ARASYNEWS.COM – Kondisi pasca kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dekat kawasan Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) menyebabkan sekitar 60 hektar yang terbakar. Hal ini disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) Heru Sutmantoro, S.Hut, M.M.
Kepala Balai mengatakan kebakaran ini terjadi pada Jum’at hingga Sabtu (1-2 Juli 2022). Dan proses pemadaman dilakukan Brigdalkar Balai TNTN dan dibantu Daops Rengat Balai PPI, BPBD Pelalawan, Polri/TNI, PT RAPP, dan masyarakat.
“Lokasi kebakaran di titik koordinat 0 10’27” S; 101 55’48” E Resot Lancang Kuning Seksi PTN Wilayah 1, Kawasan TNTN masuk dalam Grid E20. Kita mengerahkan 8 orang Brigdalkar Balai TNTN,” kata Heru, Senin (4/7/2022).

“Tim mendapat laporan terjadinya kebakaran di Kenayang grid E20 pada jam 13.40 WIB. Tim langsung bergerak ke lokasi pada saat itu juga,” diceritakan Heru.
“Tim melakukan pengecekan dan menemukan lahan terbakar. Kemudian langsung melakukan pemadaman manual tapi tidak efektif dikarenakan api sangat besar. Kemudian tim memutuskan untuk melakukan pemadaman dengan mesin. Tim melakukan pemadaman hingga pukul 18:00 WIB dan dibantu personel lainnya,” lanjut keterangannya.
Kemudian, dikatakan Kepala Balai, pada pukul 18:30 tim Brigdalkarhut TNTN, babinkamtibmas, PT RAPP dan masyarakat menghentikan kegiatan karena kepala api sudah jauh dan tidak terjangkau oleh selang yang dibawa yakni 20 unit.
Dan tim memutuskan untuk melanjutkan kegiatan pemadaman besok harinya pada Sabtu, 2 Juli 2022.

“Pada hari kedua, balai TNTN melakukan koordinasi dengan Balai PPI Sumatera untuk permohonan bantuan Water Boombing, dan disetujui untuk menurunkan 2 unit helikopter WB (URA dan Super purna). Dan pada pukul 08.30 pagi, dilakukan persiapan dan proses pemadaman di lokasi sekitar jam 10.00 WIB. Pemadaman sebanyak 8 kali,” terangnya.
“Hingga saat ini, Minggu dan Senin, Tim Darat masih melakukan Mop Up, penanganan api yang tersisa,” katanya.
“Dari hasil pengamatan, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 60 hektar. Hasil vestigasi yang terbakar merupakan semak belukar.
“Jadi, butuh waktu lama proses pemadaman karena sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran. Tapi kini sudah teratasi semua,” tukasnya.
Heru juga mengatakan untuk penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan Balai Gakkum Pekanbaru. Dan dampak akibat kebakaran ini tidak ada bagi satwa seperti gajah karena lokasi yang terbakar cukup jauh dari habitat gajah. []