ARASYNEWS.COM – Gunung api Marapi yang memiliki ketinggian 2.891 mdpl yang berada di provinsi Sumatera Barat telah dinyatakan berstatus level II (waspada) sejak Agustus 2011 lalu oleh PVMBG. Dan diimbau agar masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung atau wisatawan tidak diperbolehkan mendaki pada radius 3 Km dari kawah atau puncak.
Akan tetapi, jalur pendakian terlihat masih dibuka pada dua pintu akses masuk Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Marapi.
Dan terkait hal ini, pihak pengelola TWA Gunung Marapi yakni Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengakui telah mengetahui adanya status level II Gunung Marapi sejak erupsi 2011 lalu.
Pihak BKSDA mengakui, sejak erupsi 2011 lalu, jalur pendakian memang tidak dibuka, namun karena banyaknya animo masyarakat terkait wisata khusus pendakian, BKSDA Sumbar membuka kembali jalur pendakian pada Juli 2023.

“Memang sejak erupsi 2011, gunung Marapi dinyatakan level II (waspada). Sejak itu tidak pernah ada status naik level ataupun turun level dari Gunung Marapi,” kata Plh Kepala BKSDA Sumbar, Dian Indriati, Selasa (5/12/2023).
Untuk pembukaan kembali jalur pendakian, pihaknya telah melakukan konsultasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung. Dan dari konsultasi itu, memang seluruh gunung berapi yang ada di Indonesia berstatus level II (waspada).
Status ini bukan hanya pada Gunung Marapi, tetapi juga pada Gunung Rinjani, Kerinci dan Bromo. Akan tetapi, dikatakan Dian, sama seperti gunung lainnya, jalur pendakian tetap dibuka, dan salah satunya pada TWA Gunung Marapi.
“Dari situ kita juga membuka jalur pendakian di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Marapi,” ujar Dian.
Selian itu, dikatakan Dian, dibukanya jalur pendakian TWA Gunung Marapi karena animo masyarakat yang besar. Dan maka dari itu, pihaknya melakukan koordinasi dengan pemda setempat, dinas pariwisata, BPBD, dan stakeholder yang terkait.
“Untuk membuka kembali jalur pendakian ini kita juga undang wali nagari dan kita adakan rapat disitu. Kita mengambil keputusan untuk membuka kembali pendakian Gunung Marapi,” ungkapnya.
Adapun pembukaan jalur pendakian, telah dilakukan sejak Juli 2023 dan sempat ditutup sementara saat bulan Agustus 2023.
Pembukaan kembali jalur pendakian saat itu sekaligus melaunching sistem booking online. Dan dalam sistem tersebut ada batasan-batasan dan aturan-aturan yang harus ditaati para calon pendaki.
“Jadi 24 Juli 2023 kita buka, reaktivasi Gunung Marapi tersebut, sekaligus launching booking online. Dari situ kita juga melihat bahwa tidak hanya masalah membuka saja, memberikan kesempatan terhadap animo masyarakat yang besar tetapi kita juga berkoordinasi dengan nagari nagari di sekitarnya, dilibatkan juga pemerintah kabupaten setempat,” ujarnya.
Dian menjelaskan, sejak saat itu, jalur pendakian resmi yang dibuka hanya tiga pintu, yakni Aia Angek, Koto Baru dan Batu Palano.
“Ada banyak akses masuk kawasan TWA Gunung Marapi, tetapi hanya tiga pintu yang resmi yang dibuka. Dan ini dilakukan sebagai minat wisata TWA,” kata dia.
Lebih lanjut, ia mengatakan terkait dampak dan bukanya jalur pendakian TWA Gunung Marapi saat berstatus level II, bahwa ini menjadi tanggungjawab bersama, karena memang saat sebelum dibukanya kembali jalur pendakian di TWA Gunung Marapi, pihaknya sudah melakukan rapat dan koordinasi dengan stakeholder terkait, termasuk, dengan BMKG, dinas pariwisata, dan PVMBG. Dan dari rapat itu, disampaikan, bahwa level II (waspada) adalah itu level memang diberikan kepada setiap gunung berapi. Artinya di gunung berapi lainpun berstatus yang sama, seperti, Rinjani, Bromo dan Kerinci, dan mereka tetap membuka jalur pendakian.
“Maka dari itu kita membuka ini tetap dengan menggunakan mitigasi dan adaptasi bencana,” katanya.
Untuk di lapangan, bentuk mitigasi dan adaptasi bencana yang diterapkan di TWA Gunung Marapi, Dian mengatakan, pihaknya telah memasang rambu-rambu pendakian, kemudian pihaknya juga meminta dan menyusun SOP yang harus diikuti setiap pengunjung.
Selain itu juga ditetapkan hanya boleh dilakukan pada pagi hingga sore hari.
“Jadi sebetulnya kalau sesuai dengan SOP, pendakian itu dilakukan pada pukul 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB, sudah harus dibawah. Artinya apa, berarti mereka (pendaki) sebetulnya harus turun sekitar jam 12.00 WIB atau jam 13.00 WIB, sehingga jam 16.00 WIB sudah ada di bawah. Itu sudah SOP kita. Artinya kita membuka tetapi dengan tetap mitigasi dan adaptasi bencana. Kemudian kita juga menetapkan minimal 3 orang per kelompok dan tidak boleh sendiri saat pendakian,” terangnya.
“Dengan adanya booking online ini, pihaknya bisa membatasi pengunjung atau pendaki, dimana setiap harinya hanya boleh 100 orang di hari biasa dan 150 orang di hari libur. Jadi kita tetap membuka tapi dengan mitigasi dan adaptasi bencana, itu sebagai bentuk bahwa kita tidak los begitu saja ya, maksudnya, kalau kita buka dan tidak buka pun, orang minat khusus, animo masyarakat bukan hanya dari Sumbar, tapi dari luar Sumbar, Riau terutama itu ya, banyak naik keatas,” terangnya.
Tentang musibah yang didapatkan para pendaki saat ini, Dian mengatakan, hal ini bukan hanya kelalaian para pendaki, ini karena SOP sudah diterapkan, dimana ketika mereka melakukan pendaftaran melalui booking online, di sana sudah dijelaskan SOP yang diberlakukan selama pendakian.
“SOP di sistem online pendakian kita adalah pendakian hanya dilakukan dari pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Artinya apa, artinya itu setelah jam 16.00 WIB itu sudah harus dibawah. Dari situ kita bisa melihat apa sebetulnya yang harus dilakukan oleh para pendaki. Kalau saya mau menyalahkan nanti, atau mereka melanggar gitu kan, tidak etis. Karena memang sudah ada korban jiwa, nanti jadi berbeda lagi persepsinya kan,” terangnya.
Terakhir Dian mengatakan, kenapa pihaknya menekankan SOP yang begitu ketat ini, karena pihaknya sadar, Gunung Marapi yang berstatus level II, dimana suatu saat bisa saja terjadi erupsi. Apalagi gunung berapi ini, kemarin itu tidak memberikan tanda tanda khusus tertentu. Karena petugasnya di lapangan, saat ditanyakan tidak ada tanda tanda khusus atau apa, hanya kemudian terjadi saja erupsi.
“Nah ini harus berhati hati bersama sama, makanya diterapkan SOP yang sedemikan ketat untuk para pendaki dengan maksud dan tujuan untuk menghindari kondisi yang terjadi Minggu kemarin,” imbuhnya.
“Sebetulnya kita sudah antisipasi dengan SOP itu. Yang jelas untuk booking online kita nyatakan tutup sampai dengan waktu yang belum ditentukan. Dan tentunya kita akan melakukan evaluasi lebih lanjut dengan beberapa stakeholder yang ada mengenai keberlanjutan booking online ini. Karena booking online ini sebetulnya bukan hanya masalah animo masyarakat yang besar kepada Gunung Marapi, wisata khusus ini, tapi itu juga kita pikirkan lebih kepada meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan untuk panduan wisata,” jelasnya.
“Nanti kita evaluasi, tentunya akan kita lihat besar kecilnya, untung ruginya terhadap banyak orang. Jadi evaluasi pasti akan kita lakukan terhadap dibukanya kembali atau reaktivasi dari pendakian Gunung Marapi,” pungkas Plh Kepala BKSDA Sumbar, Dian Indriati. []