Puluhan Goa di Kawasan Huta Rimba Si Kafir di Rokan Hulu

ARASYNEWS.COM – Berjarak sekitar lima kilometer dari kota Pasir Pangaraian Kabupaten Rokan Hulu, provinsi Riau terdapat satu hutan yang rimbun dengan pepohonan dan akar kayu. Di antaranya ada aneka jenis pohon dengan nilai ekonomis tinggi, seperti kulim, rotan, kunyit, kuras, gambir, baharu, dan kayu putih. Belum lagi satwa liar yang masih bisa hidup bebas di daerah ini seperti badak, beruang, berbagai jenis burung dan juga monyet.

Lokasinya berada di Desa Pawan, kecamatan Rambah. Hutan ini dikenal dengan nama Huta Rimba Si Kafir. Lokasinya dekat dengan objek wisata pemandian air panas Pawan.

Sepintas kelihatan hutan ini bernuansa angker. Tetapi jangan khawatir, karena hutannya tidaklah angker.

Hutan ini yang menjadi daya tariknya, terdapat sekitar 41 goa berukuran besar dan kecil. Rata-rata goa di sini mempunyai nama sesuai dengan bentuk dan kondisi goa.

Beberapa diantaranya telah diberi nama, antara lain: Goa Mata Dewa, Goa Pelangi, Goa Lepong, Goa Kulam, Goa Penjara Bawah Tanah, Goa Batu Bergantung, Goa Batu Bulan, Goa Gasing, Gua Lorong Tupai, Goa Lorong Marmut, Goa Kelinci, dan Goa Lorong Tembus.

Kawasan ini sendiri mulai ramai didatangi masyarakat sejak 2001 lalu dan ditetapkan sebagai kawasan wisata oleh Pemerintah Kabupaten Rohul pada 2003.

Di gerbang masuk, pengunjung akan disambut perbukitan mendaki berbentuk tangga menuju atas bukit dan menyuguhkan pemandangan alam hijau dan alami.

Bagi yang ingin masuk ke kawasan ini, akan dikenakan biaya Rp3.000 untuk dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak. Dengan menambah Rp50 ribu, para travelers akan ditemani seorang pemandu yang siap mengajak berkeliling di kawasan hutan seluas 6,5 hektare ini yang memakan waktu sekitar setengah hari perjalanan.

Huta Rimba Si Kafir sendiri, berasal dari bahasa Mandailing artinya rumah dan hutan. Sedangkan “Si Kafir” diambil dari sebutan seorang raja berdarah Tapanuli bernama Porkas. Menurut legendanya, Porkas mendirikan kerajaan di daerah yang diberi nama Pasir Pangaraian, yang sekarang sebagai ibukota Kabupaten Rohul.

Kata masyarakat setempat, dahulunya kerajaan ini dikaruniai harta berlimpah berupa emas. Karena daerahnya memang kaya akan emas dari butiran pasir. Maka diberi nama Pasir Pangaraian, dalam bahasa Mandailing berarti mendulang pasir emas.

Sang raja yang sangat zalim, memerintahkan semua rakyatnya mendulang emas dan membayar upeti untuknya. Bagi yang tidak menuruti, akan dipenjara atau dihukum gantung. Rakyat yang teraniaya dan tidak mampu lagi menahan penderitaan akhirnya memohon kepada Tuhan agar dapat terbebas dari kekejaman raja dan pengikutnya.

Tampaknya Tuhan mengabulkan do’a mereka. Akhirnya, datanglah badai dan hujan turun sangat lebatnya hingga mengakibatkan banjir besar. Air bah pun akhirnya menenggelamkan kerajaan milik Porkas dan ia bersama pengikutnya melarikan diri ke hutan rimba.

Ringkas cerita, sebuah batu besar di Rimba Huta Si Kafir dipercaya adalah sisa kapal raja yang ikut tenggelam. Tapi kisah ini hanyalah sebagai cerita rakyat asal Kabupaten Rohul.

Hingga sekarang, kawasan Huta Rimba si Kafir masih terasa nyaman dan teduh. Pohon alam berukuran raksasa juga masih berdiri dengan kokoh di sejumlah titik kawasan ini.

Goa-goa dengan hawa dingin dan lumut hijau alami juga masih dengan mudah bisa kita lihat di sepanjang perjalanan di kawasan ini. Beberapa batu ukuran raksasa dan berbentuk kapal juga terdapat di tengah area hutan. Perbukitan terjal, penurunan dan tanaman merambat menambah kesan betapa kayanya alam akan hutan alam.

Ist

Goa Si Kafir

Salah satu goa yang terkenal adalah Goa si Kafir. Goa ini dapat dijadikan tempat penelitian, mengingat disana banyak pohon dan batu yang masih alami. Selain itu, Goa si kafir juga menjadi objek wisata alam yang belum tentu dimiliki oleh tempat lain

Awal kisah tentang Goa si kafir adalah sebagai tempat pelarian dari seorang raja yang diusir oleh kerajaan ayahnya di Sumatera Utara. Adapun raja tersebut diusir dari kerajaan karena raja tersebut tidak mematuhi perintah ayahnya untuk tidak menikahi seorang gadis dari luar daerah. Adapun nama dari raja tersebut adalah sibolkas. Setelah melarikan diri dari Sumatera Utara, Sibolkas menemukan sebuah tempat dan mendirikan kerajaan disana. Ditempat tersebut, raja mengutus masyarakatnya untuk menambang emas.

Namun sayangnya, raja tersebut tidak menempati janjinya untuk memberikan bayaran yang tinggi bagi masyarakat. masyarakatpun mengutuk kerajaan tersebut sehingga hancurlah kerajaan itu. Maka daripada itu masyarakat pun menamakan goa tersebut dengan Julukan Rimba Goa Si kafir. Yaitu, Goa ditengah hutan yang dihuni oleh raja yang kafir.

Hingga kini, kondisi goa si kafir masih terlihat alami tak tersentuh tangan manusia. Bentuk alami goa terlihat dari jamur dan bebatuan yang berdiri megah diantaranya.

Menuju Goa si Kafir, para pengunjung harus mendaki bukit yang bisa ditempuh oleh sepeda motor ataupun mobil. Namun, untuk sampai ke lokasi, para pengunjung harus berjalan kaki lebih kurang 200 meter dipuncak bukit.

Setelah sampai, para pengunjung akan disambut hangat dengan penampakan Goa Si mata dewa yang terlihat menyeramkan. Goa simata dewa terlihat seperti dua mata tengkorak yang gelap di kedua sisi dan dipisahkan oleh dinding Goa yang terletak di antaranya.

Goa lainnya yang juga terkenal dikawasan ini adalah Goa simata dewa, Goa Basah, Goa pelangi dan Goa kelelawar yang dihuni oleh ribuan kelelawar didalamnya.

Selain itu, goa landak, goa ini seperti lobang sarang landak, goa tupai seperti parit yang panjang tidak terlalu sempit.

Goa Mata Dewa dan Goa Lepong, serta Goa Kulam. Goa-goa ini cukup membuat anda lelah berpetualang didalamnya bersama pemandu yang telah siap melayani jasa pramuwisata di Huta Si Kafir. []

You May Also Like