ARASYNEWS.COM – Permainan tradisional ini dulu melekat pada masyarakat dan kerap dimainkan dalam acara tertentu. Akan tetapi, kini sudah tidak lagi dimainkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang masih memainkannya.
Permainan tradisional ini pernah ada di Minangkabau dan Melayu. Benda yang digunakan adalah terbuat dari kayu stigi yang tumbuh di batu Kayu ini bertekstur keras dan cocok untuk dibuat gasing, namun kayu ini susah didapat. Selain itu, jenis kayu Asam juga biasa digunakan untuk membuat gasing karena mudah di dapat.
Jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat Gasing antara lain Menggeris, Pelawan, Kayu Besi, Leban, Mentigi, dan sejenisnya. Sedangkan di beberapa daerah lainnya Gasing terbuat dari bambu.
Dimainkan dengan cara melilitkan tali ke leher gasing, lalu ayunkan gasing tersebut ke arah tanah atau ke tempat arena dan lepaskan tali dengan cepat. Gasing akan berputar. Pada permainan ini biasa terdapat aturan bagi gasing yang mampu berputar paling lama maka itulah pemenangnya.
Sejumlah daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gasing. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal. Masyarakat Lampung menamainya pukang. Do Kalimantan Timur disebut begasing. Sedangkan di Maluku disebut Apiong dan di Nusa Tenggara Barat dinamai Maggasing.
Kerap dimainkan sekitar tahun 90-an. Dan dari cerita, pernah dimainkan orang untuk santet. Juga pernah dimainkan dalam tradisi tertentu. Gasing juga dapat digunakan sebagai sarana perlombaan, permainan, bahkan peramalan nasib.
Gasiang Tangkurak (Gasing Tengkorak) merupakan ilmu hitam jaman dahulu yang kabarnya digunakan untuk jampi-jampi atau guna-guna bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Gasiang Tangkurak berasal dari tengkorak manusia yang dibuat oleh si dukun sebagai media untuk menyerang targetnya.
Kengkorak kepala manusia ini nantinya diambil pada bagian jidat kemudian dilobangi dan dibuat seperti mainan gasing yang dikasih jalinan tali dari kain kafan, layaknya permainan gasing.
Dari cerita yang dirangkum, Gasiang Tangkurak ini awal kisahnya bermula dari seorang laki-laki yang ditolak oleh seorang perempuan, kemudian ia meminta kepada seorang dukun untuk melakukan jampi-jampi sebagai balas dendam kepada perempuan yang menolak cintanya.
Maka dilakukan ritualnya yakni Gasiang Tangkurak ini diputar oleh si dukun pada malam Jum’at di depan rumah si korban, atau di tempat yang tidak dilihat oleh orang lain. Kemudian kemenyan di bakar dan gasing tangkurak diputar sambil dibacakan mantra oleh si dukun.
Sembari memutar Gasing dari Tengkorak manusia itu, sang dukun menyebutkan nama korbannya. Selanjutnya, bekerjalah ritual ini secara ghaib agar orang yang dicintainya menjadi tunduk. Ada ritual khusus agar jampi-jampi Gasiang Tangkurak berjalan, biasanya sang dukun membacakan mantera sebagai ritual agar proses sang dukun berhasil.
Mantra ilmu gasiang tangkurak adalah: “Jika dia tidur tolong bangunkan, jika dia berdiri suruh berjalan, disini saya menantikan, tolong jemput dan bawa dia kesini, suruh dia sujud di kaki saya”.
Korban dari gasiang tangkurak ini pada umumnya adalah para wanita. Karena guna-guna ini dilakukan untuk membalas sakit hati akibat perbuatan yang menyinggung perasaan si laki-laki dari sikap dan ucapan si wanita. []