ARASYNEWS.COM – Rumah yang terletak di Jalan Fatmawati Nomor 10 Bengkulu adalah rumah tinggal Ibu Fatmawati Soekarno. Dalam rumah ini terdapat banyak kenangan dan bersejarah.
Ada banyak koleksi benda-benda bersejarah yang tersusun rapi dan hampir semuanya asli tidak ada duplikat terkecuali surat-surat dan beberapa dokumen yang di copy.
Terdapat juga lemari, ranjang besi yang masih berselimut kelambu warna putih, meja rias, kursi dan lain sebagainya. Terpampang juga foto kenangan dan lukisan Ibu Fatmawati dari kecil, remaja dan tuanya.
Di rumah ini juga terlihat foto-foto kenangan antara bapak presiden pertama Ir. Soekarno dengan Ibu Fatmawati dengan jelas karena di kota inilah pertemuan dan cinta antara Ibu Fatmawati dan Bapak Soekarno muncul, hingga akhirnya mereka menikah pada tanggal 1 Juni 1943 dan menghasilkan lima orang anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh
Ibu Fatmawati, nama asli beliau adalah Fatimah lahir di Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923 dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah, Hasan Din adalah Tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Ibu Fatmawati meninggal tanggal 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Di rumah ini terdapat satu benda bersejarah yang pernah dipergunakan Fatmawati untuk menjahit bendera merah putih, bendera kebangsaan Indonesia, yaitu bendera merah putih yang dikibarkan ketika pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang berlangsung pada tahun 1945 silam.
Benda sakral milik bangsa ini adalah milik Ibu Negara pertama, Ibu Fatmawati Soekarno. Terletak di dalam sebuah ruangan.
Mesin jahit itu merek Singer keluaran tahun 1941. Dipajang di Museum Rumah Fatmawati di Jalan Fatmawati, Penurunan Kota Bengkulu.
Mesin jahit bersejarah tersebut sangat sederhana karena hanya digerakkan dengan tangan tidak seperti mesin jahit yang ada saat ini.

Dikutip dari penjelasan Marwan Amalidin, saudara sepupu Fatmawati menuturkan, awalnya mesin jahit ini berada di kediaman Farmawati di Jakarta. Lalu setelah dibangun museum Rumah Fatmawati di Bengkulu sekitar tahun 1990, mesin jahit ini dipindahkan ke Bengkulu.
“Sampai sekarang kondisinya masih bagus. Masih terawat. Tetapi tidak digunakan lagi,” ujar Marwan Amalidin.
Menurut buku Ziarah Sejarah yang disusun Hamid Nabhan, Sang Saka Merah Putih dijahit Fatmawati tahun 1944. Bahan kainnya katun Jepang dengan ukuran 274 x 196 Cm.
Kemudian dari sumber lain disebutkan, butuh waktu dua hari bagi Fatmawati untuk menjahit bendera Merah Putih. Ketika itu, Fatmawati sedang hamil tua mengandung Guntur Soekarnoputra, dan dokter melarangnya mengoperasikan mesin jahit dengan menggunakan kaki.
Saat menjahit itu, suasana haru menyelimuti perasaan Fatmawati. Berulang kali dia meneteskan air mata di atas bendera yang sedang dijahit. Walaupun usia kandungan sudah mencapai bulannya, namun Fatmawati tetap memaksakan diri menyelesaikan jahitannya.
Akhirnya pengorbanan dan perasaan haru Fatmawati terbayar lunas. 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Saat itu hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera yang dijahit Fatmawati ini dikibarkan Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo dan SK Murti.
Bendera jahitan Fatmawati dikibarkan dalam rentang waktu tahun 1946 hingga 1968, atau selama 32 tahun, hanya saat 17 Agustus. Sejak tahun 1969, bendera Pusaka tersebut tidak dikibarkan lagi dan disimpan di Istana Negara.
Kembali pada mesin jahit yang digunakan Fatmawati. Mesin jahit merek Singer merupakan mesin tertua di dunia. Pertama kali dipatenkan tahun 1851 oleh Isaac Merritt Singer.
Sampai sekarang mesin-mesin jahit merek Singer masih dijual di Indonesia. Ada yang mempergunakan kaki dan ada yang mempergunakan mesin untuk operasionalnya. Harganya mulai dari satu juta hingga belasan juta rupiah. []