Masjid Berusia Lebih dari Satu Abad Ambruk Diterjang Banjir Bandang

ARASYNEWS.COM – Banjir bandang menyerang pemukiman penduduk, fasilitas umum, lahan pertanian, hingga memakan korban jiwa di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ada ratusan ribu bangunan yang rusak dan bahkan tidak lagi terlihat karena diseret air.

Salah satu yang terdampak adalah masjid Jamik Almabrur atau bangunan Tuha Cot Meurak Blang di Aceh. Masjid ini diketahui berusia telah lebih dari satu abad.

Bukan hanya itu saja, asrama Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah Cot Meurak juga roboh akibat longsor dan abrasi,

Adapun banjir bandang ini melanda wilayah Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang aliran air Sungai Krueng Batee Iliek yang meluap deras dan membawa material tanah lumpur dan kayu.

Bahkan juga sebuah meunasah yang berjarak tidak jauh dari masjid juga amblas ke aliran sungai hanya dalam beberapa jam.

Tgk Muhammad Hasan (67), tukang yang selama ini merawat dan turut membangun masjid itu, mengatakan tanda-tanda kerusakan mulai terlihat sejak dini hari ketika debit air meningkat drastis. Masjid itu ambruk secara bertahap pada kejadian sejak Rabu (26/11/2025) lalu pagi.

“Setelah dhuha, tanah di belakang masjid sudah mulai turun. Setelah asrama Dayah Najmul Hidayah runtuh, arus utama air terus mencari sasarannya dengan ganasnya. Retakan muncul di mana-mana. Sekitar jam sembilan, bagian barat masjid mulai goyang dan lantainya turun,” ujarnya.

“Dari jam tujuh sampai mendekati Magrib, satu per satu bagian masjid jatuh ke sungai. Begitu cepat. Suara runtuhan bangunan terdengar beberapa kali sepanjang hari. Sekarang yang tersisa hanya puing-puing yang terus hanyut,” diceritakannya.

Puncak masjid bahkan ditemukan terseret hingga sekitar 100 meter dari bangunan utama.

Masjid yang telah berdiri lebih dari satu abad itu selama ini menjadi pusat kegiatan ibadah dan pendidikan masyarakat. Banyak ulama pernah mengajar di sana, dan warga menganggapnya sebagai simbol sejarah serta warisan leluhur.

“Ini bukan sekadar bangunan. Ini sejarah, martabat, kenangan dari generasi ke generasi. Warga menyebutnya Masjid Tuha karena usianya sudah mencapai ratusan tahun,” tutur Tgk Muhammad Hasan.

Dikatakannya juga, tidak jauh dari masjid, sebuah meunasah yang menjadi tempat pengajian anak-anak dan musyawarah warga juga mengalami nasib serupa. Pengakuan warga, retakan kecil mulai terlihat sekitar pukul 09.00 WIB, namun arus yang semakin kuat membuat bangunan itu runtuh total menjelang sore hari akibat meningkatnya debit air sungai.

Diakuinya bahwa banjir kali ini jauh lebih besar daripada yang pernah terjadi sebelumnya.

Sungai dibelakang kawasan bangunan itu, yakni sungai Krueng Batee Iliek, seperti berubah jalur dan melebar, hampir seratus meter hilang terseret air, dan tanah juga masih labil.

[]

You May Also Like