwisata Indonesia (API) tahun 2021. Ajang bergengsi ini diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Alek Bakajang ini juga telah menjadi event wisata budaya daerah dan juga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBtbI) tahun 2022
Masyarakat Nagari Gunung Malintang menyebutnya dengan bakajang yang berarti berlayar menggunakan perahu Kajang,
Kajang yang dibuat adalah dari daun-daun yang menyerupai daun pandan yang sudah di keringkan terlebih dahulu dan dirakit dengan rotan sehingga menjadi selembar atap yang digunakan oleh nenek moyang zaman dahulu untuk terhindar dari panas dan hujan, sehingga perahu yang diberi atap Kajang dinamakan perahu kajang.
Namun pada saat ini daun-daun yang digunakan untuk membuat atap Kajang tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi.
Kajang yang sekarang ini sudah dimoderenisasi oleh masyarakat berupa kapal pesiar dan dijadikan sebagai event wisata budaya daerah setiap tahunnya
Dari sejarah terdahulu, pada zaman dahulu, sungai menjadi tempat transportasi antar daerah dan suku. Dan kajang menjadi alat transportasinya. Kajang berasal dari bahasa terdahulu berarti sampan yang digunakan sebagai alat transportasi untuk jalang manjalang mengarungi dan melintasi Sungai Batang Maek untuk bersilaturahmi pada saat hari raya Idul Fitri.
Pada tahun ini, Alek Bakajang kembali akan digelar di lokasi yang sama diselenggarakan pada 3-7 April 2025.
Bagi Anda yang penasaran dengan kemeriahan Alek Bakajang, Anda bisa menyaksikan langsung di Sungai Batang Maek, Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, sekitar 15 km dari simpang Pangkalan jalan lintas Riau-Sumbar.
[]