ARASYNEWS.COM – Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam menyikapi kemenangan, diantaranya yang utama adalah melakukan sujud syukur.
Disisi lain, ada juga yang melakukan dengan hajatan makan bersama sembari mengundang orang banyak dan anak yatim dan fakir miskin.
Bahkan ada juga yang dengan berpesta dan mabuk-mabukan.
Dalam Al-Qur’an, kemenangan disebut al-fath yang berasal dari kata fataha yang berarti membuka. Jadi, al-fath berarti keterbukaan segala kebaikan.
Pemenang adalah orang yang oleh Allah SWT dibukakan pintu-pintu kebaikan baginya, baik berupa harta banyak, kedudukan tinggi, kesehatan, kesempatan yang luas, pengikut yang banyak, maupun anak, suami, dan istri yang sholeh dan sholeha.
Bagi seorang muslim yang beriman, yang lazimnya menyikapinya adalah dengan mengucapkan hamdalah (alhamdulillahi robbil alamin) sebagai bagian dari rasa syukur.
Ucapan ini sangat dianjurkan oleh Allah yang disampaikan dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari tahadduts bi nikmah (menceritakan nikmat), sebagaimana firman-Nya,
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Adapun dengan nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menceritakannya” (QS adh-Dhuha [93]: 11).
Berkebalikan dari itu, mensyukuri nikmat Allah ini, ada yang melakukannya dengan sifat ujub, riya’, takabur, dan bahkan menghina atau mengolok-olok mereka yang dikalahkan.
Ujub adalah perasaan terpesona dengan kehebatan diri sendiri. Kemenangan dianggapnya hasil ilmu dan usahanya sendiri tanpa keterlibatan Allah SWT seperti yang terjadi pada Qarun pada zaman dahulu. Ia ketika dianugrahi harta banyak, ia berkata:
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ ….
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku” (QS al-Qashshash [28]: 78).
Untuk riya adalah perasaan ingin dilihat, disanjung, atau dipuji karena merasa kemenangan yang diperoleh hasil dirinya sendiri.
Sedangkan takabbur sikap menolak keterlibatan Allah dalam kemenangan dan merendahkan orang lain karena kemenangan.
Dan tentang mengolok olok yang lain, dalam Al-Qur’an menggolongkan perbuatan mengejek orang lain atau mengolok-olok kekurangan mereka, sama dengan perbuatan fasik. Mengejek orang lain dalam pandangan Islam tertera dalam firman Allah SWT surah Al-Hujurat (49) ayat 11 yang bunyinya,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim
Sifat-sifat tersebut, jika tidak diwaspadai akan merusak sikap dan rasa syukur. Oleh karena itu, menurut Al-Qur’an, ketika kita mendapat kemenangan tidak cukup mengucapkan hamdalah, tapi juga harus disertai tasbih dan istghfar.
Allah berfirman dalam Qur’an Surah an-Nashr [110]: 1-3, yang artinya:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat’”.
Tasbih merupakan upaya mensucikan Allah dari anggapan tidak terlibat dengan kemenangan. Allah Maha Meliputi segala sesuatu sehingga mustahil tidak terlibat dalam kemenangan kita.
Sedangkan iistighfar memohon pengampunan dari dosa ujub, riya, takabbur, dan mengolok-olok yang timbul dalam diri pada perasaan kemenangan.
Jadi, jika kita dianugerahi Allah kekayaaan banyak, kedudukan tinggi, kesehatan paripurna, kesempatan yang luas, pengikut yang banyak, anak, suami, dan istri yang saleh dan salehah, tidak cukup hanya disikapi dengan mengucapkan hamdalah (memuji Allah), tapi mesti disertai juga dengan tasbih (mensucikan Allah) dan istighfar (meminta ampun kepadaNya). “Subhaanakallahumma wa bihamdika allahummagh firli” (Maha Suci Engkau Ya, Allah. Dengan memuji Engkau, Ya, Allah ampuni aku).
Semoga, kita semua masuk dalam golongan umat yang bersyukur kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam
[]