Masjid Raya Bingkudu Berusia 200 Tahun, Masih Mempertahankan Ciri Khas Minangkabau dan Terbuat dari Kayu

ARASYNEWS.COM – Masjid Raya Bingkudu tercatat sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, yang didirikan oleh kaum Paderi setelah Perang Paderi di Sumatera Barat pada tahun 1823.

Pembangunan Masjid Bingkudu diprakarsai oleh tokoh masyarakat dari tujuh nagari, yakni Canduang, Koto Laweh, Lasi Tuo, Lasi Mudo, Pasanehan, Bukik, dan Batabuah, atas prakarsa Haji Salam, Lareh Canduang yang bergelar inyiak basa (haji Salam).

Masjid dengan arsitektur khas gaya Minangkabau ini terletak di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang, Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Letaknya berada di bawah kaki gunung Marapi pada ketinggian 1.050 mdpl.

Masjid ini dibangun di atas lahan seluas 60 x 60 meter persegi, dengan luas bangunan 21 x 21 meter dengan tinggi 37,5 meter.

Ketinggian bangunan dari bawah ke atas (atap) sekitar 19 meter. Bangunannya terbuat dari kayu, dan rangka atap tiga lantai terbuat dari ijuk. Sama seperti Rumah Gadang (sebuah bangunan tempat tinggal tradisional Minangkabau), bangunan masjid ini memiliki sangkar 1,5 meter di bawah tanah.

Hampir semua material yang dipergunakan untuk membuat masjid ini terdiri dari kayu, seperti lantai, dinding, maupun tiang-tiangnya.

Tiang Macu (tiang besar di tengah ruangan) masjid ini diambil dari Bayuah Kenagarian Tanjuang Alam, Kabupaten Tanah Datar. Tiang dibawa dengan cara digotong secara estafet oleh masyarakat melalui Koto Tinggi sampai di Masjid Bingkudu.

Jalur pengangkutan tiang masjid inilah yang menjadi pembuka jalan (hubungan) antara Batusangkar dengan Baso (Kabupaten Agam), sampai kini.

Atap masjid ini pun unik, dari awal berundak tiga, terbuat dari susunan ijuk. Bangunan ini saat didirikan menggunakan sistem pasak. Artinya, tidak satu pun dari komponen penyusun masjid ini yang dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan paku.

Selain itu, pada bagian depan ruang utama atau pada Mihrab terdapat mimbar tua yang tahun pembuatannya dapat dirujuk dari tulisan angka 1316 Hijriah (sekitar tahun 1906 Masehi) pada bagian mahkota mimbar, yang diduga tahun pembuatan mihrab.

Mimbar berbentuk huruf “L” tersebut terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan tangga naik dan tangga turun yang sengaja dibuat terpisah.

Pada tangga naik dibuat menghadap ke depan, sedangkan tangga turun mengarah ke samping. Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.

Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara dengan ketinggian 30 meter, dengan tangga naik berbentuk spiral.

Seperti kebanyakan masjid yang ada, di atas menara ini dahulu terdapat Cenang (Gong) Besar yang dibunyikan setiap datang waktu salat. Menara ini juga digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara.

Kemudian di dekat jalan ke arah menara terdapat sebuah Tabuah (beduk) Besar yang dibunyikan setiap sebelum azan.

Di bagian luar masjid tampak tiga kolam ikan, serta satu kolam besar untuk berwudu. Dahulu, air kolam yang digunakan untuk berwudu ini dialirkan dengan bambu sepanjang 175 meter dari mata air yang diambil dari tanah milik Datuak Tan Tuah dari suku Selayan di Lurah.

Dikutip dari Wikipedia, masjid ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Agam dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar sebagai cagar budaya pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1991, masjid ini mendapat pemugaran secara menyeluruh karena banyak ditemukan kayu-kayu yang sudah dimakan usia.

Meskipun mendapat pemugaran, struktur aslinya masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Ciri arsitektur masjid mudah dikenali, terutama berupa atap yang terdiri dari tiga lapis dengan cekungan kecil.

Sebelumnya, atap masjid diganti dengan seng pada tahun 1957 karena ijuk yang sebagai bahan dasar pada atapnya sudah banyak ditemukan lapuk.

Pemugaran masjid sendiri pada tahun 1989 dilakukan oleh Proyek Pelestarian dan Pemanfaatan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat dengan fokus pada atap, langit-langit, jendela, dan menara.

Tak ketinggalan juga dengan pemugaran makam, tempat wudhu, mimbar, mihrab, kolam, dan pemasangan penangkal petir pada minaret, penataan lingkungan, dan pembangunan gerbang.

Dari sejak pertama didirikan, masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah, pendidikan menyiarkan ajaran agama Islam, dan pertemuan para pemuka agama. []

You May Also Like