ARASYNEWS.COM, PEKANBARU – Malam Pergantian tahun kerap dilakukan masyarakat dengan euforia yang berlebihan, seperti minum-minuman keras, pesta kembang api, hingga berbuat maksiat.
Euforia perayaan pesta dengan berbagai aktivitas lainnya seringkali menjadi simbol dari menyambut tahun baru.
Pergantian tahun bagi segelintir orang memiliki makna yang lebih mendalam. Dan apa yang dilakukan dalam momen ini tentunya dilarang agama Islam.
Masyarakat diingatkan untuk menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan yang bisa terjadi selama perayaan malam tahun baru. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekanbaru, Prof Akbarizan.
Atas apa yang kerap dan akan dilakukan ini, ia menegaskan pentingnya menjaga moralitas dan menghindari kegiatan negatif seperti minuman keras, perjudian, pesta seks dan lainnya yang berpotensi melanggar ajaran agama.
Dikatakannya, perilaku tersebut dilarang keras sebab dapat membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan masyarakat.
“Jangan sampai kita terjebak dalam kesenangan yang berlebihan, apalagi melakukan hal-hal yang tidak diridhoi Allah,” kata Ketua MUI.
Selain itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berbahaya seperti konvoi kendaraan, kebut-kebutan, dan balap liar di jalan raya. Hal itu tentunya membahayakan diri sendiri dan orang lain.
“Jangan jadikan malam pergantian tahun sebagai momen yang merugikan diri sendiri dan orang lain,” kata dia.
Melakukan muhasabah
Ketua MUI mengatakan agar momen ini diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti merenung dan melakukan muhasabah diri.
Masyarakat, kata dia, dalam momen ini agar dapat merenung ata apa yang telah dicapai sebelumnya dan memperbaiki kekurangan untuk menjadi pribadi lebih baik di tahun mendatang.
“Pergantian tahun seharusnya menjadi momen muhasabah diri. Mari kita renungkan apa saja yang sudah kita lakukan selama setahun ini. Apa sudahkah kita menjadi hamba yang taat dan bermanfaat bagi orang lain,” saran dia.
Momen pergantian tahun ini, kata dia, juga dapat dilakukan dengan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga dan kerabat.
“Kumpul bersama keluarga dan sahabat itu baik, tapi jadikan pertemuan tersebut untuk mempererat ukhuwah islamiyah. Lakukan dengan mengisi hal-hal yang positif tidak melanggar norma agama,” terangnya.
“Silaturahmi itu penting, apalagi jika sudah lama tidak bertemu. Manfaatkan momen ini untuk saling berbagi kebaikan,” pungkas ketua MUI. []