Lubang-lubang yang Diibaratkan Dalam Al-Qur’an

ARASYNEWS.COM – Al-Qur’an menyebutkan beberapa “lubang” atau fenomena yang diinterpretasikan sebagai lubang. Adapun ini disebutkan berkaitan dengan lubang hitam (black hole).

Beberapa ayat itu adalah QS. At-Takwir: 15-16, mendeskripsikan bintang tersembunyi yang bergerak cepat dan menyapu. Lalu dalam QS. Al-Qasas: 81 tentang peristiwa runtuhnya tanah dan menelan rumah.

Juga ada dalam QS. Al-A’raf: 40 yang dikaitkan adalah “unta masuk dalam lubang jarum” sebagai gambaran penyusutan ekstrem atau pintu gerbang, bahkan ada yang mengaitkannya dengan wormhole.

  1. Lubang Hitam (Black Hole)
    QS. At-Takwir (81): 15-16:

فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلْخُنَّسِ
ٱلْجَوَارِ ٱلْكُنَّسِ

“Aku bersumpah demi bintang-bintang tersembunyi (al-khunnas), yang beredar bergerak cepat (al-jawari), yang menyapu (al-kunnas).”

  • Al-Khunnas: Tersembunyi/tidak terlihat, mirip sifat invisible lubang hitam.
  • Al-Jawari: Bergerak cepat, mirip kecepatan lubang hitam.
  • Al-Kunnas: Menyapu/menelan, mirip gravitasi kuat lubang hitam yang menelan materi dan cahaya.

Banyak penafsir dan ilmuan yang mengaitkan dan mendeskripsikan ini dengan fenomena alam tentang lubang hitam yang ada di angkasa luar pada benda-benda langit, yang tidak dapat terlihat namun memiliki daya hisap yang kuat.

Selain itu, ada juga yang menyebutkan tentang berkebalikan dari itu, yakni Lubang Putih (White Hole). Akan tetapi dalam beberapa diskusi modern bahwa ini dikaitkan dengan konsep penciptaan dan penuaan. Dan ini lebih mengarah kepada interpretasi filosofis sains dalam Islam.

  1. Lubang Jarum (Metafora)
    QS. Al-A’raf (7): 40:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَٱسْتَكْبَرُوا۟ عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلْجَمَلُ فِى سَمِّ ٱلْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”

Penggalan ayat ini: “…tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”

Pembahasan ini diumpamakan dengan menunjukkan ketidakmungkinan dan kesulitannya, sering diartikan sebagai pintu gerbang surga yang sangat sempit atau sebagai gambaran fisik yang ekstrem, bahkan ada yang mengaitkannya secara futuristik dengan konsep wormhole dalam sains.

  1. Lubang Runtuhan (Sinkhole)
    QS. Al-Qasas (28): 81:

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ

“Maka Kami timbun tanah di bawahnya beserta rumahnya. Ia tidak mempunyai teman yang dapat menyelamatkannya dari Allah, dan ia tidak dapat membela diri. Tiba-tiba tanah runtuh di bawahnya beserta rumahnya.”

Adapun ayat ini menggambarkan tentang kehancuran Qarun beserta rumahnya yang ditelan tanah, menyerupai fenomena alam tanah runtuh atau berlubang atau sinkhole yang tiba-tiba terjadi.

Ayat ini menjelaskan tentang azab Allah kepada Qarun yang sombong dalam kehidupannya di dunia. Dan akibatnya, Dia menenggelamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, sehingga tidak ada satu golongan pun yang dapat menolongnya dari azab Allah, dan ia sendiri tidak mampu membela dirinya.

Ayat ini menjadi pelajaran tentang bahaya kesombongan dan keangkuhan terhadap kekayaan duniawi, yang berujung pada kehancuran total.

Kandungan dalam ayat ini, diantaranya:

  • Azab atas Kesombongan: Ayat ini adalah balasan atas kesombongan dan keangkuhan Qarun yang merasa lebih tinggi dari hamba Allah lainnya.
  • Kehancuran Total: Qarun beserta seluruh kekayaan dan rumahnya ditelan bumi, menunjukkan kehancuran total akibat kesombongannya.
  • Tidak Ada Pertolongan: Di saat azab datang, tidak ada kekuatan lain (kelompok atau golongan) yang mampu menolongnya, bahkan ia sendiri tidak bisa membela diri.

Pelajaran bagi yang beriman dan bertakwa, bahwa ayat-ayat ini menjadi peringatan agar tidak tertipu oleh harta, kekayaan, pangkat, jabatan. Dan agar kita menjaga hati agar tetap rendah hati (tawadhu), dan tidak mengikuti jalan kesesatan di dunia untuk kepentingan sendiri dan menyengsarakan orang-orang.

[]

You May Also Like