ARASYNEWS.COM – Saat in, “Homeless Media” atau media tanpa rumah semakin banyak bermunculan di berbagai jejaring media. Dan ini membawa dampak yang signifikan dalam penyebaran informasi di masyarakat.
Fenomena ini tidak menutup kemungkinan agar homeless media turut serta membahas isu-isu lingkungan.
Tentang banyak munculnya homeless media ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru, melalui ketuanya Eko Faizin, mengatakan akun-akun media sosial ini sangat berpengaruh pada berbagai hal di publik
Ia mengatakan, ada dampak positif dari sumber informasi baru ini, akan tetapi resikonya adalah akun-akun medsos ini tidak dilindungi oleh Undang-Undang Pers. Dan ini, dikatakan Eko, perlu menjadi perhatian serius.
ia menjelaskan, dalam konteks jurnalisme, “Homeless Media” merujuk pada praktik media yang membangun bisnisnya di platform media sosial seperti Youtube, Facebook, TikTok dan Instagram.
Media-media ini tidak bergantung pada situs web tradisional, melainkan mengeksplorasi kreativitas dan daya tarik untuk menjangkau masyarakat.
“Kami menyoroti fenomena Homeless Media ini karena kami melihat potensi besarnya dalam ikut mendukung pembahasan dan mengangkat berbagai isu terkait lingkungan di Indonesia,” kata Eko Faizin, Senin (18/12/2023), dalam diskusi resmi yang digelar.
Salah seorang tamu yang hadir, Michiko Frizdew, Duta Lingkungan Pekanbaru 2015 sebagai salah seorang pemantik diskusi, mengatakan, peran vital media sosial dalam membawa peristiwa lingkungan ke perhatian publik.
Dikatakannya, banyak peristiwa lingkungan yang hanya menjadi perhatian setelah menjadi viral di media sosial.
“Transformasi penggunaan media tradisional ke media sosial mendorong masyarakat lebih mudah larut dalam informasi viral, ini dapat menjadi peluang dalam memberikan rujukan informasi yang lebih cepat dan mudah diakses,” ungkapnya.
Melihat minimnya akun media sosial yang khusus membahas isu lingkungan di Indonesia, dirinya mengajak agar media sosial dapat memberikan dampak positif terhadap kesadaran lingkungan di Tanah Air.
“Media sosial bukan hanya tren, tetapi sebuah kekuatan yang harus dimanfaatkan untuk mengatasi krisis lingkungan yang sedang kita alami,” kata Michiko.
“Salah satunya, adalah Pekanbaru Hijau. Ini bisa menjadi inisiatif mengadvokasi pada isu lingkungan, menunjukkan bahwa media, suka atau tidak, harus ikut mengambil peran,” kata dia.
“Pembicaraan tentang lingkungan harus diamplifikasi, dan isu ini harus mendapatkan porsi dan sorotan yang lebih besar,” lanjut Michiko.

Diskusi ini diikuti sejumlah akun media sosial, konten kreator dan influencer yang ada di Pekanbaru dan Kuantan Singingi. Ada sebanyak 22 peserta yang merupakan pengelola akun-akun media sosial yang hadir.
Adapun program AJI Pekanbaru dalam sharing homeless media di isu lingkungan ini juga dilengkapi dengan program fellowship kepada pengelola akun, sehingga diharapkan berbagai konten isu lingkungan menarik dapat lahir dan mendorong kesadaran masyarakat Indonesia, akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan demi masa depan.
Diketahui, sebelum sharing bersama Homeless Media, AJI Pekanbaru juga menggelar Workshop dengan jurnalis muda di tiga provinsi yakni Riau, Jambi dan Sumatera Barat pada 15-16 Desember lalu. [Rls]