ARASYNEWS.COM – Pulau Sumatra dahulu pernah dikenal dengan nama Svarnadwipa (bahasa Sanskerta pulau Emas) yang diduga sebagai Ophir atau Gunung Emas.
Catatan mengenai Ophir ini bermula dari seorang penyair kebangsaan Portugis yang bernama Luiz de Camoens (1524-1580) dalam puisinya Os Lusiadas.
Sumber tersebut didapat dari kabar informasi yang dibawa oleh pelaut-pelaut Arab yang datang ke Asia yang salah satunya adalah pulau Sumatera.
Pada tahun 1662, akhirnya Belanda melalui VOC berhasil menduduki salah satu desa di wilayah pesisir barat pulau Sumatera, tepatnya di Desa Salido (saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Pesisir Selatan provinsi Sumatera Barat).
VOC di Desa Salido Ketek datang untuk keperluan berdagang di pantai barat Sumatera. Kemudian perlahan-lahan, VOC membangun infrastruktur berupa benteng di Pulau Cingkuk sebagai penunjang kegiatan dagangnya dan benteng pertahanan di Sumatera Barat.
Di bawah pimpinan Commandeur Jacob Joriszoon Pits (1557- 1678), VOC mengeksplorasi pertambangan emas di Desa Salido Ketek. Heeren XVII mengirim dua geologisnya untuk meneliti kandungan emas di wilayah tersebut.
Selanjutnya, VOC mendatangkan tenaga kerja paksa yang dibawa dari Madagaskar, beserta para tawanan perang dari daerah sekitar itu untuk mengeksploitasi kandungan emas pada tahun 1669.

Pada tahun 1928, Tambang Salido akhirnya ditutup, disebabkan oleh keborosan dan terjadinya kekacauan administrasi.
Hingga kini, bekas kegiatan-kegiatan penambangan masih terlihat di Desa Salido Ketek dan menjadi salah tujuan wisata para pengunjung.
Tambang Salido atau Tambang Gunung Arum merupakan salah satu tambang emas tertua di Indonesia yang terletak di Desa Salido Ketek, Nagari Tambang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Di Desa Salido Ketek ini pernah beroperasi sebuah pertambangan emas yang dikelola oleh VOC atau Belanda selama lebih kurang 150 tahun.
Di daerah tersebut juga ditemukan bangunan berupa 300 anak tangga yang menuju perbukitan dan terowongan sepanjang 300 meter peninggalan Belanda.

Kondisi saat ini
Salido Ketek kini adalah sebuah kampung kecil, sekitar 10 km dari Kota Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Desa ini menyimpan berbagai macam peninggalan sejarah seperti pembangkit listrik tenaga air yang di bangun oleh Belanda dan jenjang anak tangga yang jumlahnya sekitar 300 buah anak tangga.

Di bagian hulunya, terdapat terowongan air yang panjangnya kira-kira 500 meter yang di atasnya terdapat jembatan air, yaitu sebuah jembatan yang dibuat untuk menyalurkan air di atas sebuah lembah di perbukitan Salido.
Objek wisata Tambang Emas Salido berjarak 2 Kilo meter dari Pusat kota Painan dan Tambang Emas Gunuang Harun (Harta Karun) di Nagari Salido Sari Bulan Kecamatan IV jurai Kabupaten Pesisir selatan,
Tempat ini menjadi salah satu ikon Wisata Sejarah (pertambangan logam mulia Bekas zaman kolonial belanda dan jepang) dan budaya Tradisional dan Asing.
Objek wisata Tambang Emas salido Gunuang Emas (Gunuang Arun) telah dikembangan menjadi wisata utama, budaya dan sejarah.
Kondisi bekas tambang ini masih berdiri kokoh dengan sejumlah gudang logistic dan kendaraan militer yang masih ada didalamnya juga rel-rel kereta tambang bawah tanah berikut dengan keretanya yang mulai lapuk karena dimakan usia.
[]
Referensi
– Sejarah Tambang Emas di Indonesia
– Tambang Tua di Indonesia